UNTUK INDONESIA
Kabel Boeing 737 Max yang Dikandangkan Bermasalah
Boeing Co dan FAA tengah meneliti masalah kabel yang berpotensi menyebabkan korsleting pada pesawat Boein 737 Max yang dikandangkan.
Otoritas penerbangan AS, FAA belum mencabut sanksi larangan terbang bagi pesawat Boeing 737 Max meskipun sudah habis masa berlakunya. (Foto: Reuters).

Washington - Boeing dan Administrasi Penerbangan Sipil Amerika (FAA) tengah meneliti masalah kabel yang berpotensi menyebabkan korsleting pada pesawat Boeing 737 Max yang dikandangkan pasca musibah kedua kecelakaan, Lion Air dan Ethiopian Airlines. Boeing dan FAA mengkonfirmasikan hal itu pada Minggu 5 Januari 2020.

Juru bicara Boeing Gordon Johndroe mengatkaan pihaknya mengidentifikasi masalah ini sebagai bagian dari proses penilaian dari FAA yang ketat. "Kami bekerja sama dengan FAA untuk melakukan analisis yang sesuai. Akan terlalu dini untuk berspekulasi apakah analisis ini mengarah soal perubahan disain," katanya seperti diberitakan dari Channel News Asia, yang mengutip Reuters, Senin, 5 Januari 2020.

The New York Times melaporkan pabrikan pesawat asal Amerika Serikat itu tengah mengkaji apakah dua ikatan kabel terlalu dekat satu sama lain. Hal ini yang dapat menyebabkan korsleting dan berpotensi mengakibatkan kecelakaan bila pilot tidak merespon dengan tepat.

Lion AirPesawat Lion Air tipe Boeing 737 MAX 8 (Foto: Boeing)

Masalah keselamatan menjadi perhatian

FAA dalam sebuah pernyataan pada Minggu menyebutkan bahwa pihaknya dan Boeing sedang menganalisa temuan tertentu pada modifikasi Boein 737 Max. Pihaknya akan memastikan bahwa semua masalah terkait keselamatan penerbangan akan menjadi perhatian selama proses penilaian.

Boeing saat ini tengfah bekerja untuk merancang pemisahan bundel kabel jika diperlukan, dan melakukan analisis ekstensif apakah ada kesalahan instalasi. Pejabat Boeing mengatakan FAA telah meminta perusahaan untuk menyelesaikan audit pada Desember lalu. Masalah kabel ini membuat kemungkinan FAA akan menambah masa pengandangan (grounded) 737 Max. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa FAA kemungkinan belum akan mengijinkan 737 Max terbang hingga paling lambat Maret mendatang.

Dennis MuilenburgBoeing Chief Executive Dennis Muilenburg. (Foto: Instagram/@aerospacerules)

Masalah kabel bisa menjadi bencana baru

Boeing menyatakan masalah kabel bisa berpotensi menjadi "bencana" baru bagi perusahaan. Mungkin saja perlindungan lain sperti isolasi dan pemutus sirkut dapat mencegah korsleting, kata pejabat perusahaan. Perusahaan telah memutuskan untuk menghentikan sementara produksi 737 Max pada Januari ini.

Bulan lalu, Dewan Direksi Boeing memecat Kepala Eksekutif Dennis Muilenburg karena dinilai telah menodai reputasi perusahaan dan regulator dengan kejadian tabrakan dua pesawat 737 Max di Indonesia dan Ethopia. Musibah itu membuat Boeing menelan kerugian hingga 9 miliar dolar AS atau Rp 125,7 triliun. Perusahaan terus berjuang untuk memperbaiki hubungan dengan pemerintah AS dan regulator internasional agar 737 Max bisa mengudara kembali.

Sementara itu, regulator AS dan Eropa kemungkinan akan kembali ke Iowa, AS minggu ini untuk meninjau audit dokumentasi perangkat lunak 737 Max yang tidak rampung tahun ini. FAA dan Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa dijadwalkan akan bertemu di Seattle, AS minggu ini dan kemudian kembali ke fasilitas Boeing di Rockwell Collins, Cedar Rapids, Iowa minggu depan.[]

Baca Juga:

Berita terkait
Boeing Pecat CEO Dennis Muilenburg Gegara 737 Max
Produsen pesawat terbang terbesar di dunia, Boeing mengumumkan telah memberhentikan CO Dennis A. Muilenbur karena krisis berkepanjangan B 737 Max.
Boeing Berharap 737 Max Bisa Terbang Akhir Tahun Ini
FAA telah memberikan lampu hijau untuk izin terbang pesawa 737 Max, untuk itu Boeing berharap akhir tahun ini bisa terbang lagi
Eropa Akan Izinkan Boeing 737 Max Terbang Lagi Januari
Eropa kemungkinan akan memberikan izin terbang lagi kepada Boeing 737 Max pada Januari setelah uji coba penerbangan pertengahan Desember ini
0
Khofifah: May Day Risiko Besar Penularan Covid-19
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meminta kepada buruh untuk tidak turun ke jalan memperingati May Day Hari Buruh Internasional.