Manokwari, (Tagar 8/11/2018) - Ketua Dewan Adat (DAP) Wilayah III Doberay Provinsi Papua Barat, Johan Warijo mengatakan hutan tanaman sagu yang  berada di Papua Barat terancam punah.

"Tanaman sagu, komoditi pangan lokal masyarakat Papua Barat ini harus dilestarikan," ujar Johan kepada Tagar News, Rabu (7/11).

Johan mengatakan, sagu berfungsi sebagai pengganti beras.

"Beras sudah habis. Jangan sampai tanaman sagu juga punah di masa mendatang," katanya.

Menurut dia, hutan sagu jangan dijadikan lahan sawit, karena hal itu hanya akan merusak tanaman sagu yang merupakan komoditi pangan lokal masyarakat Papua Barat

"Jika ada perusahaan ingin berinvestasi di Papua Barat, harus memberikan manfaat kepada masyarakat setempat," ujarnya.

Baca juga: Lindungi Hutan Sagu, Mereka Tolak Pengusaha Sawit

Johan WarijoKetua Dewan Adat (DAP) Wilayah III Doberay Provinsi Papua Barat, Johan Warijo. (Foto: Tagar/Edy Afasedanya)

Ia mengatakan, jangan sampai ada perusahaan berinvestasi di Papua Barat tapi dalam perjalanannya tidak melibatkan masyarakat setempat. Penduduk setempat punya hak, jangan dijadikan penonton saja.

"Dengan hadirnya perusahaan, berikan kesempatan dan peluang kerja buat anak-anak. Namun kenyataan tidak seperti yang diharapkan," katanya.

Ia menjelaskan, masyarakat mendukung kebijakan program kerja pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

"Di sisi lain perusahaan memang memberikan pendapatan bagi pemerintah daerah, namun jangan abaikan masyarakat setempat," kata dia lagi.

"Silakan saja. Kita tidak pernah melarang, asalkan memberikan manfaat untuk  kepentingan masyarakat di Papua Barat," tandasnya. 

Sebelumnya, Ketua Koordinator Gambut Papua dan Papua Barat, Yohanes Akwan juga mengimbau PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) untuk segera membatalkan rencana pengembangan lahan kelapa sawit di daerah Kais dan Puragi Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat.

Yohanes mengatakan, rencana pengembangan lahan sawit hanya akan merusak tanaman sagu yang merupakan komoditi pangan lokal masyarakat Papua Barat.

"Makanan lokal yang sudah turun-temurun ini merupakan budaya yang harus terus dilestarikan. Jangan sampai punah di masa akan datang," kata Yohanes melalui sambungan telepon kepada Tagar News, Senin malam (5/11). []