UNTUK INDONESIA
Kenangan Spot Menyenangkan di Kampus UGM Yogyakarta
Ada beberapa spot menyenangkan dan penuh kenangan di kawasan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) menurut beberapa alumninya.
Gedung pusat Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga dikenal dengan Balairung UGM, salah satu spot kenangan dan menyenangkan di kawasan kampus UGM. (Foto: Tagar/Dok ugm.ac.id)

Yogyakarta – Keraton Yogyakarta, alun-alun yang mengapit bangunan keraton, kawasan Malioboro, warung angkringan penjual nasi kucing, hingga suasana dan keramahan warga Yogyakarta seringkali menjadi hal yang dirindukan oleh orang-orang yang pernah tinggal di kota itu.

Bukan hanya sudut kota, sebagian orang yang pernah kuliah di Yogyakarta juga memiliki kenangan dengan spot di area kampus, seperti di kawasan Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM).

Seorang alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM bernama Nur Sinar Mutmainna, yang akrab disapa Inoy, 40 tahun, mengaku salah satu spot yang berkesan dan menyenangkan di area kampus adalah di bawah pohon Kepel di area fakultasnya.

“Dulu ada Pohon Kepel di kampus Fisipol UGM, biasanya anak Komunikasi duduknya di situ ngobrol ngalor ngidul,” kenangnya saat dihubungi, Kamis, 8 Oktober 2020.

Biasanya mereka nongkrong di bawah pohon itu sambil memperhatikan mahasiswa lain yang melintas. “Sembari memberi penilaian cakep atau enggak,” kata perempuan asal Makassar yang saat ini tinggal di Depok.

Wisata Kuliner di Kantin

Spot lain yang menurut Inoy berkesan dan menyenangkan adalah kantin di beberapa fakultas dan tempat di kawasan kampus.

Saat kuliah, kata Inoy, dia dan beberapa rekannya sering mengunjungi kantin di beberapa fakultas, sekaligus berwisata kuliner.

“Spot berikutnya kantin, nyobain berbagai makanan kantin di kampus yang berbeda, wiskul (wisata kuliner) antar fakultas.”

Makanan paling enak yang disediakan oleh masing-masing kantin, lanjut Inoy, tergantung pada menu yang ada.

Untuk menu sego pecel (nasi pecel), ada dua warung yang menurutnya enak, yakni di kantin Fakultas Filsafat dan dan di depan perpustakaan kampus Fisipol.

“Tergantung menunya. SGPC (sebutan untuk nasi pecel) enak di Fakultas Filsafat sama perpus yang depan kampus Fisipol,” kata dia menegaskan.

Dari sekian banyak menu kuliner yang ada, Inoy memiliki satu menu favorit, yang disebutnya sebagai menu elit saat itu, yakni sup Kimlo yang ada di kantin Fakultas Ekonomi. “Sop Kimlo ka biasa di kondangan ji ada.”

Spot selanjutnya yang menurutnya menyenangkan adalah di base camp organisasi kemahasiswaan dan di gelanggang mahasiswa.

Dulu saya di mapala kampus Fisipol sama di Gelanggang UGM yang sudah dirobohkan.

Kawasan Grha Sabha Pramana (GSP) juga menjadi salah satu spot di area kampus yang menjadi favoritnya, khususnya saat hari Minggu pagi.

“Akhir pekan biasanya pagi-pagi buta jogging keliling kampus bareng teman-teman kos, hari Minggu senam ramai-ramai di GSP, terus wiskul di sekitarnya. Ya Allah senang-senang aja hidupku kapan belajarnya,” lanjutnya sambil tertawa.

Tapi, dari seluruh spot yang ada, tempat yang paling berkesan dan mengagumkan untuk dia adalah gedung pusat UGM. Gedung yang juga dikenal dengan nama Balairung UGM itu seperti menjadi lokasi yang wajib dikunjunginya saat liburan atau jalan-jalan ke Yogyakarta.

Inoy mengaku kagum pada arsitekturnya yang kokoh. Bahkan dia sering membayangkan proses pembangunan gedung yang diresmikan oleh Presiden RI pertama, Ir Soekarno pada 19 Desember 1959 itu.

“Dulu sempat dengar cerita kalau mandornya ngecek semen gedungnya dia sambil ngetok-ngetok lantai pakai tongkatnya gitu,” ucap Inoy.

Saat ditanya tentang pengalaman seram atau kejadian aneh yang pernah dialami di area kampus, Inoy mengatakan pernah mengalami.

Saat kuliah Inoy sering mengikuti kegiatan diskusi di kampusnya, yang seringkali dilaksanakan pada malam hari.

Malam itu dia dan beberapa temannya sedang duduk-duduk di dekat pohon beringin di dalam kampus Fisipol.

