La Nina, BMKG: Waspada Banjir dan Pohon Tumbang di Malang

BMKG menyebut fenomena iklim La Nina menyebkan curah hujan dan angin kencang meningkat, khususnya di Malang.
Ilustrasi hujan deras. (Foto: pixabay.com)

Malang – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan anomali La Nina menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan hingga 40 persen di atas normalnya di beberapa wilayah Indonesia di tahun ini. Tidak terkecuali di wilayah Malang, Jawa Timur.

Disebutkan bahwa peningkatan curah hujan bulanan akibat anomali iklim La Nina itu dapat terjadi pada Oktober hingga November 2020. Kondisi tersebut diperkirakan terjadi di seluruh wilayah Indonesia

Kalau dibandingkan tahun 2019. Akibat anomali iklim La Nina ini bulan hujannya di beberapa wilayah Indonesia akan lebih banyak tahun ini.

Selanjutnya, peningkatan curah hujan akibat anomali iklim La Nina ini diperkirakan hanya akan kembali terjadi di Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku-Maluku Utara dan Papua pada Desember hingga Februari 2021 mendatang.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Karangkates, Kabupaten Malang, Musripan mengungkapkan pengaruh anomali iklim La Nina di beberapa daerah Indonesia dirasa masih sangat minim untuk tahun ini, khususnya di Malang. 

Hanya saja, dia mengatakan akan menyebabkan jumlah curah hujan bulanan tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun 2019. Kondisi itupun, kata dia, ditandai dengan mulai turunnya hujan di beberapa wilayah di Indonesia pada awal Oktober 2020. Tidak terkecuali di Jawa Timur seperti di Malang, Banyuwangi dan Bojonegoro.

”Kalau dibandingkan tahun 2019. Akibat anomali iklim La Nina ini bulan hujannya di beberapa wilayah Indonesia akan lebih banyak tahun ini. Termasuk Jawa Timur, khususnya Malang,” kata dia dalam keterangannya kepada Tagar, Sabtu, 3 Oktober 2020.

Musripan mengimbau agar warga selalu waspada terhadap anomali iklim La Nina. Dia menyebutkan karena dalam kondisi tersebut seringkali juga diiringi terjadinya cuaca ekstrem seperti curah hujan tinggi disertai angin kencang dan menyebabkan terjadinya bencana hidro-meteorologis seperti banjir hingga tanah longsor.

”Walaupun dampaknya (anomali iklim La Nina) ini minim. Masyarakat kami imbau selalu waspada. Karena, kondisi ini biasanya seringkali jgua akan terjadi cuaca ekstrim. Baik itu hujan, angin hingga petir yang bisa saja berujung pada terjadinya bencana alam,” tuturnya.

Tidak terkecuali, kata dia, dia juga mengimbau masyarakat terkait rawannya terjadi pohon tumbang dalam kondisi tersebut. Sebagaimana terjadi pohon tumbang di dua lokasi di wilayah Kota Malang saat diguyur hujan lebat pada Jumat, 2 Oktober 2020.

Dua lokasi tersebut tepatnya di Jalan Batanghari, Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Sebuah pohon berjenis cerry dengan tinggi kurang lebih 15 meter dan diameter kurang lebih 40 centi meter tumbang serta menimpa sebuah bengkel knalpot milik warga bernama Lucky.

Kejadian serupa juga terjadi Jalan Raya Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Sebuah pohon berjenis trembesi dengan tinggi kurang lebih 20 meter dan diameter kurang lebih 60 centimeter tumbang serta menimpa badan mobil boks farmasi pengangkut obat-obatan.

Beruntung, dalam dua kejadian tersebut tidak menyebabkan korban jiwa. Hanya saja membuat kerugian materil berupa atap bengkel rusak serta badan boks rusak tertimpa pohon tersebut.

”Itu (pohon tumbang) juga masyarakat perlu mewaspadainya. Terutama ketika berada atau melewati pohon besar yang biasanya sudah agak keropos saat hujan terjadi. Karena biasanya mudah patah,” tuturnya.

Sementara, berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator. Dia menjelaskan bahwa kondisi anomali iklim La Nina ini menunjukkan sedang berkembang.

Artinya, kata Musripan, berdasarkan indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur dalam kondisi dingin selama enam dasarian terakhir dengan nilai anomali telah melewati angka kategori La Nina yaitu -0.5°C.

”Sedangkan hasil pemantauannya menyebutkan perkembangan nilai anomali suhu muka laut di wilayah tersebut masing-masing adalah -0.6°C pada bulan Agustus serta -0.9°C pada bulan September 2020,” ujarnya.

Sedangkan berdasarkan pemantauan BMKG dan pusat layanan iklim lainnya di beberapa negara seperti NOAA (Amerika Serikat), BoM (Australia) dan JMA (Jepang). Dia menyampaikan La Nina diperkirakan dapat berkembang terus hingga mencapai intensitas La Nina Moderate pada akhir tahun 2020.

”Diperkirakan juga akan mulai menyeluruh pada Januari-Februari dan berakhir di sekitar Maret-April 2021,” kata dia.

Sebagaimana diketahui kondisi itu akan menyebabkan peningkatan jumlah curah hujan bulanan di Indonesia. Musripan menyampaikan beberapa daerah diperkirakan akan sama-sama memasuki musim hujan pada bulan Oktober 2020 ini.

”Oleh karena itulah, kami juga mengimbau masyarakat agar terus memperbaharui perkembangan informasi dari BMKG. Baik dengan memanfaatkan kanal media sosial infoBMKG, atau langsung menghubungi kantor BMKG terdekat untuk mengetahui kondisi perubahan cuaca,” ucapnya.[](PEN)

Berita terkait
Mengenal Batik Motif Ken Dedes di Polowijen Kota Malang
Kampung Budaya Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang mematenkan batik motif Ken Dedes bertepatan dengan Hari Batik Nasional.
Prediksi BMKG: Akhir Oktober Bandung Masuk Musim Hujan
BMKG Bandung memprediksi awal musim hujan di Kota Bandung akan berlangsung pada akhir Oktober.
Kata BMKG soal Air Surut di Pantai Benteng Portugis Jepara
BMKG menyatakan fenomena air surut di pantai Benteng Portugis Jepara lebih dikarenakan pengaruh pergerakan bumi dan bukan. Bukan tanda tsunami.
0
Juventus Angkat Kembali Massimiliano Allegri Jadi Pelatih
Juventus telah menunjuk kembali mantan pelatih Massimiliano Allegri hanya beberapa jam setelah memecat Andrea Pirlo