Semarang, (Tagar 16/7/2018) - Piala Dunia telah usai tengah malam tadi, meninggalkan kesan mendalam bagi pecintanya di seluruh dunia. Termasuk bagi Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono yang mengambil pesan moral dari pesta sepak bola empat tahunan sekali ini.

"Bahwa sepak bola ini merupakan pemersatu semua suku bangsa di dunia ini, termasuk di Indonesia," kata Condro disela gelaran nonton bareng (nobar) final Piala Dunia di halaman RRI Semarang, Minggu malam (15/7).

Karena sebagai alat pemersatu maka Condro berharap penonton maupun suporter sepak bola di Indonesia, khususnya pendukung dari klub sepak bola di Jawa Tengah, bisa tetap menjaga kerukunan, kondusifitas wilayah.

"Sepak bola merupakan industri, karenanya dalam penyelenggaraan sepak bola tentunya harus tetap dijaga keamanan ketertiban kondusifitas supaya yang mendukung, mensupport, menyeponsori juga akan terus bergairah," papar dia.

Suporter sepak bola Jawa Tengah diminta meneladani perilaku para pendukung tim sepak bola negara lain yang bertanding di Piala Dunia. Termasuk sportivitas yang ditunjukkan pemain-pemain yang berlaga di event empat tahunan tersebut, patut diteladani pemain sepak bola Tanah Air.

"Jadi kita melihat di sana bagaimana penghargaan antarsuporter kemudian antarpemain itu betul-betul simpati satu sama lain, menghargai satu sama lain, dan fairplay dijunjung tinggi," ujar Condro yang malam itu menjagokan Prancis sebagai pemenang.

Pesan Condro memang bukan tanpa alasan. Sebab beberapa kali pertandingan Liga 1 maupun Liga 2 yang digelar di Jawa Tengah kerap diwarnai bentrok maupun kerusuhan antarsuporter. Terbaru adalah bentrok antara pendukung Persis Solo dengan warga Mangkang, Kota Semarang usai pertandingan lanjutan Liga 2, Persis vs Persik Kendal, sepekan lalu.

Dan untuk menghindari kejadian serupa terulang, laga Liga 1 antara PSIS Semarang kontra Persebaya 22 Juli mendatang, kepolisian sudah mewanti agar tidak dihadiri bonek, sebutan pendukung fanatik Persebaya.

"Kami melihat beberapa kejadian seperti di Bantul, korban di Solo dari bonek, dan resistensi dari warga yang masuk ke Jateng. Kami tetap memberi rekomendasi izin. Tapi dengan catatan agar tim tamu, Persebaya Surabaya, tidak membawa suporter," tegasnya.

Untuk mengantisipasi kedatangan bonek, Polda Jateng sudah menginstruksikan Polres Sragen, Wonogiri, Solo, untuk melakukan penyekatan, pemeriksaan di perbatasan. Upaya lain adalah dengan koordinasi dengan Polda Jatim agar sosialisasi ke koordinator suporter untuk tidak memobilisasi massa saat Persebaya bertandang melawan PSIS di Magelang.

"Saya kira ketika sosialisasi itu tersampaikan, insya Allah rekan suporter Surabaya akan bisa maklum. Demikian juga ketika nanti ketika PSIS bertandang ke Surabaya, kemungkinan akan seperti itu, tidak akan ada mobilisasi suporter PSIS," imbuhnya.

Gelaran nonton bareng final Piala Dunia di halaman RRI Semarang berjalan tertib. Ribuan warga Semarang, pendukung Prancis dan Kroasia duduk berdampingan tanpa ada teriakan yang memancing keributan.

Teriakan kegembiraan dari pendukung Prancis saat gawang Kroasia bobol empat kali mampu diterima dengan baik oleh pendukung Kroasia. Pun ketika pemain Kroasia mampu membalas dua gol ke gawang Prancis, juga dapat diterima dengan senyuman. Alhasil hingga nonton bareng berakhir tidak ada insiden apa pun.

"Terima kasih kepada warga Semarang yang sudah menunjukkan semangat kebersamaan. Meski beda dukungan tapi tetap menjaga ketertiban dan persaudaraan. Dan gelaran nobar di Semarang merupakan yang terbesar dan terbanyak dihadiri warga dari seluruh nobar yang diadakan RRI di seluruh wilayah di Tanah Air," ujar Kepala RRI Semarang Anhar Ahmad. (ags)