UNTUK INDONESIA
Kabinet Jokowi Kedua, CEO Gojek Jadi Menkominfo?
CEO Gojek Nadiem Makarim dinilai cocok menjadi Menkominfo dalam kabinet Presiden Jokowi periode kedua.
Presiden Jokowi mengajak keluarga menyantap kuliner khas kampung halamannya di Solo, Minggu 9 Juni 2019. Melihat kedatangan Presiden, masyarakat sekitar dan pengunjung kedai soto langsung berebut untuk bersalaman. (Foto: Muchlis Jr-Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta - Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menyebutkan CEO Gojek Nadiem Anwar Makarim cocok menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) dalam kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) periode kedua. 

Hal itu dikatakan Wasisto menanggapi pernyataan Jokowi yang menyebut bakal memilih sejumlah menteri dari kalangan muda bila menang sidang sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK). 

"Saya kira CEO Gojek lebih cocok jadi Menkominfo," kata Wasisto kepada Tagar, Selasa 18 Juni 2019. 

Menurut dia, Nadiem memang sosok anak muda yang kreatif dan berintegritas. Musababnya, CEO Gojek itu telah menunjukkan prestasinya dalam memajukan perusahaan yang dipimpinnya menjadi unicorn

Wasisto menilai CEO Gojek saat ini memiliki kapabilitas sesuai dengan visi misi Jokowi dalam menjalankan pembangunan Indonesia. Melihat program Jokowi yang menggaungkan revolusi Industri 4.0 dalam debat calon presiden dan wakil presiden 2019. 

"Karena beliau (Nadiem) punya kemampuan IT dan analisa big data mumpuni. Hal itu penting untuk memperkuat revolusi industri 4.0 di Indonesia," ucap dia. 

Wasisto mengaku, Nadiem memiliki karakter yang disenangi Jokowi. Pasalnya, Jokowi menyukai pola pikir anak muda yang ingin maju. 

Saya pikir Jokowi suka pada anak-anak muda yang kritis. Tapi berkeinginan memajukan negara.

Berbeda dengan Wasisto, Pengamat Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio memandang Nadiem belum pantas menjadi menteri dalam kabinet kerja Jokowi periode 2019-2024. 

"Setaraf-taraf (CEO Gojek) itu menurut saya terlalu cepat jadi menteri. Maksud saya terlalu buru-buru. Saya gak mau ngomongin siapanya," tutur Hendri kepada Tagar. 

Hendri tak ingin menyebut sosok anak muda yang pantas menjadi menteri, tetapi dia mengantongi sejumlah kriteria yang dianggapnya layak. Menurut dia, siapa pun menteri yang terpilih nantinya mampu memahami pola kepemimpinan Jokowi.

"Mampu terjemahkan visi misi Jokowi tuh. Kedua, mampu bekerja sama dengan birokratnya. Kalau gak bisa kerja sama dengan birokrasinya gimana caranya, bubar itu kementeriannya. Menterinya mau apa gak bisa diterjemahkan sama anak buahnya," kata dia.

Senada dengan Hendri, Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Usman Kansong menilai sekelas CEO Gojek belum mampu jadi menteri di kabinet Jokowi. Itu disebabkan karena tak memiliki pengalaman di dunia politik. 

"Menurut kita sih enggak ya, untuk di kabinet sih belum keliatan ya. Kemampuan eksekusinya ya oke lah mungkin, tapi barangkali juga pengalaman politik menjadi penting kan," ucap dia.

"Menteri itu jabatan politik, dia harus memiliki pengalaman politik. Politik dalam pengertian yang luas ya. Jadi bukan berarti harus dari partai politik, tapi dalam arti kemampuan untuk berhadapan dengan orang, negosiasi, dan lain-lain. saya kira menjadi hal yang penting ya, berhubungan dengan banyak orang, punya lobby-lobby yang bagus, itu yang harus jadi pertimbangan," ujar dia.

Baca juga: 



Berita terkait
0
Kepsek SMA di Bone Chat Genit ke Siswi Cantik
Kepala Sekolah SMAN 14 Tellusiattinge, Kabupaten Bone, Sul-Sel dituding kerap mengirim pesan pribadi ke siswinya yang cantik.