Kolam Lele Satukan Eks Teroris dengan Warga Genuk Semarang

Eks narapidana teroris di Semarang mampu hidup rukun dengan masyarakat. Kolam ikan lele jadi buktinya.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melihat secara langsung keakraban yang terjalin antara mantan teroris dengan warga Genuk, Kota Semarang, lewat kegiatan budi daya kolam ikam lele, Minggu, 20 Desember 2020. (Foto: Tagar/Humas Pemprov Jateng)

Semarang - Pandangan negatif lazimnya dialamatkan masyarakat kepada para mantan narapidana, apalagi yang pernah tersangkut kasus terorisme. Tapi itu tidak berlaku bagi warga Genuk, Kota Semarang. Kolam ikan lele menjadi bukti persatuan di antara mereka.   

Di Kampung Sumur Adem IV, Kelurahan Bangetayu Kulon, Kecamatan Genuk, masyarakat dan eks teroris bisa berbaur dan hidup rukun. Tak ada lagi stigma negatif maupun rasa curiga. Seolah tak terpengaruh dengan meningkatnya tensi Ibu Kota dan sejumlah kota besar lain di Indonesia imbas aksi kelompok radikal mengatasnamakan agama.  

Pemandangan itulah yang disaksikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat gowes dan menyambangi lokasi budidaya lele yang dikembangkan para eks napiter tersebut, Minggu, 20 Desember 2020.

Bagi Ganjar, suasana itulah yang diharapkan terjadi di seluruh masyarakat Jawa Tengah. Bahwa eks narapidana teroris (napiter) bisa tobat dan kembali berbaur di masyarakat. Di sisi lain, masyarakat juga bisa menerima mereka lagi dengan tangan terbuka. 

"Ini contoh yang bagus, bagaimana eks napiter ini bisa kembali diterima masyarakat. Pak RT mendukung, pengusaha dan masyarakat mendukung, akhirnya mereka diterima, saling bantu bahkan bisnis bareng. Narasi-narasi positif inilah yang harus kita gaungkan," kata Ganjar.

Menurut dia, ada dua persoalan yang mempengaruhi eks napiter bisa kembali pada masyarakat setelah bertobat. Yakni tingkat penerimaan masyarakat dan faktor ekonomi. 

"Tapi di sini semuanya jalan, saya terima kasih karena masyarakat mau menerima, masyarakat enggak takut dan teman-teman eks napiter ini juga ketika masuk sudah tidak tertutup lagi. Mereka sudah terbuka, yang biasanya melotot, sekarang tertawa bersama," terang dia.

Panen pertama tidak kami jual, tapi kami bagikan pada masyarakat.

Terkait bagaimana meningkatkan taraf ekonomi, semua pihak harus memberikan dukungan pada para eks napiter agar bisa mandiri. Dan Ganjar menilai integrasi sosial dengan cara ekonomi adalah cara yang paling baik.

"Saya senang di sini semua masyarakat membantu, ada BNPT juga membantu, Pemda juga karena ini anak-anak saya. Setelah masalah penerimaan masyarakat dan ekonomi selesai, kami harap mereka menjadi juru bicara yang mengedukasi masyarakat agar tidak terjerumus dalam bidang yang sama. Ngebom tidak boleh, bunuh orang enggak boleh, apalagi fitnah. Saya mengapresiasi dan pasti akan memberikan dukungan pada program-program ini," beber dia.

Sementara itu, kerukunan yang terwujud di Genuk ini tak lepas dari peran sosok eks napiter bernama Sri Pujimulyo Siswanto. Dia adalah mantan terpidana yang telah dihukum 12 tahun karena menyembunyikan pelaku Bom Bali, Noordin M Top dan Dr Azhari.

Bersama kawan-kawannya eks napiter yang tergabung dalam Yayasan Persadani, Sri Puji memilih jalan ekonomi untuk bisa diterima kembali pada masyarakat. Menggunakan lahan milik warga, Sri Puji cs mencoba budi daya lele. 

Bahkan ke depan, mereka berencana membuat tempat makan di tengah sawah, dengan menu lele yang dibudidayakan itu. Lahan yang digunakan juga bukan milik mereka namun kepunyaan warga dan sudah diizinkan untuk keperluan tersebut. 

Sri Puji mengaku inisiasi budidaya lele bersama eks napiter dan masyarakat di Genuk dimulai sejak 2019 lalu. Sejak saat itu, kolam lele dengan kapasitas sekitar 7500 ekor itu sudah panen satu kali.

"Panen pertama tidak kami jual, tapi kami bagikan pada masyarakat. Ini mau panen kedua, dan kami berencana membuka kuliner Lele Sawah dengan membangun saung di sekitar lahan ini," kata dia.

Tak hanya untuk mencukupi ekonomi keluarga dan anggota eks napiter lain yang ikut dalam budidaya itu, langkah usaha budi daya lele tersebut sebagai metode mendekatkan diri kepada masyarakat. Pergaulan dan interaksi dengan masyarakat sekitar semakin cair.

"Kalau hanya duduk ngobrol saja tidak akan nyambung. Dengan kegiatan semacam ini, menjadi lebih akrab dengan masyarakat. Suasana jadi cair dan semua saling menerima serta memahami," jelasnya.

Baca juga: 

Ketua Yayasan Persadani, Mahmudi alias Yusuf mengatakan 25 eks napiter yang ada di bawah naungan yayasan Persadani memang sudah menyatakan kembali pada pangkuan Ibu Pertiwi.

"Dengan begitu, kami meyakinkan masyarakat bahwa kami ingin ikut berkontribusi dalam membangun bangsa dan negara. Kami selalu berkoordinasi untuk terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk sektor ekonomi. Kami berharap masyarakat mau menerima kami, mendukung kami untuk menjalani hari. Kami juga berharap bantuan serta dukungan pemerintah terhadap program-program yang kami jalankan ini," katanya.

Ketua RT 3 RW 11 Bangetayu Kulon, Hendi Kartika mengatakan pendekatan dan dukungan kepada eks napiter memang perlu dilakukan. Agar mereka bisa nyaman dan tidak kembali pada jalan yang salah.

"Memang banyak kendala, tapi pelan-pelan kami berusaha meyakinkan warga bahwa mereka sudah bertobat. Dengan adanya kegiatan budi daya lele ini, semakin menyatukan warga. Jadi, saat ini sudah tidak ada lagi stigma negatif bahwa itu mantan teroris, itu orang jahat dan lainnya," katanya. []

Berita terkait
5 Eks Teroris Ikuti Upacara di TPST Piyungan Bantul
Lima eks narapidana terorisme bergabung dengan komunitas TPST Piyungan, Kabupaten Bantul, menggelar upacara bendera HUT RI.
Komentar Mantan Teroris Terkait WNI Eks ISIS
Mantan terpidana terorisme Khairul Ghozali menilai, dirinya sangat mendukung ada opsi untuk memulangkan WNI Eks ISIS ke Indonesia.
Mantan Perakit Bom Bali Itu Bersiap Jadi Peracik Mie di Solo
Mantan perakit bom Bali I, Joko Tri alias Jack Harun, beraktivitas layaknya warga lain. Ia kini bersiap menjadi peracik mie di Solo.
0
Mengenal Efek Samping Kebanyakan Minuman Berenergi
Mengenal efek samping minuman berenergi yang di dalamnya terdapat kafein dan lebih banyak gula serta bahan lainnya jika dikonsumsi terlalu banyak.