Kemdikbud: Optimalisasi Pembelajaran Jarak Jauh

Perubahan sikap mental harus menjadi landasan pemikiran bahwa melalui pemanfaatan teknologi digital, akses pembelajaran justru lebih efektif.
Ilustrasi.

Jakarta - Penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) berkepanjangan di masa pendemi Covid-19 mengakibatkan terjadinya penurunan minat dan kemampuan literasi (literacy loss) di kalangan siswa Indonesia. Untuk mengantisipasi hal ini diperlukan solusi melalui upaya peningkatan kecakapan literasi digital.

Koordinator Penjaminan Mutu Pendidikan, Direktorat Jenderal Paud, Dikdas, dan Dikmen, Katman, mengatakan bahwa dibutuhkan kesiapan mental untuk melakukan perubahan paradigma terhadap pemanfaatan teknologi digital dalam proses belajar dan mengajar. Selama ini masih terdapat sebagian masyarakat yang memiliki sikap resinten terhadap perkembangan teknologi. Hal tersebut menjadi salah satu hambatan beradaptasi dengan dunia digital. Perubahan sikap mental harus menjadi landasan pemikiran bahwa melalui pemanfaatan teknologi digital, akses pembelajaran justru lebih efektif.

" Untuk mengatasi terjadinya literasi loss yang berkepanjangan dapat dilakukan antara lain dengan mengubah ketidak-siapan mental untuk berubah. Baik bagi guru, murid dan orang tua.," kata Katman kepada Tagar, Rabu, 4 Agustus 2021.

" Berikutnya melakukan identifikasi untuk menemukan strategi pembelajaran jarak jauh yang efektif. Sehingga pada akhirnya PJJ menjadi kebiasaan baru yang lebih dipilih. Hal itu seiring terjadimya perubahan paradigma pembelajaran dan juga bisa saja PJJ dianggap lebih efisien," ujar Katman.

"Pembelajaran masa pandemi yang sudah berlangsung kurang lebih 3 semester pasti menjadi tantangan baru bagi guru di beberapa sekolah, sehingga mendorong mereka untuk mencoba membuat inovasi dan terobosan pembelajaran dalam pemanfaatan teknologi digital dalam PJJ daring." ujarnya.

Terobosan dan inovasi pembelajaran yang digerakkan oleh guru selain menjadi praktek baik, juga berdampak pada meningkatnya minat siswa untuk belajar lebih menyenangkan, juga meningkatkan kemampuan literasi seperti literasi baca tulis dan numerasi melalui perangkat digital.


Guru harus membuat skenario pembelajaran. sehingga target-target belajar siswa pada setiap minggu jelas, kemudian hasil belajar murid juga dapat diukur dengan baik.


"Berbicara literasi di sini mungkin bukan hanya literasi baca tulis, numerasi saja, namun karena ini pada kondisi PJJ tentunya tidak bisa dipisahkan dari literasi digital. Sebenarnya kita mendorong tumbuhnya literasi lainnya juga, yaitu literasi sains, literasi keuangan dan literasi kewarganegaraan," katanya.

Para guru diharapkan mampu memilih tema pembelajaran atau bahan ajar yang esensial dan tugas-tugas yang diberikan dipastikan dapat dilakukan oleh siswa. Guru juga harus bisa mengidentifikasi tingkat kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Karena pada kondisi pandemi Covid-19 ini, ketuntasan kurikulum bukan lagi menjadi tuntutan. Namun guru diberikan tantangan untuk berkreasi memilih materi sesuai dengan kondisi dan kesiapan siswa.

"Hal yang mengkhawatirkan adalah ketika ditemukan anak-anak kelas satu, dua atau tiga SD yang belum bisa membaca. Sesuai dengan tingkat kematangannya, “golden age” anak di usia tujuh tahun itu sudah harus bisa membaca. Atau paling cepat di usia enam tahun dan selambatnya usia delapan tahun. Tapi kebanyakan umur tujuh tahun pada kematangannya untuk bisa membaca,” ujarnya.

"Guru harus membuat skenario pembelajaran. sehingga target-target belajar siswa pada setiap minggu jelas, kemudian hasil belajar murid juga dapat diukur dengan baik," ujarnya.

Untuk menunjang optimalnya PJJ, dukungan dari keluarga dan masyarakat sangat berpengaruh bagi kenyamanan belajar anak-anak sehingga kompetensi literasi dapat berkembang secara optimal. "Keluarga bisa memberikan dukungan kepada putra-putrinya manakala dari sekolah juga membangun mekanisme komunikasi antara sekolah, siswa dan orang tua untuk membicarakan tentang perkembangan belajar anaknya," ujarnya.

"Pendampingan orang tua kepada anak itu sebaiknya lebih banyak berupa dialog atau diskusi terkait hal-hal sederhana atau pengetahuan umum yang dapat mengembangkan imajinasi, daya berpikir kritis putra-putrinya," katanya. []

Baca Juga: Sekolah Harus Diberikan Otonomi dalam Pembelajaran Daring


(Christina Butarbutar)

Berita terkait
Usulan Guru ke Pemerintah: Percepat Pembelajaran Tatap Muka
Para guru juga dituntut untuk melakukan terobosan dan invonasi dalam memberikan materi ajar agar para siswa dapat belajar lebih menyenangkan
Guru: Pembelajaran Tatap Muka Lebih Efektif untuk Siswa
Ada beberapa perbedaan dalam penerapan proses belajar mengajar di masa pandemi Covid-19 dibanding sebelumnya.
Pembelajaran Jarak Jauh Masih Terkendala Fasilitas Belajar
Selain itu, terdapat perbedaan signifikan yang dialami guru antara Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
0
Alasan Kemenag Undur Hari Libur Tahun Baru Islam 1 Muharram
Kemenag menyampaikan alasan di balik diundurnya libur tanggal merah Tahun Baru Islam 1 Muharram 1443 H yang semestinya Selasa, 10 Agustus 2021.