KPK Minta Kemensos Hentikan Bansos Berupa Barang

Menteri Sosial Tri Rismaharini, sebagaimana disebut Pahala, telah memaparkan ke KPK mengenai kemajuan integrasi data atas rekomendasi KPK.
Ilustrasi bansos. (Foto: Tagar/Freepik)

Jakarta - Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK, Pahala Nainggolan dalam keterangan pers pada Rabu, 18 Agustus, mengatakan bahwa pihaknya telah meminta Kementerian Sosial (Kemensos) untuk tidak lagi memberikan bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat selama pandemi covid-19 dalam bentuk barang.

"Seingat saya KPK bersurat ke Kemensos ada dua hal. Satu bansos model barang jangan diteruskan dan kedua kita bilang data penerima bansos di kemensos diintegrasikan," ujar Pahala Nainggolan.

Pahala mengungkapkan, integrasi data penerima bansos sangat penting untuk dilakukan karena pada Kementerian Sosiak sendiri ada tiga pemegang data.

"Pertama Ditjen PFM kemensos itu pegang data PKH, kedua Ditjen Linmas pegang data yang namanya bantuan pangan nontunai. Dan ketiga Sekjen megang data DTMS, ini yang bantuan langsung tunai dan bantuan barang," ujarya.

Menurut Pahala, integrasi itu perlu dilakukan karena pemegang data dari ketiga pihak tersebut sudah dilakukan dari tahun ke tahun dan perlu adanya perubahan.

"Jadi waktu itu ada tiga data di situ. dari zaman menteri yang lama ini digabung, karena kita yakin dalam datanya ini sendiri dalam PKH, itu ada ganda," katanya.

"Untuk PKH dengan BPNT ganda lagi, PKH, BPNT dan DTKS ada ganda lagi dan itu kita buktikan pada 2020 kita ke papua dan kita temukan ganda perjenis sama ganda antar jenis," katanya.

Menteri Sosial Tri Rismaharini, sebagaimana disebut Pahala, telah memaparkan ke KPK mengenai kemajuan integrasi data atas rekomendasi KPK.

Risma, kata Pahala, menyebut DTKS, BPNT, dan PKH aslinya 193 juta penerima orang kemudian setelah digabung hilang sekitar 47 juta jadi sisa 155 juta.


Seingat saya KPK bersurat ke kemensos ada dua hal. Satu bansos model barang jangan diteruskan dan kedua kita bilang data penerima bansos di kemensos diintegrasikan.


"Ini yang kita bilang ganda, kemudian dia cek lagi niknya karena kita minta dipadankan ke Kementerian dalam negeri, kalau engga ada niknya kita nga tau ini orangnya ada atau nga. Dipadankan ke dagri ada yang nama sama dan segala macem di kasih ke Pemda totalnya sekarang dari 193 juta penerima sekarang tinggal 139 juta. Ini sudah masukan dari daerah penambahan data dan segala macem," ujarnya.

"Kita yakin ini jauh lebih baik dibanding 193 juta. nah ini kita hitung sekitar 52 juta dengan kebijakan ibu menteri tidak diberikan. Kalau satu data biasa diberikan 200 ribu kita estimasi Rp10,5 triliun itu selamat uang negara karena datanya ada tapi kata bu menteri tidak saya berikan karena itu ganda, engga ada nik, dan enggak bisa diterangkan daerah," katanya. []

Baca Juga: Bulog Diminta Tarik Beras Bansos Kualitas Buruk

Berita terkait
Jaksa KPK Dakwa Bupati KBB Atur Proyek Bansos, Cari Untung
Aa Umbara diduga bekerja sama dengan pengusaha yakni M Totoh Gunawan yang juga menjadi terdakwa dalam perkara yang sama.
Kemensos Siapkan Bansos untuk Anak Yatim Akibat Covid-19
Mensos Tri Rismaharini mengatakan pihaknya tengah menyiapkan bantuan sosial (bansos) khusus untuk anak yatim akibat Covid-19 yang masih melanda.
Akurasi Data Sangat Penting untuk Salurkan Bansos
Agus juga menyebut bahwa penyaluran bansos dilakukan berdasarkan data yang akurat, yakni by name by addess, sehingga bisa diketahui dengan baik.
0
KPK Minta Kemensos Hentikan Bansos Berupa Barang
Menteri Sosial Tri Rismaharini, sebagaimana disebut Pahala, telah memaparkan ke KPK mengenai kemajuan integrasi data atas rekomendasi KPK.