Harga Minyak Menguat di Tengah Laporan OPEC+ Usai Alami Penurunan

Harga minyak mentah kembali menguat untuk harga minyak mentah berjangka Brent pengiriman Januari. Kenaikan harga minyak ini mencapai 81 sen.
Kilang minyak di Roosevelt Island, New York. (Foto: Tagar/Unsplash/@m_simpsan)

Jakarta – Harga minyak mentah kembali menguat di tengah laporan OPEC+ pada akhir perdagangan Senin, 22 November 2021. Laporan OPEC+ ini berencana menyesuaikan kebutuhan minyak mentah dengan meningkatkan produksi jika Negara konsumen besar melepaskan cadangan minyak mentah mereka.

Harga minyak mentah kembali menguat untuk harga minyak mentah berjangka Brent pengiriman Januari. Kenaikan harga minyak ini mencapai 81 sen atau setara 1,0 persen menjadi 79,70 dolar per barel.

Selain itu minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember juga ikut menguat dengan angka 81 sen atau 1,0 persen sehingga menjadi 76,75 dolar AS per barel. Sebelumnya diketahui jika acuan harga minyak mentah Brent dan WTI AS ini turun lebih dari satu dolar hingga mencapai titik terendahnya sejak 1 Oktober 2021.


Saya melihat jika mereka akan tetap pada rencananya yang saat ini mengingat surplus pasokan untuk tahun depan, untuk pasar minyak di kuartal pertama.


Negara-negara besar seperti Jepang dan India sedang berencana untuk melepaskan cadangan minyak mentah nasionalnya bersamaan dengan Amerika Serikat dan ekonomi utama lainnya. Diketahui dari tujuh sumber pemerintahan jika pelepasan minyak mentah ini diharapkan bisa meredam harga minyak dipasaran.

Pejabat gedung putih dan departemen As sendiri menyatakan jika belum ada keputusan resmi tentang pelepasan cadangan minyak yang mereka miliki. Diskusi mengenai hal ini bermula setelah Pemerintah AS gagal membujuk Organisasi pengekspor minyak yang dikenal dengan OPEC+.

AS meminta jika negara-negara OPEC+ memompa lebih banyak minyak namun ditolak dengan alasan saat ini dunia tidak kekurangan minyak mentah. 

Kelompok penambang minyak sendiri sepakat jika saat ini tetap pada rencana meningkatkan produksi minyak sebesar 400.000 barel per hari mulai bulan Desember.

Sekretaris jenderal Forum Energi Internasional yang berada di Riyadh Joseph McMonigle memperkirakan jika OPEC+ akan tetap mempertahankan rencananya dengan menambah pasokan minyak ke pasar secara bertahap.

“Saya melihat jika mereka akan tetap pada rencananya yang saat ini mengingat surplus pasokan untuk tahun depan, untuk pasar minyak di kuartal pertama,” ujar Joseph McMonigle.

Joseph juga menerangkan jika terjadi perubahan maka kemungkinan terjadi karena faktor eksternal yang tidak terduga. Faktor eksternal yang tak terduga menurut Joseph bisa berupa penguncian di eropa, pelepasan cadangan, dan pergeseran permintaan bahan bakar jet.

Menurut Fereidun Fesharaki, ketua konsultan Facts Global Energy, pelepasan cadangan minyak strategis (SPR) hanya akan berpengaruh selama dua atau tiga minggu. Menurut Citi, pelepasan SPR ini diperkirakan bisa mencapai 100 juta hingga 120 juta barel atau lebih.

Kekhawatiran permintaan ini lantaran rencana penguncian nasional di eropa karena telah menekan harga minyak. Senin, 22 November 2021 Austria kembali memasuki pengunciannya setelah mendapatkan serangan pandemi virus corona yang kesekian kalinya yang diikuti beberapa negara eropa lainnya.

(Dimas Rafika)

Berita terkait
Harga Minyak Dunia Menetap Sedikit Lebih Tinggi
Kenaikan harga minyak ini terjadi saat pasar bergulat dengan dolar AS yang lebih kuat bersama kekhawatiran atas peningkatan inflasi AS.
Harga Minyak Naik, Ekonomi Global Mulai Tumbuh Positif
Kenaikan harga minyak ini merupakan adanya tanda-tanda positif pertumbuhan ekonomi global yang mendukung prospek permintaan energi.
Harga Minyak Dunia Naik Karena Ekspektasi Permintaan yang Kuat
Harga minyak diperkirakan akan bertahan mendekati 80 dolar AS pada akhir tahun.
0
Harga Minyak Menguat di Tengah Laporan OPEC+ Usai Alami Penurunan
Harga minyak mentah kembali menguat untuk harga minyak mentah berjangka Brent pengiriman Januari. Kenaikan harga minyak ini mencapai 81 sen.