UNTUK INDONESIA

Perjalanan Susu Dingin Semarang ke Konsumen di Jakarta

Seorang distributor susu murni dalam kemasan mengisahkan suka dukanya menjadi penyalur susu di tengah hantaman pandemi dan musim hujan.
Muhadi menunjukkan susu murni jualannya yang masih ada di dalam lemari pendingin. (Foto: Tagar/Sarah Rahmadhani Syifa)

Jakarta – Susunan gelas plastik beraneka warna terlihat saat Muhadi membuka lemari es tempat penyimpanan susu. Susu dalam gelas plastik dengan beragam variasi rasa tersusun. Jumlahnya puluhan, bahkan mungkin ratusan.Uap dingin mengalir sejuk saat tutupnya dibuka.

Tidak jauh dari situ, puluhan gerobak berwarna biru berjejer. Gerobak-gerobak itu yang biasa digunakan untuk menjajakan susu murni, lengkap dengan speaker kecil yang menghasilkan suara nyaring menawarkan susu.

Muhadi adalah distributor usaha penjualan susu murni dalam kemasan gelas plastik, yakni Susu Nasional, untuk wilayah Condet dan Kramat Jati, Jakarta Timur. Muhadi memulai usahanya pada tahun 1997 atau sekitar 23 tahun.

Dia mengendalikan penjualan susu buatan Semarang, Jawa Tengah tersebut dari rumahnya, di Jalan Ikan Hias Gg Nasional. Muhadi mengatur dan mencatat pekerjaan para karyawannya.

Keuntungan Minim

Muhadi memiliki tujuh karyawan yang bertugas mendistribusikan susu menggunakan gerobak sepeda. Jumlah yang dibawa tak menentu. Jika hujan mereka hanya membawa sedikit, dalam satu krat dapat menampung 126 gelas susu segar. Untuk ukuran bantal sebanyak 40 biji dalam satu plastiknya.

Gerobak sepeda untuk para karyawan dirakit sendiri oleh Muhadi. Ia memodifikasi menggunakan sepeda roda dua dan serangkaian besi, “Sudah siap tinggal pasang ban dan pernya,” tuturnya.

Proses merakit dengan tukang las memerlukan waktu dua bulan, dan dapat menghasilkan 25 unit gerobak sepeda. Muhadi membeli besi bahan baku langsung dari pabrik baja ringan, sementar proses merakit dilakukan di daerah Ciracas dan Cawang.

Harga besi per batang bervariasi mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu dengan panjang 6 meter. Dalam satu kali pembuatan memerlukan 25 batang besi.

Cerita Susu Murni (2)Gerobak susu murni yang digunakan untuk menjual dirakit sendiri oleh Muhadi. (Foto: Tagar/Sarah Rahmadhani Syifa)

Gerobak sepeda itu digunakan berkeliling mulai dari Kelurahan Batu Ampar, Balekambang, Tengah, Gedong, Kramat jati hingga Pasar Induk. Hari itu, Rabu, 16 Desember 2020 karyawan yang keliling hanya berjumlah lima orang.

“Dua orangnya lagi nggak ada, nggak dagang-dagang nih orangnya” tambahnya sambil menunjuk salah satu pria yang saat itu sedang membenarkan gerobak dan memegang obeng di tangan kanannya.

Karyawan Muhadi berasal dari berbagai daerah, ada orang Jawa, Betawi, dan Pandeglang Banten. Sebagian besar mereka sudah berkeluarga, hanya dua orang yang masih bujang, yang berasal dari Lampung dan Semarang. Keduanya tinggal di rumah Muhadi.

“Masih bujangan, asal Semarang dan Lampung. Yaitu Teguh yang sudah 4 tahun dan Fajar 7 tahun.”

Para karyawan itu mengambil susu pada pagi hari, kemudian setelah selesai menjual, mereka menyetorkan uang hasil jualannya bersama susu yang tidak terjual.

Keuntungan yang didapatkan oleh para penjual tidak besar, satu gelas susu yang dibanderol dengan harga Rp 3.000 biasa diambil dari distributor seharga Rp 2.200. Sehingga keuntungan dari penjualan hanya sekitar Rp 800.

Penjual keliling juga tidak bisa menjual melebihi dari Rp 3000 karena di kemasan ada tulisan harganya.

Penjualnya nggak bisa ngambil untung gede, sesuai dengan brosur harga-harganya.

Sementara, untuk harga Yoghurt dalam kemasan botol dibanderol dengan harga Rp 7.000 dan susu kemasan bantal dijual dengan harga Rp 2.000.

Karyawan yang menjual susu keliling tidak dibebani target jumlah susu yang harus dibawa, tergantung kemampuan para penjual keliling dalam menjual.

“Paling cokelat 60, strawberry 40, mocca dan jeruk 10, yoghurtnya 5 tiap rasa.” Jawab Muhadi saat ditanya berapa rata-rata jumlah susu yang dijualkan oleh pengeliling tiap harinya.

Dalam sehari total omzet dari penjualan susu antara Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu. Sementara keuntungan yang bisa diambil dari susu itu tidak terlalu besar, saat ramai bisa Rp 150.000, jika sepi sekitar Rp 40.000,

“Keuntungannya itu hak pengeliling, terserah dia apa mau nabung disini atau buat biaya sehari-hari, kalau nabung disini ada pembukuannya.”

Selain mendapatkan keuntungan dari penjualan harian, karyawannya juga mendapatkan bonus setiap 20 hari, serta gaji tahunan sebagai bonus. Jumlah bonus tahunan beda-beda tergantung seberapa rajin dan banyak gelas yang terjual.

