UNTUK INDONESIA

Kebersamaan Ratusan Pengungsi Gunung Merapi di Boyolali

Ratusan warga dari pedukuhan yang terletak kurang dari 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi di Boyolali telah mengungsi. Ini suasana pengungsian.
Warga menyiapkan makan di Gedung serbaguna Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali yang dijadikan Tempat Penampungan Pengungsi Sementara (TPPS). (Foto: Tagar/Sri Nugroho)

Boyolali – Sejumlah anak terlihat asyik bermain dan bercanda di sekitar gedung berukuran 12x20 meter, di kawasan Desa Tlogolele. Di sampingnya, sejumlah warga yang sebagaian besar merupakan lansia tampak duduk berjajar dengan kursi plastik berwarna hijau, tepat di samping pintu masuk gedung.

Para lansia yang merupakan pengungsi ini menyapa ramah melalui anggukan kepala mereka. Meski wajah mereka tertutup masker, namun dari gerakan wajah mereka dapat diketahui bahwa mereka menyunggingkan senyum. Tak ada tatapan curiga sedikitpun walaupun tamu yang datang tidak selalu orang yang mereka kenal sebelumnya.

Melewati pintu lipat berwarna hijau, terlihat seorang lansia yang berpakaian batik cukup kumal, yang mungkin sudah kenakannya untuk tidur tadi malam. Jemari tangan kanannya memegang piring plastik berwarna oranye. Di dekatnya terdapat baskom berbahan aluminium berukuran cukup besar berisi nasi.

Cerita Pengungsi Boyolali (2)Anak-anak tengah bermain di Gedung Serbaguna Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali yang dijadikan Tempat Penampungan Pengungsi Sementara (TPPS) dari empat dukuh yang berjarak kurang dari 5 km dari puncak Merapi. (Foto: Tagar/Sri Nugroho)

Begitu suasana di di Tempat Penampungan Pengungsi Sementara (TPPS) Desa Tlogolele, Kabupaten Boyolali, yang berisi para pengungsi dari pedukuhan yang terletak kurang dari lima kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Ratusan Warga Diungsikan

Jalur menuju lokasi itu cukup berkelok-kelok dan sempit, khas jalur di daerah pegunungan. Dari Kota Solo, perjalanan menggunakan sepeda motor menuju lokasi itu ditempuh selama hampir dua jam.

Setelah melewati jalanan aspal dan beton sepanjang jalur Cepogo hingga Selo, jalur menuju Desa Tlogolele melintasi jalur pedesaan dari kawasan Desa Jrakah. Medan yang naik turun dan permukaan jalan yang tidak mulus membuat pengendara sepeda motor harus ekstra hati-hati.

Jalanan utama menuju beberapa dukuh dan desa di lereng Merapi di Kabupaten Boyolali ini terbilang sempit. Jika ada dua kendaraan roda empat yang berpapasan, khususnya truk, salah satunya harus menepi lebih dulu memberikan kesempatan kendaraan lainnya melintas.

Di TPPS Tlogolele ini sebanyak 133 orang warga dari empat dukuh mengungsi setelah status aktivitas Gunung merapi ditingkatkan dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III).

Sekretaris Desa Tlogolele, Neigen Achtah Nur ES, menjelaskan, dari 133 pengungsi tersebut, sebagian besar adalah lansia, sisanya adalah ibu hamil dan balita.

Ada 133 warga yang terdiri dari lansia dan anak-anak usia 6-10 tahun yang ditampung di TPPS ini. Mereka adalah kelompok rentan. Sedangkan ibu hamil dan balita ada di rumah warga yang diizinkan dipakai. Total ada 31 bilik yang disiapkan.

Sejumlah kesibukan terlihat di gedung dengan konstruksi cukup tinggi, berdinding warna krem itu. Beberapa mobil dengan logo Palang Merah Indonesia dan mobil pribadi tampak terparkir di halaman gedung.

Sebelum memasuki gedung, semua tamu diwajibkan untuk menggunakan masker, melakukan pengecekan suhu tubuh, serta mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer.

Cerita Pengungsi Boyolali (3)Para lansia tampak duduk santai di Gedung Serbaguna Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali yang dijadikan Tempat Penampungan Pengungsi Sementara (TPPS). (Foto: Tagar/Sri Nugroho)

Di dalam gedung terdapat puluhan bilik yang terbuat dari tripleks. Ini berbeda dengan suasana barak pengungsian sebelum-sebelumnya, yang berupa gedung tanpa sekat dan diisi dengan warga yang mengungsi, lengkap dengan beragam barang bawaannya.

Ukuran tiap bilik yang didirikan adalah sekitar 2x2 meter dengan tinggi sekitar 150 cm. Mayoritas bilik yang ada beralaskan tikar. Namun ada pula yang beralas kasur kapuk yang dibawa warga dari rumahnya.

Pada tiap bilik terdapat nomor-nomor yang ditempel. Letaknya tepat di ujung pintu masuk masing-masing bilik. Harus hati-hati untuk menuju ke bagian dalam karena akses jalan menuju ke bilik-bilik yang ada hanya punya lebar sekitar satu meter saja.

Neigen menjelaskan, pandemi Covid-19 yang melanda saat ini menghadirkan banyak hal yang berbeda bagi warga yang mengungsi.