“Terus ada teman pinjam bando. Bandonya ditaruh di sampingnya dia, eeh kok tiba-tiba tuh bando hilang kemana tau.”

Selain kenangan di kampus, Inoy mengaku tak jarang kangen dengan suasana Kota Yogyakarta. Salah satu yang membuatnya kangen adalah atmosfer kesenian di Yogyakarta.

“Segala konser musik, teater, pameran fotografi, dll mudah dijangkau dan sering diadakan,” ucapnya.

Olahraga Sambil Cuci Mata

Tak jauh berbeda dengan kenangan Inoy saat kuliah, seorang alumni Fakultas Biologi UGM yang bernama Lina, 41 tahun, juga memiliki kenangan dan spot favorit di kampusnya. Salah satunya adalah di kawasan GSP.

Kawasan GSP sering dijadikan sebagai tempat berolahraga bagi warga sekitar Kampus UGM atau mahasiswa yang tinggal tidak jauh dari kampus, khusunya pada hari Minggu pagi.

Selain dipenuhi oleh orang-orang yang berolahraga, di sekitar GSP juga terdapat banyak lapak pedagang yang menjual beragam barang.

Ghra Sabha Pramana UGMGrha Sabha Pramana (GSP) UGM juga menjadi spot favorit di kawasan kampus UGM. (Foto: Tagar/ Ist/ Wikipedia)

“Kalau akhir pekan atau hari Minggu itu di Grha Sabha Pramana, bisa olahraga sambil cuci mata. Lihat-lihat lapak orang, meski banyak tidak belanjanya, karena tidak ada uang,” ucapnya, yang saat ini tinggal di kampung halamannya, Kota Makassar.

Perempuan angkatan tahun 1997 ini juga mengaku sering nongkrong di Gelanggang Mahasiswa. Menurutnya di Gelanggang Mahasiswa banyak terdapat sekretariat unit kegiatan mahasiswa (UKM).

Selain Gelanggang Mahasiswa, lokasi favorit lainnya adalah di Balairung atau gedung pusat UGM. “Kalau Balairung itu tenang, suasananya menyejukkan, enak buat belajar sambil nongki (nongkrong), itu kan gedungnya masih bangunan lama, suasananya memang betul-betul asri,” ucapnya.

Balairung juga menjadi salah satu lokasi yang sering dirindukannya hingga saat ini. Bahkan saat dirinya berkunjung ke Yogyakarta, sebisa mungkin menyempatkan diri untuk singgah di Balairung. “Kalau yg paling dikangeni di kampus itu, Balairung, karena itu tadi, sejuk, teduh, menenangkan, enak buat menepi, merenung. Itu spot favoritlah.”

Spot favorit lain adalah warung SGPC yang terletak di depan kampus Fakultas Peternakan UGM. Tapi menurutnya saat ini sudah banyak perubahan di lokasi itu.

“Kalau bukan di Balaiung atau di SGPC, kadang-kadang juga ke Shopping Center cari buku-buku bacaan selain bahan kuliah, atau online di warnet,” kata dia.

Selain kenangan yang menyenangkan, dia juga mengaku pernah mengalami kejadian yang menurutnya menakutkan. Bukan menakutkan dalam artian kejadian mistis dan semacamnya, tetapi bertemu dengan orang eksibisionis.

“Menyeramkan versiku, ada tubek (tukang becak) pernah kasih lihat kemaluannya pas depan kampus, sama dekat lembah. Kayaknya sih orang sakit jiwa. Itu e orang-orang yang merasa puas kalau orang histeris saat liat.”

Dia juga mengaku tidak pernah bosan untuk berkunjung ke Yogyakarta. Bahkan beberapa kali dia menyempatkan diri untuk berlibur bersama keluarganya ke Yogyakarta dan menyempatkan waktu untuk berkunjung ke kampus. []

Berita terkait
Cerita Mistis Jembatan Menuju Makam Sombayya Bulukumba
warga Desa Somba Palioi, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba meyakini bahwa warga asli Gowa pantang melintasi jembatan di daerahnya.
Mercusuar Belanda Saksi Perkembangan Pelabuhan Semarang
Mercusuar Willem III yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1884 menjadi saksi bisu perkembangan Pelabuhan di Kota Semarang.
Menggiurkan, Usaha Bibit Pohon Anggur di Yogyakarta
Usaha pembibitan pohon anggur menjadi salah satu usaha yang hasilnya cukup menggiurkan, terlebih laan yang dibutuhkan tidak harus luas.
0
Kabupaten Bantaeng Raih Penghargaan Indonesia Awards 2020
Kabupaten Bantaeng menerima penghargaan Indonesia Awards 2020, dalam hal pelayanan publik di bidang kesehatan ibu dan anak.