UNTUK INDONESIA
Kenikmatan Kopi Turaya Bantaeng Diakui Jokowi
Brand Turaya Coffe mulai dikenal di Kabupaten Bantaeng setelah Presiden Jokowi mencicipi Kopi Turaya saat APKASI Otonomi Expo 2018.
Turaya Coffe yang dipamerkan dalam festival Coffee Bantaeng. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Bantaeng - Kompleks Pasar Lama, Kelurahan Banyorang, Kabupaten Bantaeng dipenuhi penikmat kopi yang menghaadiri Festival Kopi dan Launching Industri Kecil Menengah (IKM), Minggu 1 Desember 2019 lalu. Festival kopi digelar sebagai rangkaian hari jadi Kabupaten Bantaeng ke-765 tahun yang jatuh pada 7 Desember 2019.

Sejumlah merk kopi lokal Kabupaten Bantaeng terlihat dipamerkan dalam festival. Sebut saja seperti Bonthaink Coffe, Garumbang Coffe, ataupun Turaya Coffe, dan sederet nama unik lainnya. Mereka mempunyai produk andalan yang mampu memikat hati para pencinta kopi.

Sentra Kopi Banyorang ini menjadi tempat bagi pelaku bisnis kopi untuk memproduksi segala jenis komoditas yang bernama latin Coffea ini. Lain brand, lain cerita. Tagar sedikit tertarik dengan kisah perjuangan pemilik brand Turaya Coffee.

Saat itulah saya baru sadar kalau kopi Turaya memang nikmat dan memiliki cita rasa kopi lokal yang khas.

Seorang teman bernama Abidin banyak mengetahui seluk beluk tempat festival tersebut dengan menemani Tagar berkeliling dalam ajang festival kopi itu. Warga Banyorang Bantaeng ini mengatakan, awalnya kopi Turaya kurang mendapatkan perhatian dari warga Bantaeng, meski produk kopi Turaya berasal dari Bantaeng. 

Bahkan dirinya yang juga sebagai penikmat kopi tak mengetahui keunggulan kopi Turaya dan hanya menikmati kopi yang disajikan di warung kopi (warkop) ataupun kafe.

"Lebih pilih nongkrong di warkop atau kafe," kata Abidin.

Nama kopi Turaya mulai dikenal, kata Abidin, sejak Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencicipinya. Saat itulah, brand Turaya Coffe mulai dilirik oleh warga Bantaeng.

"Saat itulah saya baru sadar kalau kopi Turaya memang nikmat dan memiliki cita rasa kopi lokal yang khas seperti yang dibilang Pak Jokowi," ujarnya.

Abidin menyempatkan diri untuk mengajak Tagar datang ke tenant Turaya Coffe yang berada di depan setelah gerbang masuk Festival Kopi. Di dalam tenant itu, Abidin mengenalkan Tagar kepada pemilik Turaya Coffe bernama Muttahir Aco Nuh. Saat itu, Aco Nuh sedang me-Roasting biji kopi Turaya.

Di dalam tenant Turaya Coffe terlihat sejumlah bingkai yang berisi sejumlah penghargaan yang pernah didapatkan kopi Turaya. Selain bingkai penghargaan, juga terlihat foto Presiden Jokowi bersama Nurdin Abdullah yang saat itu masih sebagai Bupati Bantaeng menikmati kopi Turaya di acara APKASI Otonomi Expo 2018 yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang Selatan, Banten.

Aco Nuh pun mengenang saat itu Presiden Jokowi mencicipi kopi Turaya tanpa melalui protokoler dan uji yang dilakukan oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Saat itu, dirinya mengaku bersyukur Presiden Jokowi terkesima dengan rasa yang terkadung dalam kopi Turaya.

"Tetapi setelah itu tetap ada uji kriteria dari Paspampres," katanya.

Turaya CoffeTuraya Coffe saat dipamerkan di Festival Kopi Bantaeng. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Silaturahmi Dibalik Sekantong Kopi

Aco Nuh kembali meroasting biji-biji kopi. Ia sambil bercerita awal mula niatnya membangun Turaya Coffee yang tidak sebatas pengenalan nama brand. 

Memang harus diakui, sejak peluncuran novel dan film Filosofi Kopi, berbagai kalangan telah menyadari budaya ngopi bukan saja untuk orang-orang tua, kaula muda pun berhak menikmati cita rasa yang khas dari tumbuhan berbentuk biji-bijian ini.

Dahulu, ia mengingat kalau kopi bukan sekedar minuman saja, tetapi lebih, bahkan menjadi pemersatu masyarakat di kampungnya. Sebab ada jalinan silaturrahmi yang kuat muncul dari sekantong kopi.

"Silaturahmi terjalin, karena setiap mengakhiri pembicaraan, pas mau pulang, kopi selalu diberikan dalam kantongan. Jadi yah silaturrahmi terbangun di sana," kata pria kelahiran 1989 ini.

