UNTUK INDONESIA
Kapal Nelayan Tegal dengan Tujuh ABK Hilang Kontak
Sebuah kapal nelayan di Kota Tegal, Jawa Tengah hilang kontak saat melaut diduga karena diterjang ombak.
Sejumlah kapal nelayan bersandar di Pelabuhan Perikanan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Jawa Tengah, Rabu 31 Juli 2019.(Foto: Tagar/Farid Firdaus)

Tegal - Ombak tinggi ‎melanda Laut Jawa dalam beberapa hari terakhir. Sebuah kapal nelayan di Kota Tegal, Jawa Tengah hilang kontak saat melaut diduga karena diterjang ombak.

‎Informasi adanya kapal nelayan yang hilang tersebut diungkapkan salah satu nelayan di Pelabuhan Perikanan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Rendi, 23 tahun‎.

"Kapal milik paman saya hilang tidak ada kontak. Radionya mati. Takutnya kapal pecah kena ombak karena kondisi kapal sudah tua dan sekarang ini ombak sedang tinggi, sampai tiga meter," kata Rendi kepada Tagar, Rabu 31 Juli 2019.

Rendi mengungkapkan, kapal yang hilang berukuran 14 gross ton (GT) dengan hasil tangkapan rajungan dan kepiting. Kapal ini berangkat melaut dari Pelabuhan Muarareja ke perairan sekitar Pulau Kalimantan pada 1 Juli 2019.

Ada tujuh nelayan di dalam perahu itu, termasuk pemilik kapal Subandi, 35 tahun, warga RT 2 RW 3, Kelurahan Muarareja‎.

"ABK (anak buah kapal)-nya tujuh orang. Biasanya kalau melaut paling lama 20 hari. Ini sampai satu bulan belum kembali. Kontak lewat radio tidak bisa. Kalau sudah di darat, harusnya HP juga bisa dihubungi. Ini sama sekali tidak ada kabar. Keluarganya sudah cemas," ujar Rendi.

‎Rendi mengaku sudah berupaya mencari informasi keberadaan kapal pamannya melalui kontak radio kapal ke nelayan-nelayan lain yang juga menggunakan kapal jenis sama dan melaut di perairan yang sama. Namun hasilnya nihil. Sedangkan untuk melaporkan ke kepolisian air atau otoritas terkait lain dia mengaku dilema.

Baca juga:

"Kami belum melapor. Khawatir justru disalahkan karena kapal paman saya belum lengkap surat-surat izin melautnya. Jadi belum ada pencarian. Pencarian hanya lewat nelayan-nelayan lain," ungkapnya.

‎Rendi menyebut, saat ini kondisi wilayah perairan Laut Jawa sedang dilanda ombak tinggi disertai angin kencang. Dari sekitar 100 kapal di Pelabuhan Muareja, hanya sebagian kecil yang berani melaut hingga ke parairan sekitar Kalimantan.

"Bisa dibilang yang berangkat nekat karena kalau tidak melaut tidak ada penghasilan. Lainnya kebanyakan melaut yang dekat-dekat. Hanya 50 mil dari darat. Melautnya empat hari. Ganti alat tangkap, pakai pukat harimau. Dapatnya juga lebih kecil penghasilannya," ucap Rendi.

‎Nelayan lainnya, Warsad, 45 tahun, mengaku sudah 12 hari tidak melaut salah satunya karena cuaca buruk di Laut Jawa. "ABK juga tidak ada. Kalau cuaca pas lagi bagus paling lama lima hari di darat sudah berangkat melaut lagi," ujarnya.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Tegal, Riswanto mengaku belum mendapat informasi terkait adanya kapal nelayan yang hilang kontak.

"Saya belum dapat informasinya. Kebetulan saya sedang tidak berada di Indonesia," katanya saat dihubungi melalui pesan singkat, Rabu 31 Juli 2019.

‎Sementara itu, Prakirawan Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tegal, Layla Isaneni mengimbau nelayan untuk lebih waspada jika melaut. Sebab gelombang tinggi di perairan Laut Jawa berpotensi masih terjadi pada satu hingga dua pekan ke depan.

"Gelombang tinggi berkisar 1,25 sampai 2,5 meter. Berpotensi masih tinggi satu hingga dua minggu ke depan. Ini pengaruh angin monsoon yang kuat," jelasnya.[]


Berita terkait
0
Sekjen NasDem: Soal Kabinet, Itu Kewenangan Presiden
Pertemuan Prabowo Subianto dengan Surya Paloh tidak membicarakan soal koalisi, opsisi dan jatah menteri karena merupakan kewenangan presiden