Mataram - Yudis seorang pendiri kedai kopi di daerah Kekalik, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Ia mengatakan alasan mendirikan kedai kopi adalah agar teman-temannya mempunyai tempat yang nyaman untuk berkumpul.

"Saya sering keliling Mataram dan belum menemukan tempat yang cocok, maka dari itu saya bersama teman memutuskan untuk mendirikan kedai kopi ini," kata Yudis.

Menurutnya, sebuah kedai kopi harus mempunyai identitas agar tahu apa yang akan ditunjukkan dari kedai kopi tersebut. Apakah kedai tersebut beridentitas milenial dengan tempatnya yang instagramable atau beridentitas klasik simpel.

Apa pun identitas kedai kopi tersebut, hal penting adalah bagaimana pengunjung merasa nyaman dan betah berlama-lama untuk sekadar duduk atau ngobrol.

Dari situlah kami memulai kedai ini yang awalnya memang sudah menjadi tempat nongkrong, kenapa tidak sekalian nongkrong yang menghasilkan uang.

Selain itu, katanya, kedai kopi sekarang tidak hanya menjadi tempat ngopi. Namun, lebih dari itu banyak kegiatan digelar di kedai kopi. Bedah buku, nonton bareng, hingga temu komunitas.

Di Kota Mataram Nusa Tenggara Barat beberapa kedai kopi didirikan dengan tujuan awal untuk tempat nongkrong santai dan cocok untuk berbincang-bincang.

Yudis bukan satu-satunya pemilik kedai kopi di Mataram. Saat ini di kota ini hadir banyak kedai kopi. Masing-masing punya strategi untuk menarik minat pengunjung. Di antaranya beberapa kedai kopi mengadakan live music beberapa kali dalam seminggu.

Arwadi seorang pemilik kedai kopi daerah Gomong mengisahkan sejarah awal usahanya.

"Dulu tempat ini untuk komunitas kumpul-kumpul saja, ternyata pas lagi kumpul-kumpul ada orang masuk dan mengira ini kedai kopi. Dari situlah kami memulai kedai ini yang awalnya memang sudah menjadi tempat nongkrong, kenapa tidak sekalian nongkrong yang menghasilkan uang," kata Arwadi.

Tren yang Berulang

Di tempat terpisah dilansir Antara, Paox Iben seorang pendiri kedai kopi mengatakan tren ngopi hanya sebuah tren yang berulang karena kopi sendiri sudah ada sejak 1000 tahun sebelum masehi.

Ia mengatakan munculnya kedai kopi karena orang-orang sekarang lebih memilih tempat yang santai untuk berkumpul, dan kedai kopi adalah tempat yang identik dengan itu.

"Kopi ini sudah ada sejak 1000 tahun sebelum masehi, jadi orang ngopi itu sudah lama dan yang membuat kedai kopi banyak bermunculan karena orang membutuhkan tempat yang santai untuk sekadar ngopi dan ngobrol," katanya.

Ia juga mengatakan bisnis kopi akan tetap stabil dalam waktu yang lama karena bagaimana pun juga orang di seluruh dunia akan tetap membutuhkan kopi.

Kalau tidak minum kopi rasanya pusing dan hampa.

Yang dibutuhkan kedai kopi agar tetap bertahan, lanjutnya, adalah kreatifitas pengelola kedai tersebut. Karena dengan kreativitas, akan lahir banyak karya dari sebuah biji kopi.

Seperti layaknya beras yang dapat diolah menjadi berbagai macam makanan begitupun dengan kopi.

Sebenarnya budaya ngopi sudah menjadi tradisi turun-temurun dari generasi ke generasi bagi Suku Sasak yang tinggal di Pulau Lombok. Jauh hari sebelum bermunculan kedai kopi bak jamur.

Selalu ada kopi dalam setiap kegiatan apa pun. Bahkan dalam kunjungan bertamu, minuman kopi selalu menjadi suguhan wajib menemani hidangan makanan.

"Terutama bagi kaum laki-laki," kata Ahmad Jabai warga Mataram yang telah menikmati kopi sejak 40 tahun lalu.

Ahmad mengatakan kebiasaan turun-temurun ini ia miliki sejak berusia belia hingga sekarang. 

"Kalau tidak minum kopi rasanya pusing dan hampa," katanya.

Ketika menjajaki setiap pedesaan di seluruh wilayah Pulau Lombok dari Lombok Barat hingga Lombok Timur, dari ujung selatan Lombok sampai ujung utara, pasti akan dijumpai tradisi masyarakat yang fanatik terhadap kopi.

Jabai yang juga tokoh masyarakat Lingkungan Pagutan itu mengatakan, setiap kali berkunjung ke rumah warga pasti tuan rumah akan mengeluarkan secangkir kopi.

"Sekiranya kita mendatangi 10 rumah maka 10 cangkir kopi yang akan kita minum," tutur Ahmad Jabai. []

Baca juga: