UNTUK INDONESIA
Joe Million dan Trik Bertahan Hidup di Kancah Rap Lokal
Joe Million bercerita mengenai masa awal terjun ke kancah hiphop lokal dan membeberkan rahasia cara bertahan hidup di medan musik arus samping.
Rapper Joe Million mengentak panggung Synchronize Fast 2019, Minggu, 6 Oktober 2019. (Foto: tagar/ Eno Suratno Wongsodimedjo)

Jakarta - Namanya Jayawijaya Parulian Nababan, tapi bocah Batak itu lebih dikenal sebagai Joe Million, seorang rapper garang dan disegani di kancah hiphop lokal.

Memulai karir di usia belia, Joe mantap memilih jalur terjal musik arus pinggir ketimbang menjadi pekerja kantoran berdasi atau buruh pabrik bergaji sebatas UMR.

Jurnalis Tagar berhasil menemui Joe saat ia meracau menjaja rima bersama Indra Menus dan perangkat elektronik super berisik miliknya, di helatan musik Synchronize Festival 2019.

Kolaborasi keduanya menghentak pentas Gigs Stage, sebuah ruang sempit berukuran 5x4 meter yang disulap sedemikian rupa menjadi arena kegilaan buat sederet penampil lain yang level sorotannya tak segemerlap yang didapat Sheila on 7 atau Ariel Noah.

Usai berhasil bikin pengang sekitar 20-30an pasang telinga orang, kami mengajaknya untuk menepi sebentar dan berbincang-bincang. Sesudah pria 27 tahun itu tuntas melayani permintaan banyak orang untuk berswafoto dan menyeka keringat tentu saja.

Baca juga: The Flowers, Rilis Album Baru di Synchronize Fest 2019

Dari pembicaraan sekitar 10-15 menit, tergali sedikit banyak isi kepala Joe mengenai apa yang paling relevan di kancah hiphop lokal saat ini.

Meski sempat terlihat kurang nyaman saat disodori pertanyaan mengenai fenomena Young Lex, toh akhirnya dijawab pula tanda tanya itu dengan jawaban yang cukup berkesan dan dalam.

Berikut kutipan lengkap wawancara Tagar bersama Joe Million.

*

Sebetulnya, elu itu masuk ke kancah hiphop karena pergaulan, tidak sengaja, atau memang sudah passionate sejak awal?

Gua memang dari kecil sudah suka hiphop tapi enggak pernah kepikiran buat rekaman. Pas gua kuliah, baru di tingkat pertama, teman gua si Rand Slam (Randi Ismail), waktu itu dia udah gabut banget, dia ngulik-ngulik hiphop lebih dalam, terus dia kayak menemukan buku yang mengajarkan tentang bagaimana cara nge-rap.

Dia bawa itu, ke kamar gua, terus dikenalin. Dia bawa mic chatting gitu kan, terus yaudah kita rekaman pakai alat itu, pakai teori-teori yang ada di buku itu.

Terus kita ngulik pelan-pelan, kemudian setiap tahun keluarin rilisan-rilisan, sampai gua ngerasa sudah terlalu jauh dan gua mikir kayak, yaudah lah gua nge-rap aja udah sekalian.

Soalnya nanggung banget kayanya kalo cuma kerja doang, jadi total aja udah nge-rap. Seperti itu sih.

Saat itu apakah elu sudah tahu banyak tentang scene hiphop lokal yang tengah berkembang, atau justru mencari-cari?

Kalo gua, jelas mencari. Saat baru aja masuk dunia hiphop, gua coba mencari. Kalau enggak salah itu di tahun 2011. Tapi saat gua nyari, karena kebetulan saat itu gua di Bandung, Homicide baru saja bubar tahun 2008, terus RapBDG acaranya saat itu setiap tahun cuma beberapa kali, enggak terlalu aktif.

Jadi gua ama Randi (Rand Slam) tuh nyari tapi enggak dapet. Jadi ya sudah, akhirnya kita jalani aja apa adanya. Nge-rap, upload di dunia maya, kalau ada lomba ya ikut lomba.

Tapi setiap tahun, masa 2011-2013 sepi banget panggungan. Bahkan lomba aja jarang.

Ada perubahan kah yang terjadi di kancah hiphop Indonesia saat itu dengan yang ada sekarang?

Jauh (perubahan). Tahun 2011 itu masih sepi-sepinya, baru mulai di tahun 2017 mungkin kalau enggak salah, enggak ada orang yang enggak ngomongin hiphop, mulai dari diss-diss-an, pasti ada aja orang yang ngomongin hiphop.

Ya, sampai sekarang kita lihat aja musisi yang bukan hiphop, tapi berkolaborasi dengan hiphop. Seperti misalnya, Hindia, .Feast dan lain-lain. Jadi gua kira saat ini jauh sekali dengan tahun 2011.

Joe MillionRapper Joe Million mengentak panggung Synchronize Fast 2019, Minggu, 6 Oktober 2019. (Foto: tagar/ Eno Suratno Wongsodimedjo)

Hiphop Indonesia terbagi dua, antara kelompok mainstream yang begitu dekat dengan industri, dengan kelompok elu yang menurut banyak orang berada di sisi sidestream, elu setuju?

Iya (Setuju).

