UNTUK INDONESIA
IA CEPA Resmi Berlaku, Australia Gandeng Mitra Lokal
Dengan berlakunya IA-CEPA, Australia berniat menggandeng mitra kerja di Indonesia untuk membuka potensi ekspor, terutama berbahan baku daging sapi.
ilutrsasi sapi (Foto: pixabay.com)

Jakarta - Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Australia (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement- IA-CEPA) resmi berlaku mulai Minggu, 5 Juli 2020. Country Manager of Meat and Livestock Australia untuk Indonesia Valeska mengatakan dengan diberlakukannya IA- CEPA, pihaknya berniat berniat menggandeng mitra kerja di Indonesia untuk membuka potensi ekspor, serta melaksanakan pengembangan produk baru dengan berbahan baku daging sapi.

Valeska menilai, IA-CEPA akan memberikan kepastian bagi industri daging merah (red meat) dan peternak sapi hidup (live cattle) kedua negara. Dengan diimplementasikannya kemitraan ini, setidaknya dapat memberi kepastian terutama bagi para peternak sapi Australia untuk membuat rencana jangka panjang mereka.

Peternak sapi potong di Australia bagian utara membutuhkan kepastian dari segi regulasi, hingga kondisi perdagangan kedua negara.

Baca Juga: IA CEPA Resmi Berlaku, Ini Sederet Benefit Indonesia 

"Sebelum IA-CEPA yang mungkin agak mempersulit adanya ketidakpastian dari dua negara. Ketidakpastian ini yang mempersulit para peternak untuk membuat rencana jangka panjang, terutama untuk peternak sapi potong," kata Valeska dalam webinar yang diselenggarakan di Jakarta, Senin, 6 Juli 2020 seperti dikutip dari Antara.

Ia menambahkan, peternak sapi potong di Australia bagian utara membutuhkan kepastian dari segi regulasi, hingga kondisi perdagangan kedua negara. Hal itu karena untuk mengembangbiakkan satu ekor sapi saja, diperlukan waktu kurang lebih tiga tahun hingga sapi tersebut siap dipotong.

Selain itu kerangka kerja sama ini juga membuat adanya pengurangan tarif bea masuk ekspor daging sapi dan sapi hidup Australia ke Indonesia. IA-CEPA juga diharapkan mampu meningkatkan kinerja perekonomian Indonesia lewat penguatan keberadaan Indonesia di dalam Global Value Chain (GVC) atau rantai pasok global.

Selain tarif, IA-CEPA juga akan membuka peluang kedua negara untuk berkolaborasi secara komprehensif, mulai dari peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), transfer teknologi dan keahlian, serta investasi yang lebih luas. Valeska menambahkan, industri sektor daging dan ternak telah memberikan efek berganda terhadap kehidupan sosial ekonomi Indonesia, mulai dari ketenagakerjaan, ketahanan pangan, hingga standar biosekuriti yang dapat diterapkan.

"Dengan adanya IA-CEPA ini, kita berniat menggandeng mitra kerja di Indonesia untuk membuka potensi ekspor, serta melaksanakan pengembangan produk baru dengan berbahan baku daging sapi," kata Valeska.

Baca Juga: China Imbau Warganya Tidak Kuliah di Australia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Australia merupakan pemasok impor daging sapi terbesar bagi Indonesia dengan nilai impor mencapai 85.000 ton atau sekitar 53 persen dari total impor seberat 160.197 ton. Ada pun nilai impor daging sapi dari Australia mencapai US$ 296,3 juta atau setara Rp 4 triliun dari total nilai impor Rp 7,7 triliun. Tidak hanya impor daging sapi, Indonesia juga mengimpor gandum, hewan hidup jenis lembu, serta gula mentah atau tebu.[]

Berita terkait
Beda Orang Indonesia dan Australia Saat Sikapi Corona
Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menjelaskan beda sikap orang Indonesai dengan Australia soal corona
IA CEPA Resmi Berlaku, Ini Sederet Benefit Indonesia
Pemberlakuan resmi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA CEPA) memberi sinyal positif bagi kalangan pelaku usaha
Maluku Harumkan Indonesia di Fashion Show Australia
Tenun ikat asal Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya akhirnya go internasional hingga ke Perth, Australia, usai tampil dalam fashion show.
0
IA CEPA Resmi Berlaku, Australia Gandeng Mitra Lokal
Dengan berlakunya IA-CEPA, Australia berniat menggandeng mitra kerja di Indonesia untuk membuka potensi ekspor, terutama berbahan baku daging sapi.