Hari Kamis (14/3/2019) ini, berbagai masyarakat di berbagai belahan bumi memperingati "Hari Ginjal Sedunia". Penyakit Ginjal Kronik (PGK)  dianggap penyakit yang  menakutkan. Oleh Global Burden of Disease pada tahun 2010 dinyatakan penyebab kematian no 18 di dunia.

Hari Ginjal Sedunia merupakan inisiatif bersama dua lembaga ginjal dunia yaitu International Society of Nephrology (ISN) dan International Federation of Kidney Foundation (IFKF).

Pada tahun 2006, awal dari kegiatan itu hanya diikuti 66 negara. Hanya dalam waktu dua tahun sudah meningkat menjadi 88 negara. Sekarang hampir seluruh negara memperingati Hari Ginjal Sedunia, atau yang lebih dikenal dengan WKD (World Kidney Day) ini, termasuk  Indonesia.

Kidnet Health for Everyone Everywhere" atau "ginjal sehat untuk setiap orang dimana saja", begitu tema WKD tahun ini. Berbagai lembaga, baik pemerintah dan non pemerintah, menjadikan momentum perayaan kali ini untuk melakukan gerakan kampanye pencegahan.

Seperti dalam konferensi persnya, Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) meminta agar presiden dan wakil presiden yang terpilih nantinya memperhatikan hal tersebut.

Baca Juga: Kekuatan Cinta Eva Saulina Donorkan Ginjal untuk Suami

"Pelayanan untuk kesehatan ginjal lebih baik dan lebih terjangkau untuk semua pasien lebih merata, sesuai dengan tema hari ini everyone everywhere," ujar Ketua Umum PB Pernefri dr Aida Lydia, PhD, SpPP-KGH usai Press Conference World Kidney Day (WKD) 2019 di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (13/3).

Hal yang hampir sama juga dilakukan oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), komunitas yang anggotanya rata-rata melakukan cuci darah ini juga gencar berkampanye pencegahan PGK di momentum WKD tahun 2019.

"Kami terinspirasi oleh Perayaan "Hari Buruh Sedunia". Siapa sih yang nggak tahu Mayday? Kami ingin WKD seperti itu, agar menjadi hari yang dirayakan banyak pihak dan dilakukan secara besar-besaran. Agar gaungnya mampu memberi edukasi kepada masyarakat kalau mereka harus menjaga kesehatan ginjalnya," ujar Tony Samosir, Ketua Umum KPCDI.

Lebih jauh pasien cuci darah yang sudah transplantasi ginjal itu mengatakan KPCDI di semua cabang telah berkirim surat kepada semua rumah sakit agar memasang spanduk perayaan WKD.

"Biar tahun ini gregetnya ada," ujarnya lagi.

Bahkan, sudah sejak tanggal 1 Maret ini, melalui media sosial seluruh anggota KPCDI memposting infogram untuk meminta masyarakat menjaga ginjalnya.

Sementara itu, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, menunjukkan bahwa prevalensi penduduk Indonesia yang menderita Gagal Ginjal sebesar 0,2%. Data Riskedas tahun 2018 meningkat menjadi 3,8%.

Semakin tahun semakin bertambah jumlah pasien cuci darah. Kementerian Kesehatan dan Pernefri pernah menyatakan di publik, jumlahnya mencapai 150 ribu penderita. Masih data dari Kementerian Kesehatan tahun 2016 saja menduduki rangking kedua dalam jumlah pembiayaan, setelah penyakit Jantung.

"Saya sangat prihatin dengan data di atas karena hampir empat orang dari seribu penduduk di Indonesia mengalami Gagal Ginjal Kronik. PGK menjadi penyakit pembunuh nomor 18 di dunia," tulis anggota DPR Ribka Tjiptaning di press release yang disebar ke media, Kamis (14/3).

Anggota DPR dari PDI Perjuangan ini meminta agar Kemenkes lebih meningkatkan perannya dalam kampanye pencegahan PGK.

"Saya meminta kementerian kesehatan lebih serius lagi mencermati hal ini. Penyakit gagal ginjal kronik (PGK) bisa dicegah. Masuk kategori penyakit tidak menular. Harusnya menteri kesehatan menjalankan amanat UU Kesehatan No 36 tahun 2009, mengutamakan langkah berikutnya preventif dan promotif," ujarnya.

Dari pantauan di media sosial, perayaan WKD digelar di berbagai daerah. Rata-rata rumah sakit memasang spanduk peringatan WKD. Bahkan banyak diantaranya juga menggelar edukasi ke masyarakat.

"Tahun ini kami mengadakan penyuluhan kesehatan di SMPN 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah. Dengan mengandeng dokter dari Rumah Sakit Imanuel Klapak, Banjarnegara, kami ingin para siswa sejak dini mengenal apa itu cuci darah dan bagaimana mencegahnya dengan perilaku hidup sehat," ujar Tangkas yang juga pasien cuci darah di Kota Banjarnegara, Jawa Tengah.

Di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, pada tanggal 17 Maret nanti akan digelar acara perayaan WKD dengan senam massal, yang akan dihadiri 2000 peserta, di Lapangan Kalpataru Kemiling.

"Kami ingin memberi edukasi kepada masyarakat untuk rajin olah raga dan berperilaku hidup sehat. Kami juga akan menggelar peluncuran buku "Jiwa Jiwa Bermesin. Memoar Para Pasien Cuci Darah" dengan menggandeng Program  Pasca Sarjana Universitas Saburai, Bandar Lampung," ujar Herlintati, S.Sos., M.I.P., M.Si, seorang dosen sekaligus pasien cuci darah.

Buku tersebut berisi perjalanan hidup para pasien gagal ginjal, yang hidupnya tergantung oleh mesin hemodialisa. Buku ini diluncurkan tepat di rangkaian acara WKD, untuk para pasien cuci darah dan juga orang sehat. Melalui buku itu, masyarakat juga bisa belajar dari perjalanan pasien PGK. Diharapkan pasien lebih tergerak untuk menjaga kesehatan ginjalnya.

Seorang yang terkena PKG, kehidupannya akan menurun drastis. Ginjal punya peranan sangat besar dalam tubuh manusia. Sepeti yang diceritakan dalam buku "Jiwa Jiwa Bermesin. Memoar Para Pasien Cuci Darah", mereka akan mengalami penurunan produktifitas. Hb (homoglobine) akan sering rendah, sering drop bahkan terkena komplikasi penyakit lain. Waktu terbuang seminggu dua kali untuk Hemodialisa. Belum lagi faktor psikologi yang mendera mereka. Sangat begitu komplek masalahnya.

Perlu banyak pihak memikirkan hal ini lebih serius. Momentum WKD tahun ini adalah kesempatan untuk mencari perhatian publik agar mau menjaga kesehatan ginjalnya dengan perilaku hidup sehat. []

Penulis: Petrus Hariyanto (Sekjen KPCDI)