UNTUK INDONESIA
Untuk Indonesia
Ganjar Pranowo Vs Anies Baswedan, Adu Valid SMRC Vs Median
SMRC bilang Ganjar Pranowo gubernur paling tepat atasi corona. Median bilang Anies Baswedan gubernur paling tepat atasi corona. Mana yang valid?
Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Ridwan Kamil main tiktok di acara Mata Najwa, Rabu, 19 Februari 2020. (Foto: Humas Pemprov Jabar)

Oleh: Ade Armando*

Kali ini saya mau share kepada Anda, sebuah hasil penelitian, survei nasional yang menurut saya janggal. Hasil penelitian yang saya maksud adalah hasil penelitian dari lembaga survei bernama Median yang dilakukan pertengahan April 2020 dengan 800 responden.

Survei Median ini mengatakan bahwa gubernur yang dianggap paling tepat menangani corona dibandingkan gubernur-gubernur lain di Indonesia adalah Anies Baswedan dari DKI Jakarta.

Angkanya 24,1 persen masyarakat menganggap gubernur yang tepat menangani corona adalah Anies Baswedan. Berikutnya 9,6 persen mengatakan gubernur yang paling tepat adalah Ganjar Pranowo. Ridwan Kamil hanya dipilih oleh 8,9 persen, Khofifah Indar Parawansa 8 persen, dan Tri Rismaharini 3,7 persen.

Hmm, buat saya ini janggal. 

Janggal bukan karena saya tidak suka Anies Baswedan. Tapi masalahnya hasil penelitian Median ini kok jomplang banget dengan hasil penelitian yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting sepekan sebelumnya.

SMRC juga bikin penelitian di pertengahan April, dengan 1.200 responden. Tapi hasilnya beda banget.

Dalam penelitian SMRC, SMRC juga bikin penelitian tentang sikap masyarakat terhadap kinerja pemerintah dalam menangani corona. 

Nah, hasil SMRC menunjukkan bahwa gubernur yang dianggap paling tepat dan cepat dalam menangani corona adalah Ganjar Pranowo.

Kalau sampai sejauh itu bedanya, pasti ada yang janggal, pasti ada yang salah. Karena itu caranya adalah kita perlu mengecek data-data aslinya.

Gubernur DKI Jakarta Anies BaswedanGubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (Foto: Antara/Aprillio Akbar)

Sebanyak 73 persen rakyat Jawa Tengah menganggap bahwa Pemerintah Jawa Tengah melakukan penanganan corona secara cepat. Selanjutnya 68 persen masyarakat Jawa Timur menganggap bahwa Pemerintah Jawa Timur menangani corona secara cepat. Dan DKI hanya 62 persen yang mengatakan Anies Baswedan bertindak dengan cepat.

Artinya apa? Lihat urut-urutannya. Kalau di Median yang paling tinggi adalah Anies Baswedan, nomor 2 adalah Ganjar, nomor 3 adalah Ridwan Kamil.

Kok, beda banget ya dengan urut-urutannya SMRC? Nomor satunya jauh di atas yang lain adalah Ganjar Pranowo, dekat di bawahnya adalah Khofifah, baru ketiga adalah Anies Baswedan.

Ini hasil yang janggal buat saya. Kenapa? Karena buat peneliti, seperti saya, kalau ada dua penelitian ilmu sosial yang dilakukan secara ketat dengan metode kuantitatif, dengan menggunakan metodologi yang ketat, mestinya sih, dua penelitian ini kalau meneliti hal yang sama, objek yang sama, pada waktu yang kurang lebih sama, hasilnya mestinya juga mirip, atau bahkan sama.

Kalau sampai sejauh itu bedanya, pasti ada yang janggal, pasti ada yang salah. Karena itu caranya adalah kita perlu mengecek data-data aslinya.

Mengecek data asli itu di Indonesia lazim dilakukan dengan mengecek website masing-masing lembaga penelitian. Dan biasanya kalau lembaga penelitian yang bereputasi baik, mereka punya website di mana hasil-hasil penelitiannya diunggah di sana.

kaos ganjarGubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memakai kaos dengan pesan pentingnya menjaga jarak fisik untuk mencegah penyebaran virus corona. (Foto: Pemprov Jateng)

Jadi saya melihat website SMRC dan website Median.

Kalau website SMRC, jelas ada data survei nasional tentang pendapat publik mengenai kinerja pemerintah. Lengkap di situ ada pertanyaan-pertanyaan, data-data sangat detail, bahkan metode, waktu, cara penarikan sampel, semua ada.

Kemudian kita masuk website Median. Ada tidak hasil penelitian diunggah di sana? Ada, kurang lebih namanya adalah penilaian publik mengenai kinerja pemerintah dalam menangani corona juga.

Tapi yang menarik, dalam data yang diunggah di website Median mengenai persepsi publik terhadap pemerintah dalam menangani corona ini, tidak ada satu pun data mengenai persepsi publik mengenai kinerja gubernur.

Dengan kata lain, saya mau bilang begini, data yang mengatakan bahwa Anies Baswedan memperoleh 24,1 persen support dari masyarakat tersebut itu tidak ada di website Median.