Perlahan budaya berbagi kopi itu hilang sejak cengkeh ditanami di tiap-tiap kebun masyarakat di dataran tinggi. Tak ada lagi kearifan lokal yang telah membudaya yakni berbagi kopi selepas perbincangan hangat di rumah-rumah warga.

Niatannya untuk pengembangan komoditas itu pun muncul. Berbekal keinginan agar kopi di Bantaeng kembali berjaya, ia meyakini komoditas kopi di Tompobulu mampu bersaing dengan kopi-kopi lain yang ada di Indonesia bahkan di kancah Internasional.

"Saya kira kita ingin budaya itu kembali, kearifan lokal dan kembalinya kejayaan kopi Tompobulu bantaeng," papar pemuda tersebut.

Nenek Moyang Petani Kopi

Ada istilah kalau nenek moyang kita seorang pelaut, tetapi bagi Owner Turaya Coffe, nenek moyang kita juga seorang petani kopi. Alasannya sederhana, peracik kopi bukanlah sebuah study formal yang harus digeluti bertahun-tahun disebuah bangku sekolahan.

"Kalau saya sebutnya, kan faktor keturunan kami. Nenek moyang kita memang petani kopi," kata dia.

Sehingga untuk mendapat cita rasa yang nikmat hanya dengan terus berusaha mencari titik kenikmatannya. Berguru dari orang-orang tua terdahulu dan mengombinasikan pengetahuan dengan mesin-mesin moderen serta beberapa trik yang ia tonton lewat YouTube.

"Saya menerapkan proses tradisional dan moderen dalam pengelolaan. Saya belajar dari orang-orang tua dan ada barista yang saya sekolahkan sampai bersertifikasi," ujarnya sambil memperkenalkan barista Turaya Coffee, Muh. Irham yang tampak sibuk menyajikan kopi bagi pengunjung tenant.

Bupati BantaengBupati Bantaeng Ilhamsyah Azikin saat mengunjungi tenant Turaya Coffe saat Festival Kopi, Minggu 1 Desember 2019. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Proses Menentukan Hasil

Untuk saat ini, Turaya Coffee memproduksi kopi kemasan dengan menggunakan dua jenis kopi. Yakni Arabica dan Robusta.

"Untuk jenis Arabica sendiri, sebelum produksi terlebih dahulu melewati riset dalam kurun waktu satu tahun," kata Aco

Ia memaparkan bahwa sebenarnya saat ini tengah dikembangkan untuk memproduksi kopi jenis Liberica. Namun, saat ini masih dalam tahap riset.

"Untuk jenis Liberica masih dalam proses riset, belum bisa dipasarkan," tambah Aco

Sementara bagi barista, Muh Irham bahwa apapun jenis kopi yang digunakan, proses Roasting biji kopi akan sangat menentukan cita rasa kopi yang berkualitas.

"Proses roasting menentukan hasil," ujar Irham

Kopi Bantaeng Siap Merambah Dunia

Pelaksanaan Festival kopi berlangsung meriah, dihadiri Bupati Bantaeng Ilhamsyah Azikin dan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantaeng. 

Pada kesempatan itu pula Bupati Bantaeng, Ilhamsyah Azikin memberi support dan apresiasi terhadap para pelaku usaha tersebut.

"Ini yang kita harapkan sebagai perwujudan, pemerintah bergerak bersama masyarakat memberu ruang aktivitas yang bisa mendorong inovasi masyarakat untuk melakukan kerja-kerja yang lebih produktif," ujarnya.

Menurutnya semua kopi dari berbagai brand di kabupaten Bantaeng memiliki kualitas dan cita rasa yang khas. Sehingga bukan tidak mungkin jika suatu saat kopi Bantaeng akan segera mendunia.

"Target itu pasti, kami tidak bermimpi di tingkat nasional tapi kami yakin kopi kami bisa merambah ke seluruh dunia," katanya optimis. []

Baca juga:

Berita terkait
Pocong Perempuan di Rumah Tua Kotagede Yogyakarta
Ada ratusan hantu di rumah tua itu. Ada yang jahat dan baik. Satu yang sering iseng adalah hantu pocong bernama Sumi.
Mengikuti Jejak Duka Pemakaman Ciputra
Jenazah Ir. Ciputra telah dimakamkan di taman makan keluarga di Desa Sukamaju, Jonggol, Bogor, Jawa Barat, Kamis, 5 Desember 2019.
Spot Nasi Gratis di Jalan Wonosari Bantul
Seorang pria paruh baya mengambil sebungkus nasi dari etalase kaca tanpa perlu membayar. Hal ini terjadi di Jalan Wonosari Km 12, Piyungan, Bantul.
0
Pilkada Solo, Purnomo Optimis Dapat Restu Megawati
Balon Wali Kota Solo yang diusung DPC PDIP Solo, Achmad Purnomo optimis rekomendasi partai akan turun ke dirinya.