Herding Behavior Menjadi Penyebab Penutupan Kode Broker Desember 2021

Kebanyakan investor mengikuti apa yang dilakukan oleh orang lain pada periode waktu tertentu tanpa melakukan analisis terlebih dahulu.
Ilustrasi. (Foto: Tagar/Ist)

Jakarta - Saat harga saham turun, orang beramai-ramai menjualnya dan saat saham naik orang-orang ikut membeli saham, hal ini mendorong lahirnya sebuah tren. Kemudian, dari tren tersebut menarik perhatian beberapa investor yang pada awalnya tidak tau apa yang harus dia lakukan dan berakhir mengikuti langkah investor-investor tadi.

Fenomena ini disebut herding behavior yaitu investor mengikuti apa yang dilakukan oleh orang lain pada periode waktu tertentu tanpa melakukan analisis terlebih dahulu.

Tekanan bisa menjadi alasan investor cenderung mencari arahan dengan mengikuti apa yang dilakukan oleh investor lain. Apa yang orang lain lakukan dia akan mencontoh daripada melakukan analisis sendiri dan belajar dari kesalahan. Padahal perilaku seperti ini dapat menjebak Anda pada keputusan investasi yang salah.

Dilansir dari laman Unair News, sebenarnya, fenomena herding telah diamati oleh Keynes (1936), bahkan sejak Veblen (1899) yang melihat adanya pola conspicuous consumption yang dilakukan oleh leisure people. Namun keduanya tidak menggunakan istilah “herding”. Perilaku herding mencuat di dunia akademis sejak terbitnya artikel fenomenal Banerjee (1992) dan Bikhchandani et al. (1992).

Fenomena herding ini tidak hanya berlaku pada pasar saham, tetapi juga pada kehidupan sehari-hari. Seperti artis A baru saja membuka sebuah restoran seafood, banyak rekan artis berkunjung dan membagikan momen saat makan di restoran artis A. Ternyata 3 hari kemudian beberapa orang terdekatmu juga mencoba makanan dari restoran tersebut. Anda pun luluh dan ikut membeli makanan di restoran artis A tanpa mengetahui bagaimana rasa makanan itu.

Herding behavior hadir karena dipicu oleh kondisi pasar yang tidak menentu, kesenjangan informasi antar investor, mengejar reputasi yang bagus bagi manajer investasi, kurangnya pemahaman dan pengalaman, dan emosi yang dialami oleh investor sehingga menjadi gegabah.

Menurut laman Cairn, terdapat tiga alasan seorang investor menampilkan herding behaviour.

1. Eksternalitas pembayaran, yaitu hasil dari meningkatnya jumlah agen yang melakukannya tindakan jual-beli saham.

2. Masalah dan isu reputasi yang terkait dengan teori principal-agent untuk menghindari buruknya performa portofolio saham.

3. Eksternalitas informasional yang begitu kuat sehingga investor secara sukarela memutuskan untuk mengabaikan informasinya sendiri dan berpindah mengikuti keputusan kelompok atau mayoritas.

Tidak adanya jaminan bahwa portofolio saham akan bagus dan investor mendapat keuntungan dengan mengikuti apa yang dilakukan orang lain, maka investor perlu menghindari perilaku ini dengan cara sebagai berikut:


1. Ikuti instingmu dan tidak perlu selalu mengikuti tren

Sifat fundamental adalah sifat yang mempengaruhi keberhasilan dan dasar pokok sebuah ideologi. Dalam berinvestasi, Anda perlu memiliki acuan atau dasar dalam mengambil keputusan, sehingga dapat menolak dari hal yang bertentangan dengan keyakinan atau analisis yang sudah Anda lakukan.

Ikuti instingmu, jika Anda yakin saham A akan menghasilkan profit maka realisasikan. Jangan sampai karena banyak orang mengatakan saham B bagus, keyakinan Anda goyah dan berujung mengikuti apa yang dikatakan orang tersebut.


2. Ketahui alasan mengapa perilaku itu dapat terjadi

Sebelum melakukan sesuatu pikirkan satu hingga dua langkah ke depan. Perhitungkan untung rugi yang diterima. Cari tau penyebab herding behavior dapat menimpa Anda dan temukan solusinya.

Saat akar masalah sudah ditemukan, Anda akan lebuh terarah untuk mengambil keputusan berikutnya. Sebab bisa saja, tren itu hanya menggiringmu pada investasi bodong.

Maka untuk menanggulangi perilaku ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menghilangkan kode broker selama sesi perdagangan berlangsung mulai 6 Desember 2021. Pada 6 Juni 2022, selang enam bulan setelahnya, BEI akan menutup informasi domisili investor, baik saham lokal maupun asing. []

(Sekar Aqillah Indraswari)


Baca Juga:


Berita terkait
Cara Trading Saham ala Vier, Withdraw atau Gulung Profit?
Hal itu diungkapkan Vier Abdul Jamal dalam Channel YouTube resminya yang berjudul Teknik Trader Saham ala Vier, Withdraw atau Gulung Profit?
Tips 'Bakar Jembatan' ala Legenda Saham Vier Abdul Jamal
Vier juga mengatakan dirinya sangat nyaman dengan apa yang dijalani saat ini lantaran tak memiliki bos. Bos itu, tegas dia adalah dirinya sendiri.
Apa Beda Judi dengan Saham? Ini Kata Vier Abdul Jamal
Vier menegaskan, ketika membeli saham, para investor atau trader sudah setuju serta tahu risikonya.
0
Putusan MK, Airlangga: UU Cipta Kerja Tetap Berlaku
Menko Airlangga mengungkapkan bahwa pemerintah akan menghormati dan mematuhi keputusan langsung dari MK dan tetap melaksanakan UU Cipta Kerja.