UNTUK INDONESIA
Jokowi Bangun Istana Papua dengan Arsitektur Nusantara
Untuk mewujudkan “Bhinneka Tunggal Ika” dalam rajutan NKRI keberagaman akan lebih kental jika kelak di Istana Papua itu ada enam rumah ibadah
Suasana perkantoran di sekitar Pelabuhan Jayapura, Kota Jayapura, Papua, Senin, 2 September 2019. (Foto: Tagar/ANTARA FOTO/Zabur Karuru).

Oleh: Syaiful W. Harahap

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan bangun istana kepresidenan di Papua sebagai bagian dari perwujudan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Saat ini sudah ada 6 istana dan akan tambah satu lagi di ibu kota baru kelak di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Tinggal di Istana

Presiden Jokowi sudah meminta izin parlemen dan memberitahu rakyat bahwa Ibu Kota RI akan dipindahkan dari Jakarta ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara di Kaltim saat menyampaikan Pidato Kenegaraan di sidang bersama DPR RI dan DPD RI di Senayan, Jakarta Pusat, 16 Agustus 2019.

[Baca juga: Langkah Jokowi Berlabuh di Kaltim]

Biar pun wacana bangun istana di Papua sudah terdengar sejak kampanye Pilpres 2014, tapi kepastiannya baru disampaikan Presiden Jokowi ketika bertemu dengan 61 tokoh masyarakat Papua dan Papua Barat di Istana Negara, Jakarta, 10 September 2019.

Ibarat gayung bersambut, seorang tokoh masyarakat Papua, Abisai Rollo, yang juga Ketua DPRD Kota Jayapura, Papua, dengan ikhlas menyerahkan 10 hektar tanah kepada negara sebagai lahan tempat membangun istana kepresidenan di Kota Jayapura, Papua.

[Baca juga: Abisai Rollo Penyumbang Lahan Istana Kepresidenan Papua]

Mendagri Tjahjo Kumolo kepada wartawan mengatakan nama yang lebih tetap adalah ‘rumah atau gedung negara’ karena memang milik negara. Beberapa ibu kota provinsi sudah mempunyai ‘rumah negara’, semacam istana, seperti Gedung Grahadi di Kota Surabaya, Jawa Timur. Rumah-rumah dinas gubernur juga adalah gedung negara.

Sedangkan yang masuk kategori istana kepresidenan di Indonesia ada enam, yaitu: Istana Merdeka dan Istana Negara (keduanya di DKI Jakarta), Istana Bogor dan Istana Cipanas (keduanya di Jawa Barat), Gedung Agung (DI Yogyakarta) dan Istana Tampak Siring (Bali). Lima istana dibangun di masa penjajahan Belanda, sedangkan Istana Tampak Siring dibangun di masa pemerintahan Presiden Soekarno (Bung Karno).

Pemerintah kolonial melihat Jakarta, dulu Batavia, tidak cocok dari aspek pertahanan dan militer ada rencana memindahkan pusat pemerintahan ke Bandung. Maka, Belanda membangun Gedung Sate (sekarang kantor Gubernur Jabar) dan Gedung Merdeka.

Istana Merdeka dan Istana Negara serta Istana Bogor dipakai sebagai kantor kepresidenan acara-acara resmi. Bahkan, Istana Bogor dipakai untuk tempat penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi APEC 1996.

Dari tujuh presiden hanya tiga yang tinggal di kompleks istana, yaitu: Presiden Soekarno di Istana Merdeka, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga di Istana Merdeka, dan Presiden Jokowi di Istana Negara. Belakangan Jokowi lebih sering tinggal di Istana Bogor. Sedangkan Presiden BJ Habibie, Presiden Megawati Soekarnoputri, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tinggal di luar istana.

Istana Asia Tenggara

Enam istana yang ada menyimpan benda-benda seni yang bernilai tinggi, seperti lukisan, keramik, dll. Sering jadi objek penelitian untuk berbagai keperluan seperti skripsi, dll. 

Di Asia Tenggara Istana Merdeka termasuk 1 dari 10 istana termegah dan termahal. Di peringkat pertama ada Istana Presiden Vietnam di Kota Hanoi. Istana ini pernah jadi kantor Gubernur Prancis untuk wilayah Indochina. Selanjutnya Istana Kerajaan Kamboja di Phnom Penh. Istana Presiden Laos ada di peringkat ketiga. Dulu bernama Haw Kham, terletak di Luang Prabang. Kemudian Istana Presiden Myanmar di Ibu Kota Myanmar Nay Pyi Daw. Diikuti Istana Malacanang di Manila, Filipina. Istana bergaya neoklasik ini dibangun tahun 1705 yang jadi Kantor Gubernur Jenderal Spanyol.

Di peringkat keenam ada Istana Merdeka di Jakarta yang pernah jadi tempat tinggal Bung Karo dan Gus Dur. Selanjutnya Istana Negara Malaysia yang jadi tempat tinggal Yang Dipertuan Agong, alias Sultan Malaysia ini terletak di Kuala Lumpur. Lalu Istana Raja Thailand di Bangkok yang jadi tempat tinggal Raja Thailand yang disebut sebagai raja terkayat sedunia. PM Singapura berkantor di The Istana. Istana ini dibangun tahun 1867 sebagai rumah Gubernur Inggris di Singapura. Kemudian Istana Nurul Iman di Brunei Darussalam yang dirancang oleh arsitek Filipina ini disebut-sebut sebagai istana terluas di dunia dengan luas 1,2 juta kilometer persegi.

Jika dilihat 10 istana di atas tentulah memakan biaya yang besar. Untuk itu adalah cara yang arif kalau Istana Papua kelak besar bukan karena jumlah biaya, tapi karena kekayaan budaya yaitu keberagaman dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia.

Selain arsitektur yang bercorak NKRI diharapkan Istana Papua jadi rumah bagi semua suku dan agama serta aliran kepercayaan yang ada di Indonesia sesuai dengan motto “Bhinneka Tunggal Ika”. Itu artinya di kompleks Istana Papua ada masjid, gereja, pura, wihara, klenteng dan untuk agama-agama asli Nusantara.

Dikabarkan Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, mengatakan lokasi Istana Kepresidenan di Papua (Istana Papua) dekat dengan jembatan Holtekamp. Dari Kota Jayapura jembatan Holtekamp mengarah ke Distrik Muara Tami, komunitas Suku Skouw. Abisai adalah Ondoafi atau Kepala Suku Skouw.

Lahan yang diserahkan Abisai Rollo terletak tidak jauh dari jembatan ini. Jembatan ini dikenal sebagai jembatan kebanggaan Jokowi. Kementerian PUPR juga menyiapkan dana Rp 300 miliar untuk membangun Istana Papua (dari bebagai sumber). []

Berita terkait
Fadli Zon dan Fahri Hamzah Berbeda Soal Istana Papua
Kekompakkan Fadli Zon dan Fahri Hamzah teruji, sohib kental ini ternyata memiliki pilihan berbeda tentang Istana Kepresidenan di Papua.
Fahri Hamzah Dukung Jokowi Bangun Istana di Papua
Bahkan dia lebih setuju apabila ibu kota dipindahkan ke Papua.
Perjalanan Menjadi Paskibraka Sampai Istana Negara
Menjadi Paskibraka (pasukan pengibar bendera pusaka) Nasional yang bertugas di Istana Merdeka merupakan impian banyak orang.
0
Pelajar Tewas di Danau Toba, Sekolah Abai Pengawasan?
Pihak sekolah membantah jika kematian Putri Margaretty Sinambela di Danau Toba akibat kurang pengawasan guru pendamping.