UNTUK INDONESIA
Kotagede, Siap Susul Sawahlunto jadi Kota Warisan Dunia
Kawasan Kotagede di Yogyakarta, bakal menyusul daerah Sawahlunto di Sumatera Barat sebagai kota pusaka warisan dunia.
Pintu masuk Masjid Kotagede Mataram berupa paduraksa atau gapura yang memiliki atap penutup yang biasanya lazim ditemukan dalam bangunan klasik Jawa Hindu dan Bali. (Foto: dok Tagar)

Yogyakarta - Kawasan Kotagede di Yogyakarta, bakal menyusul daerah Sawahlunto di Sumatera Barat sebagai kota pusaka warisan dunia, setelah pemerintah melakukan pengajuan kepada pihak UNESCO. 

Sisi sejarah, artefak, peninggalan objek budaya dan lain-lain yang dimiliki Kotagede, dinilai bisa menjadi modal kawasan ini menjadi kota pusaka warisan dunia.

Tim Percepatan Pembangunan Wisata Sejarah Tradisi Religi dan Seni Budaya Kementerian Pariwisata Punto Wijayanto mengatakan, Kotagede layak menjadi kota pusaka dan budaya. Ia menyebut wilayah itu memiliki beberapa modal untuk meraih predikat sebagai kota warisan dunia.

"Perlu diperkuat narasi sumbu filosofinya," kata dia dalam usai FGD tentang Kotagede sebagai destinasi wisata cagar budaya di Yogyakarta, Kamis 1 Agustus 2019 petang.

Menengok sejarah, Kotagede merupakan cikal bakal berdirinya Kota Yogyakarta. Wilayah tersebut dulunya dibangun oleh Panembahan Senapati pada 1588. Sewaktu mendirikan kerajaan Mataram, Senapati menjadikan Kotagede sebagai ibukota kerajaan Islam yang dibentuknya itu.

Salah satu asal-usulnya Yogyakarta adalah Kotagede.

Mataram kemudian menjelma menjadi kerajaan besar yang menguasai seluruh Pulau Jawa selain Banten dan Batavia. Kerajaan Islam itu benar-benar mencapai kejayaannya sewaktu dipimpin oleh Sultan Agung.

Menurut Punto, sudah jelas bahwa Kotagede bagian dari sejarah berdirinya Kota Yogyakarta. "Salah satu asal-usulnya Yogyakarta adalah Kotagede," kata dia.

Dosen Arsitektur Universitas Tri Sakti Jakarta ini mengatakan, Kotagede sangat layak menjadi kota pusaka dunia. "Dari segi aset, otentik dan kelangkaannya juga bagus. Tapi yang penting itu dari sisi kemasyarakatannya," ujar dia.

Punto mengatakan, selama ini UNESCO selalu menekankan tujuan pengajuan kota pusaka warisan dunia, namun tidak pernah jelas prioritasnya untuk apa dan siapa. Hemat Punto, bukan untuk pariwisata, melainkan untuk masyarakatnya.

"Kalau masyarakat aktif terlibat dalam menjaga keasliannya itu modal paling besar," kata dia.

Di wilayah Indonesia, daerah yang sudah ditetapkan sebagai warisan dunia sementara ini hanyalah Sawahlunto. Tetapi, ada 50-an kota lain yang saat ini mengikuti program penataan dan pelestarian kota pusaka (P3KP). Proses nominasi, kata Punto, tetap butuh proses.

"Sawahlunto itu mulai 2015, baru pada tahun 2019 baru ditetapkan (sebagai warisan dunia oleh UNESCO). Selama 5 tahun itu berkembang terus narasinya," katanya.

Kotagede perlu memperkuat narasi yang bisa diterima dan diakui oleh dunia internasional. "Kita hanya bilang Kotagede ini mewakili sejarah Kerajaan Mataram. Nah dunia itu tidak ada hubungannya dengan Kerajaan Mataram. Jadi narasinya harus disesuaikan dengan konteks dunia," ujar dia.

Sementara itu, Kepala bidang pengembangan kapasitas SDM dan kelembagaan Dinas Pariwisata DIY Wardoyo mengatakan, untuk menjadikan Kotagede sebagai kota pusaka warisan dunia butuh komitmen bersama. "Termasuk mengenai kewenangan kebijakan," kata dia.

Beduk Masjid KotagedeBedug Kyai Dondong berada di serambi Masjid Kotagede Mataram yang merupakan hadiah dari Nyai Pringgit. (Foto: dok Tagar)

Wardoyo mengatakan, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menetapkan Kotagede sebagai kawasan cagar budaya bersama empat kawasan lain seperti Keraton, Malioboro, Pakualaman dan Kotabaru.

"Kotagede membutuhkan perhatian semua pihak; dari pemerintah, pengelola atau masyarakat setempat, menyiapkan SDM yang betul betul menjadi kawasan Kotagede menjadi destinasi wisata budaya," kata dia.

Semua pihak, lanjut Wardoyo, perlu menjaga kearifan lokal yang ada di Kotagede. "Artefak, historis, pakem, originalitasnya harus dipertahankan," kata dia.

"Peran masyarakat menjadi prioritas bagaimana menata diri, menyadari dan menyikapi kawasan Kotagede menjadi destinasi wisata cagar budaya," kata Wardoyo.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Area III DIY dan Jawa Timur Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata RI Widayanti mengatakan, pihaknya bakal mendukung penuh Kotagede sebagai kota pusaka warisan dunia.

"Makanya kita punya tim percepatan pengembangan wisata budaya," kata dia.

Demi menjadikan kotagede sebagai kota pusaka warisan dunia, Widayanti mengungkapkan lima hal yang harus dipenuhi.

"Masyarakat, kawasan fisik, pemerintah komunitas yang mendukung dan medianya," kata dia. ()

Baca juga:

Berita terkait
0
Lion Air Tunda Sementara Layanan Umrah ke Arab Saudi
Lion Air (kode penerbangan JT) memutuskan memberhentikan sementara layanan penerbangan umrah dari 13 kota keberangkatan Indonesia ke Arab Saudi.