UNTUK INDONESIA
Untuk Indonesia
Lidah Pedas Bahar Smith
'Jokowi, tunggu saya keluar!' lidah pedas Bahar Smith menyemburkan ancaman kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.
Denny Siregar penulis buku "Tuhan dalam Secangkir Kopi"

Oleh: Denny Siregar*

"Jokowi, tunggu saya keluar!!"

Begitu gertakan Bahar bin Smith di pengadilan. Bahar didakwa melakukan penganiayaan kepada dua orang remaja di pesantrennya. Remaja itu dihajar pakai dengkul, bahkan ada kepalanya yang ditaruh asbak.

Jelas apa yang dilakukan Bahar itu perbuatan kriminal. Tapi entah kenapa dia menyalahkan Jokowi atas perbuatan kriminalnya.

Model yang sama dilakukan Ahmad Dhani Prasetyo, pentolan Dewa 19, yang dipenjara karena melanggar UU ITE atas twitnya. Dhani dilaporkan oleh beberapa orang atas perbuatannya. Buni Yani, Jonru Ginting, Ratna Sarumpaet, Sugik Nur "si matamu picek" juga sama. Mereka menyalahkan Jokowi atau pemerintahan sekarang ini atas kasus yang mereka buat sendiri.

Kenapa mereka ramai-ramai menyalahkan Jokowi padahal mereka dipenjara karena perbuatan kriminal mereka sendiri?

Jadi dalam bayangan para kriminal yang rame-rame masuk penjara ini, mereka membayangkan sedang melawan sebuah rezim otoriter

Ada sebuah artikel yang menarik yang membahas tentang ini. Ternyata ini berkaitan dengan penyakit mental bernama Delusi.

Delusi adalah salah satu jenis gangguan mental serius yang dikenal dengan istilah psikosis. Psikosis ditandai dengan ketidaksinambungan antara pemikiran, imajinasi, dan emosi, dengan realitas yang sebenarnya. Orang yang mengalami delusi seringkali memiliki pengalaman yang jauh dari kenyataan.

Jadi dalam bayangan para kriminal yang rame-rame masuk penjara ini, mereka membayangkan sedang melawan sebuah rezim otoriter. Mereka merasa sebagai pahlawan dengan massa besar, siap untuk membuat sebuah revolusi.

Tapi kenyataan jauh berbeda.

Buni Yani contohnya. Dia sempat dinobatkan sebagai Pahlawan Islam karena dinilai berhasil membuat Ahok masuk penjara. Padahal Buni Yani cuman maen editan doang, tapi dia merasa menjadi Batman superhero di kota Gotham.

Sedihnya, saat dia masuk penjara tidak ada yang membelanya. Bahkan tidak ada gerakan massa besar seperti gerakan 411 dan 212 yang berjumlah ratusan juta orang untuk membebaskannya. Dia membusuk sendirian di penjara tanpa ada yang merasa kasihan.

Begitu juga Jonru Ginting yang malah sempat teriak-teriak kesetanan di pengadilan. Sekarang, orang ingat jenggotnya pun tidak. Ya, ngapain juga diingat, liatnya aja malesin. Ratna Sarumpaet malah dibuang dan tidak diakui. Tapi herannya dia masih setia merasa bahwa dia bagian dari oposisi.

Yang sedih Ahmad Dhani. Sudah jatuh miskin, masuk penjara pake acara dikentutin. Masak pahlawan dikentutin tahanan satu sel?

Bahar Smith juga rasanya akan mendapatkan situasi yang sama. Dia masih merasa sebagai panutan yang dibela banyak orang. Mungkin ia berpikir bahwa di luar sana akan ada gerakan massal membebaskan dia. Sebuah revolusi mirip peristiwa 98 dimana dia akan muncul sebagai panutan.

Bahkan mungkin dia bermimpi kelak menjadi Imam Besar yang akan bersaing dengan kakandanya yang kabur di Saudi sana.

Yang lucu, Bahar bin Smith menggertak Jokowi dengan, "Rasakan lidah pedas saya." Saya kok jadi teringat keripik pedas Mak Icih yang pedasnya berlevel mulai pedas sedang sampai pedas super. Kira-kira lidah Bahar pedasnya sampai level berapa ya?

Pasti sangat pedas. Karena akibat pedasnya yang tidak ketulungan, rambutnya sampai berwarna pirang.

Seruput dulu, ah....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga:

Berita terkait
0
Isi Perbincangan Fadjroel Rachman Bersama Jokowi
Mantan aktivis Fadjroel Rachman di undang oleh Presiden Jokowi ke Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin, 21 Oktober 2019.