Beda Orang Indonesia dan Australia Saat Sikapi Corona

Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menjelaskan beda sikap orang Indonesai dengan Australia soal corona
Warga Desa Gla Meunasah Baro, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh menggelar pawai keliling kampung sambil berdoa ‘Tulak Bala’ pada Sabtu, 28 Maret 2020 malam. Tradisi ini diyakini bisa mengusir wabah virus corona di desa tersebut. (Foto: Tagar/Istimewa)

Jakarta - Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati mengungkap jurang perbedaan sikap antara warganet di dalam negeri dengan pengguna media sosial di Australia dalam menyikapi pandemi virus corona atau Covid-19.

Wasis, sapaannya, yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa program S2, Master of Political Science di The Australian National University (ANU) di Canberra, Australia, menjelaskan perbedaan sikap tersebut. 

Sementara di Tanah Air, persepsi orang-orang itu malah berbeda-beda. Ada yang parno, ada yang cuek, dan ada pula yang nantangin.

Baca juga: Over-Religius dan Gaduh Warganet soal Lockdown

"Di Australia, tidak ada kegaduhan cukup berarti. Masyarakat sudah melek informasi, sehingga tahu persis apa yang terjadi di dunia. Pemerintah Federal dan Negara Bagian juga sudah memberi informasi komprehensif soal larangan dan apa yang mesti dilakukan bagi warganya," ujar Wasisto kepada Tagar, Sabtu, 28 Maret 2020.

Dia menjelaskan, di Negara Bagian Australia, New South Wales, apabila masih ada fasilitas publik selain apotek, supermarket, dan rumah sakit yang beroperasi, maka pemerintah Australia akan menjatuhkan denda sebesar 5000 dollar. 

"Sedangkan kalau individu itu kena denda 1000 dollar kalau ngeyel tidak mau isolasi diri selama 14 hari dari luar negeri," ucap dia.

Baca juga: Jokowi dan Anies Baswedan Mesti Padu Hadapi Covid-19

Wasis menilai, masyarakat Australia lebih tertib menjalankan instruksi pemerintah lantaran paranoid terhadap virus corona. Dia menyebut masyarakat Negeri Kangguru ke luar rumah hanya untuk berbelanja kebutuhan dan berolahraga saja.

"Sementara di Tanah Air, persepsi orang-orang itu malah berbeda-beda. Ada yang parno, ada yang cuek, dan ada pula yang nantangin. Kedua kelompok yang terakhir ini buat saya heran. Kok masih bisa seperti itu ketika angka kematian di dunia makin lama makin naik," kata pria kelahiran Yogyakarta itu.

Dia juga membandingkan Indonesia dengan Singapura yang pernah terdampak pandemi virus SARS pada 2003 silam. Menurutnya, Singapura lebih tanggap menghadapi Covid-19 lantaran virus tersebut sudah memakan korban di China sedari awal Desember 2019.

"Singapura belajar dari pengalaman mereka yang kewalahan hadapi SARS sehingga sudah tanggap dengan Covid-19. Sebaliknya, Indonesia tidak pernah menghadapi bencana tak tampak seperti sekarang, sehingga tidak terlalu tanggap," tutur dia. []

Berita terkait
Dilema dan Fenomena Lockdown karena Covid-19
Pandemi virus corona (Covid-19) berdampak luas terhadap semua sendi-sendi kehidupan masyarakat di semua negara karena pandemi ini sudah mengglobal
Nestapa Warga Migran India Pasca Lockdown
Jutaa warga India yang bekerja sebagai buruh migran melakukan eksodus ke kampung halaman pasca pemerintah memberlakukan karantina total (lockdown).
Wali Kota Bekasi Tepis Kebijakan Lockdown
Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menegaskan tidak ada kebijakan lockdown di Cibitung dan Tambun Selatan, untuk memutus penyebaran virus corona.
0
Politikus PDIP Jagokan Andika Perkasa Jadi Panglima TNI
Politisi PDIP Effendi Simbolon menjagokan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa menjadi Panglima TNI mengantikan Hadi Tjahjanto.