Florona Bukan Hasil Mutasi dari Varian Baru Covid-19

Tidak ada gejala spesifik dari Florona, karena Florona hanyalah sebuah nama yang dibuat oleh seseorang.
Ilustrasi. (Foto: Tagar/Ist)

Jakarta - Florona sempat membuat heboh karena disebut-sebut sebagai hasil mutasi dari varian baru Covid-19.

Namun, ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban menegaskan hal itu tidak benar, karena Florona merupakan fenomena terjadinya infeksi ganda akibat dua buah virus yang berbeda, bukan salah satu hasil mutasi dari varian baru Covid-19.

“Mengenai Florona ini, sebenarnya bukan varian baru. Namun ada infeksi ganda, artinya ada dua jenis virus yang menginfeksi pada seseorang (secara bersamaan),” kata Zubairi dikutip dari Antara, Senin, 3 Januari 2021.

Menanggapi adanya ibu hamil di Israel yang terinfeksi kedua virus tersebut secara bersamaan, Menurut Zubairi, hal tersebut terjadi karena adanya kondisi sistem imunitas pada tubuh yang sedang lemah.

Artinya, kasus seperti ini jarang terjadi. Namun, tetap memiliki kemungkinan untuk menulari seseorang secara bersamaan, karena kedua virus sama-sama menular melalui udara atau droplet dan menyerang saluran pernafasan.

Walaupun memiliki persamaan dalam cara penularan, Covid-19 maupun influenza disebabkan oleh faktor yang berbeda. Sehingga obat atau vaksin yang diberikan kepada pasien diberikan secara berbeda.

“Tidak perlu khawatir karena influeza amat sangat jarang ditemukan di Indonesia apalagi yang menyebabkan kematian. Influenza jangan dikira sama dengan flunya orang Indonesia,” ucap dia.

Menurut Zulbairi, flu yang banyak diderita orang Indonesia merupakan common cold yang menyebabkan seseorang menderita batuk, pilek dan bersin saja. Tak sama dengan influenza di negara yang memiliki musim dingin seperti Amerika Serikat yang menyebabkan penderitanya memiliki gejala berat seperti terkena radang paru atau meninggal.

Meski jarang ditemukan, Zubairi meminta semua pihak tetap waspada dan tidak bersifat angkuh pada kondisi negara saat ini. Zulbairi meminta seluruh pihak tetap mengedepankan protokol kesehatan khususnya melakukan vaksinasi Covid-19 sehingga dapat menangkal berbagai virus masuk ke dalam tubuh.

“Yang paling penting untuk menangkal virus, khususnya virus dari penyebab Covid-19 adalah vaksinasi. Jadi siapa yang belum vaksinasi dua kali segera vaksinasi,” tegasnya.

Direktur Pasca-Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama juga mengatakan terjadinya infeksi ganda dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu, seberapa kuatnya virus bertahan, seberapa kuat daya tahan tubuh seseorang dan faktor lingkungan sekitarnya.

“Jadi tidak bisa kita katakan kalau covid lebih kuat atau flunya lebih kuat. Itu tergantung dari masing-masing orang perkembangannya. tapi sekali lagi, kemungkinan menderita dua dapat saja terjadi,” ujar Tjandra yang juga Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara.

Tjandra menjelaskan, tidak ada gejala spesifik dari Florona, karena Florona hanyalah sebuah nama yang dibuat oleh seseorang. Sehingga bila bicara mengenai bisa atau tidaknya memberikan dampak terjadinya gelombang Covid-19 yang baru, masih butuh analisis dan pantauan lebih lanjut dari negara dengan kasus yang bersangkutan.

“Istilah Florona tidak ada dalam dunia. Itu hanya beredar di media sosial, tak ada penyakit yang namanya Florona. Kita tunggu saja analisa dari Israel apakah ini fenomena atau banyak kasusnya,” katanya.

Karena itulah, Tjandra meminta masyarakat untuk tidak langsung mempercayai informasi yang didapat melalui media sosial dan terus mencari informasi dari sumber yang terpercaya.

Selain itu, semua pihak harus terus disiplin menjalankan protokol kesehatan supaya tetap sehat dan dapat memutus rantai penularan Covid-19.

“Akan lebih baik, kalau masyarakat mengikuti sumber berita yang akurat dan benar. Tidak sepenuhnya berpegangan pada media sosial yang tidak terlalu jelas kebenarannya,” tutup Tjandra. []


Baca Juga

Berita terkait
Klaster Virus Corona Pangkalan Militer AS di Jepang
Klaster infeksi virus corona yang terkait dengan pangkalan militer AS di Jepang telah berkembang menjadi sedikitnya 180 kasus
Virus Corona Juga Bisa Mengganggu Saluran Pencernaan
bukan tidak mungkin virus corona menyerang saluran pencernaan dengan munculnya diare akut.
Benarkah Obat HIV Bisa Bermanfaat Bagi Penderita Corona?
Menurut sebuah laporan baru-baru ini, obat HIV telah dinyatakan bermanfaat bagi individu yang menderita virus corona.