“Kita juga memperhatikan benar protokol kesehatan warga terkait pandemi saat ini. Pendirian bilik-bilik ini menjadi salah satu hal yang baru demi meminimalisir pemaparan di masa pandemi,” ucap Neigen.

Kebiasaan baru lainnya, lanjut Neigen, adalah displin melaksanakan 3 M, yakni memakai masker, mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer juga menjaga jarak. Pihaknya terus mengedukasi warga pengungsi untuk melaksanakan 3 M tersebut selama berada di pengungsian.

Fasilitas Protokol Kesehatan

Untuk menerapkan protokol kesehatan selama pandemi, di tempat itu juga telah disiapkan sejumlah fasilitas pendukung, termasuk tempat cuci tangan, yang terbuat dari tangki berukuran besar berwarna oranye, lengkap dengan sabun dan tisu bersih yang selalu diperhatikan ketersediannya.

Cerita Pengungsi Boyolali (4)Warga mencuci tangan di tempat yang sudah disiapkan di Gedung Serbaguna Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali yang dijadikan Tempat Penampungan Pengungsi Sementara (TPPS). (Foto: Tagar/Sri Nugroho)

Salah satu warga yang terlihat disiplin menggunakan masker adalah seorang nenek bernama Tasrih, 65 tahun, warga Dukuh Gumuk.

“Saya hanya ikut perintah saja. Disuruh pakai masker karena ada virus corona, ya saya ikuti saja walau rasanya tak biasa,” kata Tasrih.

Warga lainnya, Parni, 46 tahun, asal Dukuh Stabelan mengaku bahwa keberadaan bilik di pengungsian juga adalah hal yang baru. “Sebelum-sebelumnya tidak ada bilik. Semua jadi satu. Katanya untuk mencegah virus apa itu,” kata Parni.

Parni mengaku sudah merasa jenuh tinggal di pengungsian walau baru beberapa hari berada di sana. Tapi, Parni mengaku punya cara untuk mengusir jenuh, yakni dengan berjalan-jalan di sekitar lokasi pengungsian.

“Tiap hari saya di sini cuma makan, tidur saja. Agar tidak bosan ya paling jalan-jalan keliling daerah sini saja,” ujar Parni menambahkan.

Di bagian depan gedung, tepat disisi kanan lapangan bola volley, beberapa tenda telah berdiri. Salah satunya, yang paling besar adalah milik kepolisian. Sementara tenda lain yang terbuat dari terpal berwarna biru digunakan sebaga dapur umum.

Tumpukan ranting, kayu kering hingga bambu tertata rapi di dekat beberapa warga yang tengah mengisi pandi berukuran besar dengan air. Kayu-kayu itu akan digunakan sebagi bahan bakar di dapur umum pengungsian.

Suasana di dapur umum ini begitu kental dengan nilai gotong-royong yang sudah sangat jarang dirasakan oleh warga yang ada di perkotaan. Sejumlah warga lain dan relawan yang bukan merupakan pengungsi juga turut membantu para pengungsi dalam menyiapkan kebutuhan mereka.

Cerita Pengungsi Boyolali (5)Warga memasak air di dapur umum di depan Gedung Serbaguna Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali yang dijadikan Tempat Penampungan Pengungsi Sementara (TPPS). (Foto: Tagar/Sri Nugroho)

Seorang warga bernama Panti, 46 tahun, mengatakan bahwa setiap RT di sekitar TPPS itu secara bergiliran menyumbangkan tenaga dan waktunya untuk memasak di dapur umum.

“Sekali masak, ada 12 orang yang membantu. Masing-masing pada pagi, siang dan sore hari,” kata Panti.

Dia menambahkan, semua bahan dan peralatan masak sudah tersedia di dapur umum TPPS Tlogolele. Sedang untuk menu yang dimasak, daftarnya sudah disiapkan oleh petugas yang memang khusus menangani masalah dapur umum.

“Untuk menu, selalu berganti tiap pagi, siang dan sore harinya. Baik lauk maupun sayurnya,” kata Panti menambahkan.

Dia juga mengatakan bahwa menu yang dimasak juga disesuaikan dengan pengungsi yang ada. Karena pengungsi di TPPS Tlogolele terdiri dari lansia, anak-anak, balita dan ibu hamil yang lokasinya terpisah. Dia menunjukkan menu makanan untuk lansia dan balita yang tentu saja berbeda dengan anak-anak atau orang dewasa lainnya.

“Sekali masak, sekitar 10 kg beras untuk kebutuhan 200 orang,” ucapnya. []

Berita terkait
Kreativitas Pemuda Yogyakarta Gelar Pameran Ekspor Virtual
Sejumlah pemuda di Yogyakarta bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY menjadwalkan pameran ekspor secara virtual.
Cerita 50 Tahun Jadi Perajin Tanduk di Yogyakarta
Harto Mulyono, 78 tahun, pembuat kerajinan berbahan tanduk kerbau di Kotagede, Yogyakarta, menceritakan suka duka selama puluhan tahun.
Melihat Salinan Ijazah SD dan Foto Tembem Jokowi di Solo
Salinan ijazah sekolah dasar milik Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) tersimpan dengan rapi dalam pigura berbingkai warna emas di SDN Tirtoyoso 111.
0
Kebersamaan Ratusan Pengungsi Gunung Merapi di Boyolali
Ratusan warga dari pedukuhan yang terletak kurang dari 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi di Boyolali telah mengungsi. Ini suasana pengungsian.