Kematian Akibat Rabies di Indonesia 156 Orang per Tahun

Kematian yang diakibatkan penyakit rabies di Indonesia per tahunnya berjumlah 100-156 orang.
Sejumlah anjing berada di Shelter Pejaten, Jakarta Selatan, Minggu, 7 Juni 2020. Pandemi COVID-19 berdampak pada Shelter Pejaten yang merawat sekitar 1.400 ekor anjing karena pasokan makanan anjing yang berkurang drastis. (Foto: Antara/Dhemas Reviyanto)

Jakarta - Kematian yang diakibatkan penyakit rabies di Indonesia per tahunnya berjumlah 100-156 orang. Tingkat kematian atau case fatality rate akibat rabies di Tanah Air hampir 100 persen.

Dikutip dari data Kementerian Kesehatan, 98 persen kasus rabies ditularkan melalui gigitan anjing, sedangkan 2 persennya ditularkan oleh kucing dan kera.

Pencegahan kematian akibat rabies pada manusia ditentukan oleh, satu, penanganan luka Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang tepat.

Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto mengatakan, di Indonesia, gigitan anjing dapat dicegah dengan pemeliharaan anjing domestik yang tepat dan penanganan anjing liar yang benar.

"Pencegahan kematian akibat rabies pada manusia ditentukan oleh, satu, penanganan luka Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang tepat, dua, pemberian Vaksinasi Anti Rabies (VAR), dan tiga, pemberian serum anti-rabies (SAR)," kata Terawan melalui keterangan tertulis Kemenkes yang diterima Tagar, Selasa 29 September 2020.

Tantangan berat saat ini, kata dia, adalah masih ada provinsi yang belum bebas rabies. Dari 34 provinsi di Indonesia, hanya 8 provinsi yang bebas rabies sementara 26 provinsi lainnya masih endemik rabies.

Penampungan AnjingPemilik Shelter Pejaten Susana Somali bermain dengan salah satu anjing di Shelter Pejaten, Jakarta Selatan, Minggu, 7 Juni 2020. Pandemi COVID-19 berdampak pada Shelter Pejaten yang merawat sekitar 1.400 ekor anjing karena pasokan makanan anjing yang berkurang drastis. (Foto: Antara/Dhemas Reviyanto)

Secara hitoris 8 provinsi tersebut adalah Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Papua, Papua Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Dalam 5 tahun terakhir (2015-2019) kasus gigitan hewan penular rabies dilaporkan berjumlah 404.306 kasus dengan 544 kematian. Saat itu ada 5 provinsi dengan jumlah kematian tertinggi antara lain Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Sedangkan kejadian luar biasa (KLB) rabies tahun 2019 terakhir dilaporkan terjadi di Nusa Tenggara Barat.

Hal itu menunjukkan upaya pengendalian rabies di Indonesia memerlukan langkah terstruktur dan sistematis. Peran pemerintah dan lintas sektor masih sangat dibutuhkan dalam mengatasi permasalahan tersebut

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Achmad Yurianto mengatakan, setiap tahun peringatan Hari Rabies Sedunia dilaksanakan pada setiap tanggal 28 September. Ia berharap setiap tanggal itu pemahaman masyarakat tentang pentingnya pencegahan dan pengendalian rabies meningkat.

"Namun, pada tahun ini dalam situasi pandemi covid-19, maka acara Puncak Hari Rabies Sedunia dilaksanakan secara daring," ujarnya.

Lebih lanjut, Yuri mendorong komitmen pemerintah daerah dalam menyediakan Rabies Center sebagai upaya menguatkan jejaring kerja pengendalian rabies.

Berita terkait
Digigit Anjing Liar, Warga Solok Terjangkit Rabies
Setelah menggigit, anjing itu dibunuh warga. Pria Solok tersebut kini terjangkit rabies.
Dikomen Negatif Foto Bareng Anjing, Al Ghazali Balas Santai
Putra Ahmad Dhani, Ahmad Al Ghazali, mendapat respons negatif ketika foto bareng anjing
Erick Thohir Jual Obat Avigan Rp 20 Ribu, Apa Manfaatnya?
Manfaat lengkap obat Avigan yang akan dijual Menteri BUMN Erick Thorir seharga Rp 20 ribu.
0
Tips Mencegah Keriput Pada Usia Muda
Semakin cepat mencegah keriput pada kulit wajah semakin baik hasil yang Anda dapatkan sebab keriput yang dibiarkan membuat tampilan tampak tua.