Untuk Indonesia
Kopi Bumbung, Letupkan Kenangan Masa Lalu
Kafe Kopi Bumbung di Sleman, Yogyakarta, patut dicoba para penyeruput kopi, karena rasanya khas. Selain itu, tempatnya bikin betah untuk disinggahi
Kopi Bumbung di Sleman, Yogyakarta, cita rasanya menggoda lidah. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana).

Sleman - Alunan lagu lawas milik grup musik Koes Plus mengalun merdu, mengisi ruang pendengar para penyeruput kopi di Joglo (rumah adat khas Jawa) yang berukuran 8x8 meter persegi.

Beberapa orang di antaranya tampak menikmati hidangan yang disajikan di kafe Kopi Bumbung, yang terletak di Goron, Mranggen, Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sedikitnya, empat staf kafe yang murah senyum berdiri di belakang meja kayu berukuran 2 meter. Mereka siap melayani pesanan para pelanggan.

Salah satu staf di sini, Joko, terlihat sibuk meracik dan menuangkan kopi ke bumbung (bambu) setinggi kurang lebih 30 sentimeter.

Sementara ketiga rekannya, hari itu terlihat sibuk menyiapkan beberapa porsi kuliner sayur berongkos, yang menjadi menu andalan kafe berkonsep tradisional ini.

Bumbung menjadi wadah kopi untuk disajikan kepada para pengunjung. Ini yang menjadi ciri khas tiada dua dari Kopi Bumbung di Goron.

Terus, kenapa ada bumbung? Yang punya ini dulu orangtuanya kalau ke sawah bawa bekal minuman pakai bumbung, jadi terangkat lagi memorinya.

Di sebelah kiri joglo, terdapat dua bangunan berukuran 2x3 meter. Bangunan yang dibentuk menyerupai kandang sapi atau kerbau dengan tiga balok kayu sebagai dinding yang di dalamnya terdapat dua meja, berfungsi menjadi tempat makan.

Pada bagian depan joglo, ada dua karya seni instalasi berbentuk kambing dan sepeda motor, sengaja ditata untuk memikat mata pengunjung yang datang. Tepat di samping saka (tiang joglo) dipasang sebuah kendi tanah liat, dihiasi lagi dengan beberapa gelas kaca.

Sementara di dalam area peracikan yang berada tepat di tengah-tengah joglo, menyala lampu gantung model klasik yang menyinari setiap sudut ruangan. 

Kopi Bumbung di SlemanTulisan Kopi Bumbung di jalan masuk kafe Kopi Bumbung. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana).

Di atas meja, juga ada beberapa bumbung yang belum digunakan, nampak tertata rapi, selaras dengan rak bumbung yang terletak pada bagian atas.

Meski matahari hari itu cukup terik menyinari bumi, suasana di tempat Kopi Bumbung tetap terasa teduh. Pepohonan di sekitar kafe berdiri menjulang, tergambar nuansa pedesaan "zaman dulu" yang membuat pengunjung Kopi Bumbung kiranya semakin betah menghabiskan waktu di sini, bahkan mungkin saja bisa terjebak dalam "kenangan masa lalu".

Lagu-lagu milik Koes Plus perlahan lenyap dari ruang dengar, namun bukan berarti suasana menjadi senyap, karena kini giliran playlist berbahasa Jawa yang didendangkan Via Vallen unjuk kebolehan menghibur para tamu.

Sepasang pria dan wanita yang duduk di sudut ruangan sebelah kanan, terlihat menikmati alunan lagu itu. Sesekali si pria menuang kopi jenis robusta dari bumbung ke cangkir kecil berwarna putih. Perlahan dia meneguknya, kemudian mengelap sisa kopi yang menempel pada bagian kumis.

Sementara di dalam "kandang sapi", ada dua pria muda sedang asyik bercengkrama. Entah apa yang mereka perbincangkan. Keduanya kemudian sedikit bergeser dari tempat duduk, ketika seorang staf Kopi Bumbung mengantarkan pesanan.

Saat berbincang dengan Tagar, Penanggung Jawab Kopi Bumbung, Joko menjelaskan, kafe milik Tri Winarno ini sedianya tidak dibangun untuk bisnis kuliner, akan tetapi hanya berfungsi untuk menyuguh para tamu yang datang.

"Awalnya enggak fokus ke bisnis kuliner. Yang punya ini aslinya pemborong, terus ini sebagai ruang tamu. Biasanya kalau ada klien, kan harus ke rumah makan. Nah, kenapa nggak bikin sendiri? Kita punya bahan di gudang, daripada beku lama, kan lebih baik diwujudkan jadi warung makan," tuturnya, sambil meracik kopi, Selasa, 3 September 2019.

