UNTUK INDONESIA
Gejala dan Penyebab Nyeri Saraf Terjepit
Bagi sebagian masyarakat mungkin pernah mengalami nyeri saraf terjepit. Berikut gejala dan penyebabnya yang harus diwaspadai.
Ilustrasi Sakit Punggung. (Foto: diadona.id)

Jakarta - Bagi sebagian masyarakat mungkin pernah mengalami nyeri saraf terjepit atau dalam istilah kedokterannya disebut Herniated Nucleus Pulposus (HNP). Penyakit ini biasanya terjadi di seluruh ruas tulang belakang mencakup leher, punggung, pinggang hingga tulang ekor.

Dokter spesialis bedah orthopedi & traumatologi di RS Pondok Indah - Puri Indah, Muki Partono mengatakan daerah sakit tergantung lokasi terjadinya penjepitan. Jika terjadi di leher, tentu penderita akan mengalami migrain atau sakit hingga ke bahu disertai rasa kesemutan dan rasa panas. 

Sementara, bila penjepitan di tulang ekor, maka penderita akan merasa sakit seperti otot ketarik pada bagian paha atau betis, kesemutan hingga kelumpuhan. 

"Jika penjepitan di daerah pinggang akan terasa nyeri dari pinggang turun ke bawah menjalar sampai ke belakang paha, betis, disertai rasa kesemutan dan rasa panas," kata Muki Partono dalam webinar, Kamis, 16 Juli 2020, seperti dilansir dari Antara.

Kelumpuhan yang terjadi bukan selalu tidak bisa berjalan atau kaki tidak bergerak sama sekali, tetapi terjadi penurunan pada sistem gerak. Jika sudah ada penurunan kekuatan motorik (misalnya tiga dari lima) bisa dikatakan mengalami kelumpuhan sebagian.

Biasanya, otot dengan saraf terjepit cenderung akan melemah dari waktu ke waktu, sehingga menyebabkan penderita mudah tersandung, tidak kuat mengangkat atau memegang barang.

Pada pria, selain kesemutan dan rasa panas, ada risiko HNP menyebabkan impotensi hingga kemandulan apabila terjadi pada torakal. Faktor risiko seseorang yang terkena HNP, yaitu berat badan berlebih atau obesitas, pekerjaan, cedera, gaya hidup, genetika, aktivitas seperti menyetir pada jangka waktu yang lama, merokok, postur tubuh dan usia lanjut.

"Pekerjaan yang kaitannya dengan mengangkat berat, atau kelainan pada bentuk tulang belakang itu sendiri," ucap Muki.

Muki menuturkan saat ini pengobatan HNP salah satunya melalui tindakan operasi tanpa sayatan atau minimal invasif spine surgery, yakni memasukkan jarum ke kulit yang dilanjutkan menusukkan jarum ke kulit yang ditujukan ke disc dan diberikan energi dari laser.

Disc yakni cakram jaringan tulang rawan di antara ruas tulang punggung yang berfungsi sebagai peredam kejut. Menurut dia, tindakan operasi tersebut tergolong aman karena tidak memerlukan pembiusan total melainkan lokal di tempat jarum yang ditusukkan.

Penderita HNP biasanya disarankan menjalani tindakan ini yakni jika tidak ada respons sampai enam minggu pengobatan konservatif, HNP stadium satu, belum terjadi kelainan neurologis yang berarti.

"Awalnya dengan medikamentosa, evaluasi kembali dua minggu kalau terjadi perbaikan, dinyatakan sembuh secara keluhan, tetapi bantalan tidak mengalami perubahan. Kadang dikombinasi dengan fisioterapi. Kalau semua cara itu dilakukan tidak berhasil, biasanya kami beri tindakan operatif," tutur Muki. []

Baca juga:

Berita terkait
Waspadai, Gejala Lyme Disease Mirip dengan Covid-19
Belum lama ini diketahui pasien yang mengidap lyme disease meningkat di Amerika Serikat. Gejala ini disebut-sebut ada kemiripan dengan Covid-19.
Omas Wati Diabetes, Begini Penyebab dan Pencegahannya
Komedian senior Omas Wati meninggal dunia akibat komplikasi diabetes. Bagaimana penyebab dan pencegahannya?
Gejala Cabin Fever yang Kerap Terjadi Selama Corona
Di tengah pandemi virus Corona, masyarakat harus waspada terhadap cabin fever yang kerap terjadi akibat terlalu lama berada di dalam rumah.
0
Gejala dan Penyebab Nyeri Saraf Terjepit
Bagi sebagian masyarakat mungkin pernah mengalami nyeri saraf terjepit. Berikut gejala dan penyebabnya yang harus diwaspadai.