“Berapa perak dikali 12 bulan, nanti dibagi dua, dibayar enam bulan sekali,” ucapnya.

Muhadi melanjutkan, kata dia, dulu, sebelum area distribusi dipecah, Muhadi juga menangani distribusi area Kampung Makassar. Saat itu karyawannya berjumlah lebih dari 20 orang.

Dalam sehari susu yang dijual tidak selalu habis, bila sedang sepi susu akan tersisa cukup banyak. Tapi, itu juga tergantung pada kegigihan penjualnya dalam menjajakan susu.

“Kalau kelilingnya hanya sekitar sini pasti sorenya sisa, tidak abis gitu. Ditambah keadaan sekarang yang hujan mulu,” ucapnya.

Muhadi menambahkan, tidak semua karyawannya bisa bertahan lama untuk menjual susu. Ada yang bertahan sampai beberapa tahun, tetapi ada juga yang hanya sanggup bertahan lima bulan.

Cerita Susu Murni (4)Susu murni beragam varian rasa dan yoghurt yang ada dalam lemari pendingin milik Muhadi. (Foto: Tagar/Sarah Rahmadhani Syifa)

Jika ada pegawai yang pernah keluar lalu ingin kembali menjual, Muhadi memperbolehkannya, asal mereka mau berkomitmen.

Hantaman Pandemi dan Musim Hujan

Imbas dari pandemi Cvid 19 juga dirasakan oleh Muhadi. Jumlah susu yang dikirimkan dari pabrik menurun, tetapi dia tetap bersyukur karena harga susu tetap konstan di range harganya.

Nggak ada penaikan, ini pun sudah berapa tahun tidak dinaikkan, mungkin bila harga harus dinaikkan ada ukuran yang dikurangi gitu aja,” katanya.

Meski harga tidak naik, omzetnya menurun hingga sekitar 200 gelas per hari, atau sekitar sepertiga dari omzet biasanya yang mencapai 600 gelas.

Susu-susu itu dikirim dari Semarang menggunakan mobil kontainer. Sebelum pandemi, pengiriman dilakukan setiap hari. Tapi setelah pandemi dan pemintanya menurun, susu datang dua hari sekali. Biasanya ia mengambil susu pada malam hari sekitar pukul 12.00 tergantung kedatangan supir.

“Ya begitu, Neng, pasang surut,” katanya.

Selain musim hujan dan pandemi, kendala lain yang dihadapinya adalah susu yang basi karena kesalahan dari pabrik. Susu yang basi harus dibuang.

Masa kedaluarsa susu hanya lima hari, bahkan jika usia susu sudah mencapai empat hari, susu sudah tidak boleh dijual.

“Misal nih expired tanggal 18, berarti sekarang tanggal 17 ya tidak bisa dijual. Seperti ini contohnya,” ujarnya sambil menunjukan susu yang hampir basi yang telah dipisahkan agar tidak dijual.

Susu yang hampir basi tersebut boleh diminum oleh siapa saja yang ada di rumah Muhadi, baik keluarga maupun karyawan.

boleh. Kalau kita udah biasa. Mana sekarang hujan jadi kita bingung hujannya nanti berhenti nanti hujan lagi, yang keliling juga malas jadinya. Ada alasannya sakit lah, atau apalah.”“Kalau orang luar mah nggak boleh. Kalau kita mah udah biasa. Mana sekarang hujan mulu jadi kita bingung hujannya nanti berhenti nanti hujan lagi, yang keliling juga malas jadinya. Ada aja alasannya sakit lah, atau apalah.”

Cerita Susu Murni (4)Salah satu susu murni Nasional dengan rasa cokelat dalam kemasan gelas plastik. (Foto: Tagar/Sarah Rahmadhani Syifa)

Untuk menjaga kesegaran susu, pendistribusian dan penyimpanannya selalu dalam suhu dingin. ”Dari pabrik pakai es, di mobil truk pakai es, di freezer pakai es, di gerobak keliling juga pakai es, kalau penjualan sisa ditaruh di freezer yang ber-es lagi,” ucapnya.

Mengenai proses pembuatan di pabrik, Muhadi mengaku tidak mengetahui. Dia hanya tahu bahwa setelah susu dari peternak tiba langsung dicek di laboratorium.

Selanjutnya susu itu dimasukkan ke tangki atau tower, lalu dicampur dengan gula atau perasa, dan proses terakhir dikemas

Sedangkan untuk membuat yoghurt, harus ditambah asam yang bagus untuk diet dengan kalori yang sedikit dan lebih kental teksturnya. []

(Sarah Rahmadhani Syifa)

Berita terkait
Difabel Penjual Masker di Bogor, Tak Pulang Sebelum Ada Uang
Seorang difabel buta, Rinawati, 44 tahun, berdagang masker di Stasiun Bojong Gede, Bogor. Dia punya prinsip pantang pulang sebelum dapat uang.
Yang Hilang dan Tetap Ada Saat Natal di Masa Pandemi
Ada sesuatu yang hilang dalam perayaan Natal di masa pandemi, tetapi ada juga hal-hal yang tetap ada, yaitu damai dan kasih.
Berteman Gerobak Rujak Buah Hadapi Pandemi di Jakarta
Seorang penjual rujak buah di Pasar Baru, Jakarta, menceritakan bagaimana pandemi membuat omzet dagangannya menurun drastis.
0
Perjalanan Susu Dingin Semarang ke Konsumen di Jakarta
Seorang distributor susu murni dalam kemasan mengisahkan suka dukanya menjadi penyalur susu di tengah hantaman pandemi dan musim hujan.