Keputusan untuk membuat usaha kuliner berkonsep tradisional dan menjadikan kopi sebagai maskot tempat ini, menurut Joko, tidak muncul secara serampangan.

Pemilik kafe Kopi Bumbung, lanjutnya, kemudian melihat potensi bisnis warung atau usaha kuliner dengan konsep tradisional yang di Yogyakarta sedang laris manis. Di Kota Gudeg, bisnis kopi siap saji memang sedang naik daun. Tri tidak mau kehilangan momentum.

"Akhirnya kan kita membuka wawasan. Sekarang yang booming adalah warung makan dengan konsep seperti ini. Kopi di Jogja juga lagi naik daun, akhirnya dikasih nama Kopi Bumbung," ucapnya.

Meski menjadikan kopi sebagai magnet pelanggan, namun Kopi Bumbung tidak menyediakan beragam jenis kopi. Pihak kafe hanya memiliki satu jenis kopi Robusta, yang berasal dari daerah Jember, Jawa Timur.

Pemilihan jenis kopi itu pun dinilai tidak mudah. Kisahnya, pengelola harus melakukan survei beberapa jenis kopi yang layak dihidangkan kepada pelanggan. 

Kopi Bumbung di SlemanSeorang staf Kopi Bumbung sedang menyiapkan pesanan pengunjung, Selasa, 3 September 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana).

Dalam observasi, kala itu, mereka menggandeng para penikmat kopi, untuk mendapatkan biji kopi yang aroma dan rasanya dinilai paling cocok tersedia di kafe Kopi Bumbung yang mulai beroperasi pada Januari 2018.

”Itu enggak mudah untuk menemukan kopi di bumbung ini, Kita melakukan survei dari berbagai macam kopi, lalu kita berikan ke para penggemar kopi. Dari beberapa jenis, yang cocok itu yang mana? ternyata kopi dari Jember," tutur Joko.

Berbeda dengan cara pemilihan konsep dan jenis kopi yang melalui survei. Pemilihan batang bambu atau bumbung sebagai wadah penyajian tidak melalui tahapan survei. Melainkan, berdasarkan kenangan masa lalu sang pemilik kafe, Tri Winarno.

Joko menceritakan, orangtua Tri Winarno merupakan petani. Saat dia masih kecil, lanjutnya, Tri kerap melihat orangtuanya berangkat ke sawah dengan membawa bekal air minum yang ditempatkan dalam bumbung.

"Terus, kenapa ada bumbung? Nah, yang punya ini, dulu orangtuanya kalau ke sawah bawa bekal minuman pakai bumbung, jadi terangkat lagi memorinya, terus diwujudkan di sini," ucapnya.

Pengelola Kopi Bumbung mematok harga Rp 15.000 untuk sebumbung kopi, plus camilan sagon kering. Menurut Joko, pihaknya tidak memasang harga tinggi, karena selain konsep tradisional, lokasi kafe itu memang berada di wilayah kampung.

"Kita memang sasarannya keluarga, waktu makan siang misalnya. Tapi responnya itu ada anak muda, orang tua juga ada, anak-anak juga ada. Makanya ada arena bermain juga," kata dia.

Selain kopi sebagai menu andalan, kafe ini juga menyediakan jenis minuman tradisonal, yakni jamu beras kencur dan kunyit asam. 

Sedangkan jenis makanan yang disiapkan adalah sayur lodeh (khusus hari Minggu), oseng-oseng pepaya, oseng-oseng kangkung, serta sayur brongkos, dan beberapa sayur tradisional lainnya. []

Berita terkait
Kopi Mafia yang Viral di Aceh Barat Daya
Di Aceh Barat Daya sedang euforia kopi mafia. Tak ketinggalan para penikmat kopi yang suka nongkrong di Dogan Spot Coffee.
Warung Kopi dan Gaya Bersosialisasi Warga Jakarta
Warung kopi kekinian di Jakarta tak lagi hanya untuk melepas rasa haus dan lapar. Sosialisasi menjadi bagian penting dalam warung kopi.
Asyiknya Menikmati Kopi Buatan Barista Napi di Bantul
Ini tentang sebuah kafe di lingkungan rumah tahanan Bantul, Yogyakarta. Narapidana menjelma barista siap menyajikan kopi bercita rasa wow.
0
Mahasiswa Banda Aceh Gelar Aksi Tolak Revisi UU KPK
Puluhan mahasiswa di Banda Aceh yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Peduli KPK menggelar aksi penolakan terhadap revisi UU KPK.