Ketakutan Pemerintah Jokowi Soal Virus Flu Babi

PDHI menilai muncul ketakutan dari pemerintah Jokowi sehingga belum mendeklarasikan wabah flu babi Afrika.
Babi ternak. (Foto: Pixabay)

Jakarta - Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Muhammad Munawaro menilai virus african swine fever (ASF) atau flu babi Afrika dapat berdampak pada aktivitas ekspor babi ternak Tanah Air. Sebab itu pemerintah Joko Widodo (Jokowi) lamban mendeklarasikan wabah yang diduga menyerang Sumatera Utara (Sumut) itu ke publik.

"Ketakutan pemerintah saat itu hanya satu, bahwa nanti saat sudah dideklarasikan, Indonesia tidak bisa ekspor," ujar Munawaroh kepada Tagar, Senin, 16 Desember 2019.

Munawaroh mengatakan PDHI prihatin pemerintah masih diam ihwal kasus kematian puluhan ribu babi di Sumut. Padahal, PDHI menemukan fakta di lapangan babi ternak tersebut terjangkit flu babi Afrika.

Kantong-kantong babi itu kan ada di Manado, Nusa Tenggara Timur, pulau Bali. Jadi ini ditakutkannya bisa menular.

"Di lapangan secara laboratorium sudah ditemukan yang namanya penyakit ASF di 16 kabupaten (Sumut). Tapi sampai hari ini pemerintah masih mengatakan bahwa kematiannya bukan karena ASF," ujarnya.

Kekhawatiran pemerintah terkait ekspor babi sehingga belum mendeklarasikan ASF, kata Munawaroh, sangat tidak tepat. Pasalnya masih banyak produsen babi ternak di wilayah tak terdampak flu babi Afrika yang bisa digenjot agar surplus perdagangan.

"Ekspor itu masih tetap bisa dijalankan karena yang terkena hanya satu lokasi. Jadi misalnya Batam, itu tidak masalah. Karena yang terkena bukan di Batam. Jadi masih ada zonasi-zonasi yang bisa diekspor," tuturnya.

Munawaroh mengingatkan pemerintah agar segera mendeklarasikan untuk memicu penanganan efektif virus flu babi Afrika agar tidak menjalar ke seluruh Sumut, dan produsen babi ternak serta daging di luar wilayah tersebut.

"Kantong-kantong babi itu kan ada di Manado, Nusa Tenggara Timur, pulau Bali. Jadi ini ditakutkannya bisa menular. Kalau sudah dideklarasikan, kan sudah ada satu keputusan pemerintah bahwa produk babi, atau apa yang berkaitan dengan babi itu bisa dicegah (agar) tidak keluar ke wilayah lain," katanya.

Setelah mendeklarasikan, Munawaroh menyarankan agar pemerintah melakukan disenfeksi di seluruh kandang babi ternak yang masih hidup. Menurutnya, penyebaran virus ASF ini sangat cepat sehingga perlu langkah preventif agar tidak terjadi penyebaran. []

Berita terkait
Edy Rahmayadi Punya Kawan Tangani Wabah Virus Babi
Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi kini tak sendiri menangani wabah penyakit babi yang belakangan meresahkan peternak babi dan masyarakat.
Virus Babi Luput dari Pandangan DPRD Humbahas
DPRD Kabupaten Humbahas, Sumatera Utara dinilai kurang serius dengan wabah virus hog cholera yang menyerang dan menyebabkan kematian ternak babi.
700-an Babi Mati Diserang Virus Aneh di Dairi
Virus yang hingga kini belum diketahui jenisnya, menyerang ternak babi di Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatra Utara.
0
Ketua DPRD: HJB ke-539 Momentum Kebangkitan Kabupaten Bogor
Ketua DPRD Kabupaten Bogor Rudy Susmanto mengatakan Hari Jadi Bogor yang ke-539 hendaknya menjadi momentum kebangkitan Kabupaten Bogor.