Ada penelitian yang dikatakan dilakukan pada tanggal 6-13 April dengan 800 responden tapi di dalamnya hanya ada data mengenai persepsi publik mengenai penanganan pemerintah pusat terhadap corona. Tidak ada penanganan oleh pemerintah daerah. Jadi tidak ada data yang menunjukkan Anies 24,1 persen, Ganjar 9,6 persen, Ridwan Kamil 8,9 persen, dan seterusnya.

Anies BaswedanGubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumka Pembatasan Sosial Berskala Besar di bu kota, Selasa, 7 April 2020. (Foto: Humas DKI Jakarta)

Sehingga kesannya apa yang disebut sebagai finding mengenai kinerja Anies tersebut bukanlah menjadi bagian dari penelitian survei nasional Median itu sendiri. Jadi seolah-olah ada dua penelitan. Tapi, kok yang muncul cuma satu? Ini menimbulkan pertanyaan besar buat saya.

Kenapa tidak ada data mengenai pendapat publik mengenai Anies dalam data resmi Median sendiri? Ada tiga kemungkian.

Kemungkinan pertama adalah bahwa Median lupa saja ketika pertama kali meluncurkan hasil survei nasionalnya mengenai pendapat publik terhadap kinerja pemerintah itu. Dia lupa menyertakan data mengenai Anies Baswedan, dan Ganjar, dan kawan-kawan itu. Jadi, kesalahan alamiah saja. Natural. Tapi bodoh.

Dan buat saya rada tidak mungkin, sebuah lembaga penelitian seperti Median ketika dia menyajikan presentasi hasil survei nasionalnya lupa menyatukan satu informasi penting, yaitu mengenai kinerja sang gubernur. Itu satu.

Kedua, sengaja dipisah. Jadi, mula-mula diluncurkan data mengenai survei nasionalnya tentang kinerja pemerintah, kemudian baru disusuli hasil penelitian tentang sang gubernur.

Pertanyaannya, buat apa? Kenapa harus dibikin dua yang terpisah? Apa gunanya? Apa untungnya? Itu juga aneh.

Atau, kalau dua kemungkinan pertama itu adalah tidak masuk akal, kemungkinan ketiga juga harus dipertimbangkan. Yaitu memang sebetulnya data mengenai persepsi publik terhadap kinerja Anies Baswedan yang paling tinggi tersebut itu sebetulnya tidak pernah ada. Sebetulnya itu direkayasa.

GanjarGubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan kaos sosialisasi pentingnya menjaga jarak fisik untuk mencegah penyebaran virus corona. (Footo: Pemprov Jateng)

Dalam penelitian aslinya, Median tidak menyertakan data mengenai kinerja gubernur, yang diteliti adalah kinerja pemerintah. Karena itu dia tidak ada dalam tabel aslinya, dia baru ditambahkan belakangan. Kenapa ditambahkan belakangan?

Ya barangkali saja karena mereka melihat atau kubu Anies melihat bahwa SMRC menampilkan nomor satu Ganjar, nomor dua Khofifah, baru nomor tiga Anies. Maka mereka meminta, ini dugaan saja ya, mereka meminta Median menambahkan data mengenai kinerja gubernur tersebut.

Jadi rekayasa, bohong, manipulatif.

Tapi, mungkin tidak itu terjadi? Sayangnya mungkin karena kita tahu bahwa kubu Anies memang bisa saja melakukan hal apa pun untuk membangun reputasi positif mengenai gubernurnya. Kedua, sayangnya juga, lembaga survei yang namanya Median ini track record-nya tidak baik-baik amat.

Kalau Anda buka, kalau Anda mem-browse internet, Anda akan sering menemukan sejumlah tulisan yang mengatakan bahwa ada masalah dengan hasil penelitian Median. Dan kita harus tahu bahwa ketua pimpinan Median ini adalah seorang aktivis atau kader Partai Keadilan Sejahtera yang dekat dengan Anies.

Lagi-lagi saya cuma ingin mengatakan, ini mungkin saya salah, tapi barangkali memang Median ada baiknya menjelaskan secara jelas, kenapa ini sampai terjadi. Karena ini mengherankan dan saya mengatakan ini bukan karena saya sekadar benci, tapi karena kita memang harus membaca data-data penelitian dengan akal sehat kita. Percayalah, hanya dengan akal sehat, bangsa ini akan selamat.

*Dosen di Universitas Indonesia

Baca juga:

Berita terkait
Pandemi Membuat Dunia Serasa Berhenti Berputar
Dunia seolah berhenti berputar di tengah pandemi Covid-19. Orang-orang terpenjara di dalam rumah masing-masing. Situasi ini juga terjadi di Mamuju.
Covid-19, 2020 Tahun Zero Proyek Infrastruktur
Covid-19 bisa menjadi trigger pemerintah untuk mereformulasi kebijakan strategis ekonomi nasional yang tahan banting terhadap krisis atau resesi.
Maaf Ibu, Anakmu Tak Bisa Mudik Lebaran Tahun Ini
Pandemi Covid-19 membuat Lebaran 2020 sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tak bisa mudik, tak bisa sungkem ayah ibu. Setengah mati merindu.
0
Kata PKS, Presiden Jokowi Lemah dan Plin Plan
Pemerintahan Jokowi periode dua ini masih saja seperti dulu. Lemah dan plin plan. Terlihat saat wabah Covid-19 melanda negara ini. Kata orang PKS.