UNTUK INDONESIA
HKBP Imbau Pemerintah Hadir Atasi Demam Babi Afrika
Persoalan virus African Swine Fever (ASF) yang mengakibatkan puluhan ribu ton ternak babi mati direspons gereja HKBP.
Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt DR Martongo Sitinjak (tengah). (Foto: Tagar/Karmawan Silaban)

Tarutung - Persoalan virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika yang mengakibatkan puluhan ribu ton ternak babi mati di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara, direspons gereja HKBP dengan mendoakan agar pemerintah hadir mengatasi bencana tersebut.

"Sebagai gereja, mendoakan masyarakat dan pemerintah agar tetap tabah dan mencari solusi. Tindakan ini sudah dilakukan melalui sermon, sharing di jaringan pelayanan, melalui media HKBP menyampaikan informasi kepada masyarakat," kata Kepala Departemen Koinonia HKBP, Pdt DR Martongo Sitinjak, Minggu, 19 Januari 2020.

Disebutkan, kematian ternak babi menimbulkan berbagai perspektif di masyarakat.

"Meskipun bencana kematian babi dalam penelitian, tetapi sudah banyak spekulasi, sehingga orang bingung. Spekulasi itu harus dihentikan, semua elemen bergandengan tangan untuk mengatasi serta mencari solusi," ungkapnya.

Ditegaskan, pemerintah dan stakeholder perlu keberanian mengambil langkah untuk mengatasi bencana itu.

Pemerintah harus hadir, berikan ganti rugi, meskipun tidak bisa seratus persen

"Keberanian bertindak, berkorban kalau itu keharusan, untuk melahirkan generasi yang baru. Bila mungkin dengan mengisolir virus agar tidak menyebar, meskipun bukan menjadi solusi terakhir," katanya.

Terkait rencana pemusnahan babi, Martongo menyebut itu merupakan terminologi berbahaya dan berdampak terhadap psikologi.

Dia menyebut, pemerintah yang baik, berpikir dalam kerangka memutar perekonomian dan hadir menghidupkan ekonomi rakyat.

"Mengimbau kepada pemerintah agar mencari solusi atas persoalan rakyat, karena ternak babi menyangkut perputaran ekonomi, pendidikan dan berkaitan dengan kebutuhan masyarakat," ujarnya.

Saat ini, pemerintah diminta harus bertindak, semisal memberikan ganti rugi meskipun tidak seimbang dengan kerugian yang dialami rakyat yang mengalami kerugian akibat virus babi.

"Pemerintah harus hadir, berikan ganti rugi, meskipun tidak bisa seratus persen. Supaya ekonomi berputar. Kalau ekonomi rakyat tidak berputar, sudah tau apa yang akan terjadi," pungkasnya.[]

Berita terkait
Viral Dokter Zaidul Akbar, Makan Babi Jadi LGBT
Video viral memicu kontroversi, pembicara dalam video, dr. Zaidul Akbar menyebut banyak orang barat jadi LGBT sebab kebanyakan makan babi.
Jutaan Babi Mati di China, Amerika Ketar-ketir
Battie, seekor anjing ras beagle di Bandara Chicago mengendus aroma babi pada seorang wanita yang baru mendarat dari China.
Pak Edy Rahmayadi, Apa yang Salah dengan Babi
Media sosial diramaikan pemberitaan wacana Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi, memusnahkan ternak babi.
0
Kanjeng yang Diduga Ratu Narkoba di Tobasa Ditangkap
Kanjeng alias RS, terduga bandar narkoba di Kabupaten Toba Samosir ditangkap terlibat penculikan.