(Kelompok sidestream kurang diminati industri karena biasanya mengandung unsur kata atau kalimat makian, pornografi dan lain-lain dalam lirik-lirik lagu, atau bisa juga karena isi pesan yang disuarakan dalam lagu dianggap terlalu keras atau frontal. Red)

Pertanyaannya, apakah berkarya di kelompok sidestream seperti elu, hasilnya bisa untuk membiayai hidup pekaryanya?

(Tertawa) Kalau enggak di-manage dengan baik ya sangat-sangat jauh dari biaya hidup. Kebutuhan ya, ya itu enggak bisa. Jadi kalau ditanya bisa atau enggak bisa, sebetulnya jawabannya bisa, asal di-manage dengan baik.

Mulai dari branding, tampilan, terus gaya manggung, memilih penggung, memilih featuring, kalau di-manage dengan baik, ya bisa tapi untuk (berke)cukup(an) saja lah.

Kalau dari sidestream gua enggak tahu ya. Enggak bisa semua orang kaya raya, kan enggak semua orang bisa menjual merchandise sebanyak Homicide, tapi kalau untuk cukup saja harusnya bisa, asal teliti dan akurat managing-nya.

Bagaimana elu melihat Young Lex?

Young Lex mainstream, meski awalnya dia dari sidestream juga.

Joe MillionRapper Joe Million mengentak panggung Synchronize Fast 2019, Minggu, 6 Oktober 2019. (Foto: tagar/ Eno Suratno Wongsodimedjo)

Berlebihan enggak jika ada yang menyebut Young Lex mengeksploitasi esensi hiphop dengan segala petualangan dan bisnisnya?

Gua rasa dia memperlakukan hiphop (memang) kaya bisnis ya. Kalau dibilang eksploitasi, sampai seberapa jauh (level tertentu) mungkin bisa dibilang ada benarnya.

Tapi menurut gua enggak ada yang salah dengan itu. Kalau salah kan harusnya dipenjara, dan dia enggak.

Jadi menurut gua, soal baik dan buruk sih gua enggak tau, kehidupan gua juga mungkin enggak lebih baik dari dia, tapi buat gua sih sah-sah saja.

Bagaimana masa depan hiphop Indonesia dalam pandangan lu, antara lima sampai sepuluh tahun mendatang akan seperti apa?

Gua rasa hiphop yang akan kita dengarkan nanti, lima sampai sepuluh tahun ke depan, mungkin oleh kita orang jaman sekarang, enggak akan dianggap sebagai hiphop lagi.

Karena buat gua ini genre yang progresif, terus berkembang. Jadi kalau menurut gua ini akan tetap terus berkembang dan justru saat ini adalah fase awalnya.

Di Indonesia ini masih fase awal sekali. di luar mungkin sudah advance, tapi di dalam (negeri) sini, ini masih masa awal banget, jadi kita masih akan lihat banyak kejutan menarik.

Joe MillionRapper Joe Million mengentak panggung Synchronize Fast 2019, Minggu, 6 Oktober 2019. (Foto: tagar/ Eno Suratno Wongsodimedjo)

Lu tadi menyinggung soal managing yang bagus, apakah lu sudah menerapkan itu ke karya-karya lu?

So far, iya.

Ya kalau ada yang ingin mendengarkan karya-karya gua, rilisan-rilisan gua atau beli merchandise, tinggal follow akun media sosial Instagram gua, @joemillionraps, semua pertama kali pasti akan di-upload di situ.

Kalau ada yang mau men-download gratis karya-karya gua, lu bisa kunjungi di joemillionraps.weebly.com. Kalau enggak, cari di YouTube, seluruh album gua ada di situ dan bisa ditonton gratis.

Gua juga rencananya bakal tour bareng Indra Menus ke Eropa, jadi ya mohon doa buat semuanya.

Elo ada pesan buat mungkin yang ingin memulai karier di kancah hiphop Indonesia?

Gua pengen lihat orang yang masuk ke hiphop itu ngomongin apa yang ada di hidupnya. Jangan cuma mau ngomongin sesuatu yang karena lagi hype saja.

Karena dengan begitu musik ini akan jadi lebih progresif, kita bisa lihat tema-tema lain, kita bisa melihat peristiwa yang lain.

Baca Juga: The Flowers Tampil Lebih Liar di Album 'Roda-Roda Gila'

Coba hadir dengan cerita-cerita yang baru, jangan cuma terus-terusan menceritakan hal yang sama berulang-ulang. Coba ceritakan tentang hidup lu dengan apa adanya saja. Itu yang akan bikin genre ini terus berkembang. []

Berita terkait
Erwin Prasetya dari Dewa 19 hingga Scoring Musik Film
Perjalanan musik Erwin Prasetya, tidak berhenti di Dewa 19. Kini ia sibuk mengurusi musik scoring berbagai film dan jingle iklan banyak produk.
Beli Album Vikri Rasta, Bayar Seikhlasnya
Konsep penjualan #AlbumSederhana memang sengaja dibuat dengan dua kemasan.
Sesudah Pergaulan Blues, Simpul Album Jason Ranti
Sinema Pinggiran siap merilis film Sesudah Pergaulan Blues. Sebuah simpul album pertama ke album kedua Jason Ranti.
0
Nobel Ekonomi 2019, Penelitian Tentang SD Inpres di Indonesia
Nobel Ekonomi tahun 2019 dimenangkan tiga ekonom dari Amerika. Salah satunya mengangkat riset tentang Sekolah Dasar (SD) Inpres di Indonesia.