Indonesia
Ilham dari Xinjiang: Mencintai Negara Merupakan Sebagian dari Iman
Di Xinjiang, China, seorang guru melafalkan 'hubbul wathan minal iman' artinya mencintai negara merupakan sebagian dari iman.
Warga Kota Kashgar, Xinjiang, duduk-duduk di depan rumah mereka (Jumat 4/1/2019). (Foto: antara/M Irfan Ilmie)

Xinjiang, China, (Tagar 10/2/2019) - Di salah satu ruang kelas di kampus Institut Islam Xinjiang (XII), seorang guru melafalkan tulisan kapur di papan yang ditirukan oleh beberapa murid. Tulisan yang dilafalkan itu berbunyi Hubbul wathan minal iman.

Potongan hadits Nabi SAW yang berarti "mencintai negara merupakan sebagian dari iman" itu dibaca berulang-ulang oleh para pelajar putra berusia 20 tahun ke atas yang semuanya mengenakan kopiah tradisional mereka berbentuk persegi dengan empat sudut lengkung.

Hadits lain dan ayat Alquran tentang persatuan dan rasa saling mengenal antara satu dengan yang lain dibaca keras-keras oleh para pelajar dengan bimbingan seorang guru.

Selesai pelajaran di kelas, mereka bergegas menuju masjid yang berdiri tidak jauh dari gedung perkuliahan di dalam kompleks XII di Kota Urumqi itu.

Baca juga: Nuansa Arab di Negara Komunis

Di dalam bangunan yang sebagian atapnya berselimutkan salju itu, ternyata sudah ada jamaah lainnya.

Hari itu, Kamis 3 Januari 2019, setelah suara azan dikumandangkan diikuti dengan ikamah, Imam Raqib melangkah ke mihrab untuk memimpin jamaah salat Asar.

Cara jamaah menyibakkan diri dengan memberikan jalan bagi imam yang hendak melangkah dari pintu masjid menuju mihrab sama persis dengan tradisi para santri di pesantren-pesantren salaf di Pulau Jawa.

Bedanya, di pesantren salaf di Jawa, para santri rela membeberkan sajadahnya agar diinjak sang kiai saat berjalan menuju pengimaman demi mendapatkan berkah, di Xinjiang para penuntut ilmu tidak membawa sajadah karena karpet di masjid sangat tebal, sama dengan masjid-masjid lainnya di daratan Tiongkok sehingga makmum bersajadah itu tidak lazim.

Di masjid itu tidak ada doa atau wirid seusai salat, kecuali hanya duduk beberapa menit sebelum bubar. Namun, secara umum tata cara salat di Xinjiang tidak beda jauh dengan di Indonesia karena mayoritas dari mereka juga beraliran Sunni.

"Kami di sini berpatokan pada Alquran dan Hadits Nabi. Untuk mazhab, kebanyakan dari kami menganut Abu Hanifah (Imam Hanafi)," kata Imam Abdur Raqib tokoh umat Islam Xinjiang kepada kantor berita Antara.

Uighur XinjiangPara pelajar mengkaji ilmu agama di Institut Islam Xinjiang di Kota Urumqi, Xinjiang, Kamis (3/1/2019). (Foto: Antara/M Irfan Ilmie)

Sampai saat ini di kampus XII terdapat 238 pelajar yang kebanyakan berasal dari dalam wilayah Xinjiang sendiri untuk belajar agama Islam dengan rentang waktu antara enam bulan hingga enam tahun, tergantung strata.

XII memiliki delapan cabang di Xinjiang dengan jumlah pelajar secara keseluruhan sebanyak 1.200 orang. Sebagai satu-satunya lembaga yang mencetak para imam dan pemuka agama Islam di Xinjiang, XII mendapatkan akreditasi dari pemerintah.

Kebanyakan para pelajar XII yang berasal dari berbagai daerah perbatasan dengan Kazakhstan, Kirgizstan, Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan, dan Pakistan itu mendapatkan bantuan pembiayaan sekolah, akomodasi, dan uang jajan dari pemerintah China.

