Hindari Hal Ini Saat Investasi Emas Online

Saat ini setiap orang dapat berinvestasi emas non fisik atau yang lebih dikenal dengan investasi emas digital.
Ilustrasi. (Foto: Tagar/Ist)

Jakarta - Perkembangan zaman serta teknologi saat ini sudah melahirkan instrumen investasi baru. Jika dulunya investasi emas terbatas dengan kepemilikan fisik, saat ini setiap orang dapat berinvestasi emas non fisik atau yang lebih dikenal dengan investasi emas digital.

Sebenarnya kedua cara investasi emas fisik ataupun digital prinsipnya aman dan memberikan keuntungan serta nilai yang relatif tinggi. Karena beberapa kelebihan tersebut, tak heran jika investasi emas digital saat ini banyak diminati berbagai kalangan, baik itu orang dewasa sampai milenial dan mahasiswa. Namun, memang ada beberapa hal yang perlu dihindari dalam melakukan investasi emas digital agar bebas drama. Berikut adalah beberapa di antaranya:


1. Terburu buru membeli atau menjual banyak

Di dalam berinvestasi memang dibutuhkan kesabaran dan juga ketelitian, tidak perlu terburu – buru untuk membeli dan menjual emas dalam jumlah banyak sekaligus. Anda harus ingat jika emas ini termasuk dalam investasi jangka menengah dan panjang. Jika Anda ingi mendapatkan untung besar, jangan pernah berpikir untuk menjual langsung banyak.


2. Tidak menentukan tujuan investasi

Mendapatkan untung sebanyak-banyaknya merupakan salah satu tujuan utama para investor. Memang tidak salah, tetapi arti dan manfaat investasi jauh lebih besar dari mengejar cuan saja. Investasi adalah kendaraan untuk mencapai tujuan keuangan berskala besar seperti dana pendidikan, dana pensiun, dan lain sebagainya. Tanpa memiliki tujuan investasi, keuntungan yang ingin kamu capai akan lebih sulit untuk digapai.

Aspek tersebut berguna dalam menentukan seberapa besar risiko investasi yang sanggup kamu ambil dan akan menjadi kiblat kamu selama berinvestasi. Selain itu, dengan adanya tujuan investasi, kamu dapat dengan mudah menentukan periode investasi serta besaran dana yang dibutuhkan secara rutin untuk mencapai tujuan tersebut.


3. Mengarahkan investasi emas untuk jangka pendek

Mempergunakan emas sebagai investasi jangka pendek merupakan hal yang tidak disarankan. Meskipun harga emas cenderung naik dalam kurun waktu yang panjang, namun harga emas mengalami fluktuasi dalam jangka pendek karena emas sebagai komoditas diperdagangkan.

Menurut Indra Sjuriah, harga emas cenderung bersifat fluktuatif karena dipengaruhi berbagai faktor, seperti tingkat suku bunga dan kondisi perekonomian.

Oleh karena itu, investasi pada instrumen ini akan lebih menguntungkan apabila diaplikasikan dalam periode jangka panjang, yaitu minimal 5 tahun.



4. Cash flow yang masih berantakan

Kesalahan paling umum dilakukan investor pemula adalah cash flow yang tidak tertata dengan baik. Bersumber dari Corporate Finance Institute, cash flow merupakan kenaikan atau penurunan jumlah uang yang dimiliki oleh bisnis, institusi, atau individu. Hal ini termasuk aspek yang sangat krusial dalam berinvestasi, termasuk investasi emas.

Sebelum memulai investasi, sebaiknya kamu melakukan pengelolaan keuangan pribadi secara efektif dan efisien, sehingga dapat memiliki cash flow yang positif. Jika cash flow dalam keadaan sebaliknya, kamu tidak dapat melakukan investasi emas secara rutin atau bahkan berinvestasi menggunakan ‘uang panas’. []

(Anfasya Qurratul Aini)


Baca Juga

Berita terkait
4 Tips Investasi Emas Bagi Pemula Agar Tidak Salah Langkah
Emas tidak hanya digunakan sebagai perhiasan, tapi juga bisa dijadikan investasi yang menguntungkan.
Bingung? Ini 5 Keunggulan Investasi Emas Dibanding Properti
Berinvestasi emas terbilang aman karena diawasi langsun oleh lembaga terkait. Emas juga cenderung minim risiko.
Untung Rugi Investasi Emas Putih
Meskipun harga beli emas putih lebih mahal, namun harga jual emas putih lebih murah dibandingkan emas kuning.
0
Raih Opini WTP 8 Kali Berturut-turut, Kemendagri Harap Jadi Contoh dan Memotivasi Daerah
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) kembali meraih predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI.