Jepang Batasi Rawat Inap di Rumah Sakit Hadapi Lonjakan Covid-19

Kebijakan baru yang kontroversial di Jepang, pasien virus corona dengan gejala sedang hanya akan diisolasi di rumah, bukan di rumah sakit
Seorang tenaga medis tampak bekerja di Unit Perawatan Intensif (ICU) untuk pasien Covid-19 di Rumah Sakit Universitas Kedokteran St. Marianna di Kawasaki, selatan Tokyo, Jepang (Foto: Dok/voaindonesia.com/Reuters)

Tokyo – Parlemen Jepang hari Rabu, 4 Agustus 2021, memperdebatkan kebijakan baru yang kontroversial di mana pasien virus corona dengan gejala sedang hanya akan diisolasi di rumah, bukan di rumah sakit, seiring melonjaknya kasus Covid-19 di Tokyo, yang menembus rekor tertinggi selama penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020.

Rencana Perdana Menteri Yoshihide Suga untuk mempersiapkan tempat tidur rumah sakit hanya bagi mereka yang memiliki gejala serius atau berisiko menderita gejala serius itu merupakan perubahan kebijakan yang sangat besar karena lonjakan kasus Covid-19 hingga tiga kali lipat sejak dimulainya Olimpiade 23 Juli 2021 lalu.

Sejumlah tokoh oposisi, anggota-anggota parlemen dari partai yang sedang memerintah dan pakar menilai membiarkan orang-orang melakukan isolasi mandiri di rumah tanpa layanan yang memadai akan sangat berisiko.

Warga makan di restoran di kawasan ShibuyaWarga makan di restoran di kawasan Shibuya, di tengah-tengah lonjakan kasus Covid-19 di Tokyo, Jepang, 29 Juli 2021 (Foto: voaindonesia.com/Reuters)

Menteri Kesehatan Norihisa Tamura membela kebijakan isolasi di rumah itu sebagai hal yang harus dilakukan untuk mencegah ambruknya fasilitas medis sebagaimana yang terjadi di Osaka bulan April lalu ketika ribuan orang jatuh sakit dan sebagian meninggal di rumah ketika menunggu perawatan di rumah sakit.

Anggota-anggota parlemen dari kelompok oposisi mengiritisi Suga karena tidak meningkatkan kapasitas rumah sakit secara layak meskipun sejak awal muncul peringatan tentang perebakan luas varian delta.

Penanganan virus corona di Jepang terbatas di rumah sakit umum dan rumah sakit universitas yang memiliki fasilitas dan keahlian memadai.

Dr Shigeru OmiPenasihat medis utama pemerintah Jepang, Dr Shigeru Omi (Foto: Dok/voaindonesia.com/Reuters)

Penasihat medis utama pemerintah Jepang, Dr Shigeru Omi, mengatakan pasien yang berisiko mengalami gejala serius saat tinggal di rumah perlu mendapat dukungan dokter komunitas yang melakukan kunjungan ke rumah.

Pemerintahan Suga, yang telah dikritik karena bersikeras menjadi tuan rumah Olimpiade meskipun ada kekhawatiran meluasnya virus corona, mengatakan tidak ada bukti yang mengaitkan peningkatan kasus Covid-19 dengan Olimpiade.

Tokyo hari Rabu, 4 Agustus 2021, melaporkan jumlah harian baru tertinggi yaitu 4.166 kasus, yang tertinggi sejak pandemi merebak Maret 2020 lalu (em/jm)/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Jepang Perluas Keadaan Darurat Covid-19 Selama Olimpiade
Jepang perluas keadaan darurat Covid-19 ke empat wilayah selain di Tokyo, 30 Juli 2021, menyusul lonjakan infeksi yang membukukan rekor baru
Covid-19 Melonjak di Jepang Saat Tokyo Jadi Tuan Rumah Olimpiade
Pemerintah Jepang diminta kirim pesan yang jelas bagi masyarakat di tengah-tengah melonjaknya kasus Covid-19
Jepang Tetapkan Keadaan Darurat Baru Covid-19 di Tokyo
Jepang tetapkan keadaan darurat baru di Tokyo karena lonjakan Covid-19 sampai mencakup masa penyelenggaraan olimpiade
0
Jepang Batasi Rawat Inap di Rumah Sakit Hadapi Lonjakan Covid-19
Kebijakan baru yang kontroversial di Jepang, pasien virus corona dengan gejala sedang hanya akan diisolasi di rumah, bukan di rumah sakit