Calon Imam 

Fasilitas di dalam kampus pun memadai, termasuk sarana dan prasarana beribadah serta terlindunginya berbagai kegiatan keagamaan.

"Kami belajar Alquran, ilmu Hadis, dan fikih, selain juga belajar Bahasa Arab," kata Abdul Aziz (23), pelajar XII asal Kota Hotan, yang memperkenalkan diri dengan menggunakan Bahasa Arab.

Di kampus tersebut, dia juga diwajibkan belajar Bahasa Mandarin sebagai bahasa nasional China. Sebelum menimba ilmu di Ibu Kota, Aziz sama sekali tidak mengerti Bahasa Mandarin.

"Saya datang ke sini atas keinginan sendiri dengan harapan pemerintah nanti bisa memberikan pekerjaan kepada saya sesuai dengan bidang yang saya tekuni," tuturnya dalam bahasa Mandarin.

Nur Ahmadi yang sepantaran dengan Aziz mengaku tidak mengeluarkan uang sepeser pun selama belajar dan tinggal di asrama kampus.

Sama dengan temannya, Nur juga berharap pemerintah setempat memberikannya pekerjaan yang tidak jauh dari lingkungan masjid sebagai satu-satunya tempat yang dilegalkan untuk kegiatan keislaman sebagaimana tertuang dalam Kebijakan dan Implementasi Perlindungan Kebebasan Umat Beragama di China yang berlaku per 3 April 2018.

Uighur XinjiangPengunjung di depan Masjid Etigar, Kota Kashgar, Xinjiang, Jumat (4/1/2019). (Foto: Antara/M Irfan Ilmie)

Regulasi yang dikeluarkan lembaga yang mengurusi masalah keagamaan di bawah Dewan Pemerintahan China menekankan bahwa semua rumah ibadah harus terdaftar di pemerintah setempat.

Pemerintah setempat sudah memberikan ketentuan mengenai pembangunan rumah-rumah ibadah yang tidak boleh didirikan di lembaga pendidikan, kecuali lembaga pendidikan berbasis agama.

Dalam catatan lembaga tersebut, jumlah rumah ibadah di China sebanyak 143.500 unit yang terdiri dari 35.000 masjid, 33.500 kuil Buddha, 9.000 kuil Taoisme, 6.000 gereja Katholik, dan 60.000 gereja Protestan.

Jumlah umat beragama di China, menurut lembaga tersebut, mencapai 200 juta jiwa atau sekitar tujuh persen dari total populasi 1,5 miliar jiwa.

Meskipun masjid mendominasi rumah ibadah di China, pemeluk agama Islam hanya 20 juta jiwa dengan jumlah imam 58.000 orang. Jumlah itu masih kalah dengan pemeluk Protestan di China yang mencapai 38 juta.

Perhatian terhadap perkembangan Islam juga diberikan oleh pemerintah China dengan menerbitkan Alquran dalam berbagai bahasa yang digunakan masyarakat setempat, seperti Mandarin, Uighur, Kazakh, dan Kirgiz.

Belum lagi referensi keislaman lain yang telah mencapai 1,76 juta salinan, sebagaimana data Dewan Pemerintahan China Urusan Keagamaan itu.

Di Xinjiang sendiri terdapat 24.000 unit masjid. Seluruhnya berada di dalam pengawasan pemerintah China.

Sama halnya dengan masjid-masjid lainnya di China yang kebanyakan dibangun pada masa Dinasti Ming yang memerintah China selama 276 tahun, mulai 1368 hingga 1644 Masehi.
Sebagian besar masjid di China yang sampai saat ini berdiri sudah mengalami beberapa kali pemugaran, baik berskala besar maupun kecil, dengan semua pembiayaannya ditanggung oleh pemerintah setempat. []

Berita terkait
0
Ditolak Ambulans, Orang Tua Gendong Jasad Anaknya
Seorang ayah di Tangerang, menggendong jasad anaknya menuju pulang karena Puskesmas tidak mau menyediakan ambulans untuknya.