Kanker Serviks Pembunuh No 2 Perempuan Indonesia

4 Februari 2020 sebagai Hari Kanker Sedunia untuk mendorong semua negara menyelamatkan perempuan agar tidak mati sia-sia karena kanker serviks
Ilustrasi (Foto: cute-calendar.com)

Oleh: Syaiful W. Harahap*

Laporan Global Cancer Observatory tahun 2018 diperkirakan di Indonesia 32.469 kasus kanker serviks per tahun dengan 18.279 kematian. Dengan jumlah kematian ini, maka setiap hari 50,1 perempuan di Indonesia meninggal dunia karena kanker serviks. Artis Julia Perez (Jupe) jadi korban kanker serviks. Kematian akibat kanker serviks jadi penyebab kematian perempuan nomor dua di Indonesia.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan kepedulian dunia untuk menyelamatkan 7 juta jiwa perempuan dari kanker, terutama kanker serviks melalui Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day) tanggal 4 Februari 2020.

1. Jika Kanker Serviks Dideteksi Dini Bisa Disembuhkan

Kanker serviks merupakan kanker yang paling umum keempat pada perempuan. Tahun 2018 diperkirakan 570.000 perempuan di dunia didiagnosis dengan kanker serviks, sekitar 311.000 diantaranya meninggal karena penyakit tersebut. Lebih dari 85% kematian akibat kanker serviks terjadi pada perempuan di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Kematian perempuan karena kanker serviks ini merupakan 7,5% dari semua kematian perempuan karena kanker.

Hampir semua kasus kanker serviks (99%) terkait langsung dengan infeksi human papillomaviruses (HPV). Virus ini ditularkan melalui hubungan seksual di dalam nikah dan di luar nikah yang ditularkan oleh laki-laki. Virus ini juga bisa menular melalui kontak genital kulit ke kulit.

Pada laki-laki virus kanker serviks yang menempel di penis tidak menimbulkan kesakitan. Tapi, ketika hubungan seksual virus ‘pindah’ ke mulut rahim yang jadi tempat bagi virus itu.

ilus kanker2Ilustrasi (Foto: indiatoday.in)

Infeksi HPV bisa sembuh dan tidak menunjukkan gejala, tapi jika infeksi persisten atau terus-menerus terjadi bisa menyebabkan kanker serviks pada perempuan. Infeksi persisten bisa terjadi jika seorang perempuan berulang kali melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang sama yang mengidap virus kanker serviks.

Jika terdiagnosis lebih awal kanker serviks bisa diobati, tapi jika terdiagnosis pada stadium lanjut kanker serviks bisa dikontrol dengan perawatan paliatif yang tepat. Sedangkan pendekatan yang efektif secara primer adalah dengan vaksinasi HPV. Jika dilakukan penanganan yang komprehensif yaitu vaksinasi HPV, deteksi dini dan pengobatan yang holistik diharapkan kanker serviks bisa diatasi untuk generasi berikut.

Celakanya, ketika Ahok, Basuki Tjahaja Purnama yang waktu itu sebagai Gubernur DKI Jakarta, memberikan vaksinasi HPV gratis kepada murid-murid perempuan SD di Jakarta malah dihujat dan ditolak. Waktu itu Pilgub DKI Jakarta (2017) sehingga dimanfaatkan oleh pendukung pesaing dengan mengatakan Ahok akan memandulkan anak-anak perempuan. Vaksinasi yang dilakukan Ahok gratis. Harga vaksin Rp 750.000 – Rp 1.300.000. Vaksinasi ini 100% bisa melindungi perempuan dari infeksi virus HPV.

2. Australia Akan Jadi Negara Pertama Bebas Kanker Serviks

Pencegahan primer infeksi virus kanker serviks dimulai dengan vaksinasi HPV pada anak perempuan berumur 9-14 tahun. Ini diperkirakan sebelum mereka menjalani seks secara aktif.

Kalau saja vaksinasi HPV berjalan mulus dan menjangkau semua anak perempuan usia SD (11-12 tahun), maka pada tahun-tahun yang akan datang tidak akan ada lagi perempuan Indonesia yang mati sia-sia karena kanker serviks. Tapi, karena ada hambatan vaksinasi HPV dan akses ke fasilitas kesehatan yang belum merata, maka perempuan tetap berisiko jadi korban kanker serviks. Padahal, vaksinasi gratis didukung oleh GAVI (Global Alliances fro Vaccine and Immunization) sebagai uji coba di Jakarta dan Yogyakarta.

ilus kanker3Ilustrasi (Foto: medicine.yale.edu)

Australia diperkirakan akan jadi negara pertama di dunia yang bebas kanker serviks karena tingkat vaksinasi yang tinggi di Negara Kangguru itu. Sekitar 95% anak perempuan usia di bawah 15 tahun di negara itu sudah divaksinasi HPV. Ini bertolak belakang dengan Indonesia yang justru menolak vaksinasi yang dikompori provokator berbalut politik agama.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2018 menggalang kepedulian global agar bertindak untuk menghapus kanker serviks. Tentu saja diperlukan kemauan politik untuk mendorong masyarakat menerima vaksinasi HPV tanpa harus dibenturkan dengan politik agama. Ada Strategi Global menuju Penghapusan Kanker Serviks sebagai masalah kesehatan masyarakat dengan harapan negara-negara anggota PBB mendukung strategi ini.

Agar eliminasi virus kanker serviks bisa dipercepat, maka setiap negara anggota diharapkan mendukung capaian global pada tahun 2030, melalui:

• 90% cakupan vaksinasi HPV anak perempuan (di bawah usia 15 tahun);

• 70% cakupan skrining (70% wanita diskrining dengan tes kinerja tinggi pada usia 35 dan 45 tahun) dan 90% pengobatan lesi prakanker;

• Manajemen 90% kasus kanker invasif.

Maka, tidak ada pilihan lain selain mendukung program vaksinasi HPV untuk menyelamatkan perempuan di negeri ini dari kematian sia-sia akibat kanker serviks. 

Soalnya, sangat sulit mengajak laki-laki untuk menjaga perilaku seksual mereka di luar rumah sehingga vaksinasi HPV merupakan pilihan terbaik untuk menyelamatkan perempuan di negeri ini (Bahan-bahan: WHO dan sumber-sumber lain). []

* Syaiful W. Harahap, Redaktur di tagar.id

Berita terkait
Mengapa Harus Merayakan Hari Kanker Sedunia?
Hari kanker sedunia selalu diperingati setiap 4 Februari. Tentu ada alasannya mengapa setiap tanggal itu harus dirayakan oleh seluruh dunia.
Pentingnya Pap Smear di Pencegahan Kanker Serviks
Pap smear masih menjadi kegamangan tersendiri bagi sejumlah perempuan menikah. Padahal langkah medis ini penting untuk cegah kanker serviks
Ancaman Kanker Serviks Kaum Hawa dan Deteksi Dini
Bagi wanita, menjaga organ intim merupakan hal paling utama karena ancaman kematian kanker serviks.
0
Parlemen Eropa Kabulkan Status Kandidat Anggota UE kepada Ukraina
Dalam pemungutan suara Parlemen Eropa memberikan suara yang melimpah untuk mengabulkan status kandidat anggota Uni Eropa kepada Ukraina