Indonesia
Ketika Ingin Marah, Coba Ubah Sudut Pandang
Setiap hari sejatinya adalah perjalanan, perjumpaan dengan peristiwa-peristiwa.
Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Jakarta, (Tagar 22/1/2019) - Setiap hari sejatinya adalah perjalanan, perjumpaan dengan peristiwa-peristiwa. Apakah sesuatu itu peristiwa kecil atau peristiwa besar, sangat tergantung penerimaan dan perspektif tiap orang. 

Amalia Sinta seorang istri, juga seorang ibu. Ia juga punya karier yang bagus. 

Pada suatu hari Amalia mengalami sesuatu yang mungkin bagi orang lain adalah hal biasa-biasa saja, tidak bermakna apa pun. Namun, pada hari itu sesuatu yang tampaknya biasa-biasa saja itu membuat Amalia mendapat pelajaran besar bagaimana menetralisir emosi kemarahan, bahwa 'ketika ingin marah, cobalah ubah sudut pandang'.

Amalia membagikan peristiwanya yang berharga di akun Facebooknya. 

Pada awalnya ia bercerita, pada hari itu sampai pukul 14.00 lebih belum makan siang. Rencananya ia dan suami berencana untuk makan di luar, kenyataannya suaminya ada acara kantor dan telat pulangnya.

Akhirnya ia memesan lauk lewat gofood.

"Saya pesan satu ikan bakar pedas, satu ikan bakar manis dan dua tusuk sate cumi, estimasi total harga 74 ribu," tulis Amalia.

Ketika abang gojekya sampai, si abang gojek menyodorkan struk sejumlah 136 ribu plus ongkos antar jadi 143 ribu pada Amalia.

"Saya kaget, lah kok banyak banget, hampir dua kali lipatnya," kata Amelia.

Ia membuka pesanannya tersebut, ternyata cuminya dibungkus dua porsi isi sepuluh tusuk, bukan dua tusuk seperti yang ia tulis di pesanan.

Dalam hati ia marah. Mengomel panjang lebar.

Amalia berkata pada abang gojek, "Mas gimana sih ini kebanyakan, saya cuma pesan dua tusuk, 14 ribu masak ini jadi 70 ribu cuminya aja. Total jadi banyak."

Ia mengaku rasanya ingin marah.

Tapi kemudian, cerita Amalia, abang gojeknya dengan muka bingung mengeluarkan ponselnya dan bilang, "Emang bisa dua tusuk aja ya, Bu? Saya kasih lihat pesanan Ibu ke pelayan yang bungkusin," Amalia menirukan ucapan abang gojek kala itu.

Saat melihat tampilan ponsel abang gojek, hati Amalia mencelos, terpana. Ponsel sederhana yang hampir separuh layarnya retak cukup parah, cashing yang terkelupas, yang entah sudah berapa tahun dipakai.

Amalia menyebut nama Tuhan dalam hati.

"Saya langsung terdiam, berusaha menenangkan hati, meredam emosi. Saya coba melakukan reframing, mengubah cara pandang saya, mencoba melihat masalah ini dari sudut pandang lain, berbicara dalam hati, pada diri sendiri yang sedang emosi," tutur Amalia dalam catatannya.

Ia kemudian berpikir dari sudut si abang gojek. 'Ah berarti abang gojeknya gak salah, mungkin dia belum pernah makan di ikan bakar itu, jadi gak tahu kalau bisa pesan dua tusuk cumi aja, bukan dua porsi.'

Amalia meluaskan sudut pandang, kali ini pada posisi pelayan. 'Ah mungkin pelayannya salah baca pesanan, karena layar hape abangnya udah hampir pecah semua gitu.'

'Ah kenapa saya mempermasalahkan hal sepele begini, masih sanggup bayar kan, itu loh abangnya sampai masih pakai hape berlayar pecah gitu, mungkin buat makan sehari-hari aja ngepas, jadi belum bisa beli hape baru,' pikirnya lagi.

Akhirnya Amalia senyum dan bilang, "Sudah gak apa-apa Mas, bisa disimpan di kulkas buat besok kok."

Abang gojek itu meminta maaf pada Amalia. 

Amalia semakin berpikir mungkin abang gojek itu resah, khawatir dirinya diminta mengembalikan cumi ke rumah makan atau malah harus menggantinya dengan uang.

"Gak apa-apa, Mas. Makasi ya udah di-anterin, potong gopay-nya ya," kata Amalia. Kali ini dengan santai dan ikhlas.

"Yup, amarah itu sudah hilang. Benar. Sudah nggak sebal sama si abang," tulis Amalia.

"Ternyata benar yang sering para guru bilang, bahwa hadirnya peristiwa yang tidak menyenangkan itu adalah berkah, karena saat itulah kita bisa berlatih untuk menerima dan bersabar," lanjut Amalia.

"Yup, sabar itu perlu dilatih. Sabar itu bukan hujan yang tiba-tiba turun dari langit. Sabar itu perlu dicoba. Lagi dan lagi. Dengan penuh kesadaran. Saat ini saya belum jadi orang yang sabar. Masih suka sebal kalau ada kejadian yang nggak enak, tapi paling tidak hari ini saya belajar mengontrol emosi diri sendiri," tulis Amalia mengakhiri catatan berhikmahnya. []

Berita terkait
0
Warga Papua di Semarang Bawa Bendera Bintang Kejora
Bendera Bintang Kejora berkibar di aksi damai warga Papua di Kota Semarang, Jawa Tengah.