UNTUK INDONESIA

Filosofi Tanaman Bonsai dan Edukasi dari Seniman Pembuatnya

Bonsai bukan sekadar tanaman yang dikerdilkan. Ada filosofi yang terkandung dalam setiap tanaman mini ini, yang perlu diedukasikan pada pehobi.
Fajar Joyokusumo, 47 tahun, seniman pembuat bonsai sekaligus Humas Paguyuban Penggemar Bonsai Yogyakarta (PPBY) menunjukkan salah satu bonsai koleksinya, Senin, 23 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta – Gonggongan anjing menyambut tamu yang datang ke Dewa Art Bonsai, di kawasan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta. Seperti siang itu, Senin, 23 November 2020. Dari pintu pagar yang tertutup semacam plastik berwarna biru, terlihat sejumlah bonsai beragam ukuran di halaman rumah.

Empat kotak kayu berisi tanaman bonsai tampak berjejer di antara bonsai-bonsai di halaman rumah itu. Terlihat seperti barang yang hendak dikirim ke tempat yang jauh.

Suara gonggongan anjing terhenti saat seorang perempuan melangkah keluar dari dalam rumah dan membuka pintu pagar. Dengan ramah dia mempersilakan masuk, kemudian memanggil pria bertubuh tambun dengan rambut panjang yang dikuncir.

Dengan tidak kalah ramahnya, Fajar Joyokusumo, nama pria itu, mengajak masuk ke dalam rumah dan menjelaskan tentang seni membuat tanaman bonsai, sambil menunjukkan beberapa peralatan yang dibutuhkan.

Cerita Bonsai Yogyakarta (2)Salah satu koleksi bonsai milik Fajar Jotokusumo, 47 tahun, yang disimpan di rumahya, di kawasan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta, Senin, 23 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sekilas gunting dan beberapa peralatan lain itu tidak jauh berbeda dengan gunting lain. Warna besinya hitam mengilap dengan paduan putih pada sisi tajamnya. Namun saat dicoba untuk digunakan, gunting khusus itu lebih ringan dan sangat memudahkan memotong ranting. Harganya pun jauh berbeda dengan gunting kebanyakan. Peralatan membuat bonsai itu harganya mulai ratusan ribu rupiah hingga jutaan.

Punya saya ini masih campur-campur merknya. Kalau yang dari Jepang harganya ada yang sampai Rp 1,5 juta per biji.

3 Kriteria Penggemar Bonsai

Fajar menceritakan, dirinya menggemari tanaman bonsai sejak 28 tahun lalu. Pada delapan tahun pertama Fajar murni hanya sebagai pehobi tanaman kerdil itu tanpa memikirkan profit. Tapi, sejak tahun kesembilan hingga saat ini, dia memadukan hobinya dengan profit yang bisa dihasilkan.

“Sejak 20 tahun terakhir saya melirik ke profitnya, karena ya baguslah. Sampai sekarang. Pandemi nggak ngaruh. Kebetulan saya luar kota juga masih ngirim, sampai ke Palembang, Makassar, Batam, ada ke Papua juga,” ucapnya sambil menunjuk ke arah empat kotak kayu berisi bonsai yang akan dikirim ke Palembang.

Bonsai-bonsai yang dijualnya ini sebagian merupakan hasil budidayanya sendiri. Dia menanam dari nol hingga menjadi tanaman kerdil yang indah dilihat. Meski demikian, tidak jarang juga dia mencarikan dari rekannya sesama penggemar bonsai jika ada pesanan jenis bonsai yang tidak dimilikinya.

Mayoritas pemesan tanaman bonsai berasal dari luar Kota Yogyakarta. Biasanya mereka memanfaatkan aplikasi panggilan video untuk memilih bonsai yang dikehendaki, atau Fajar cukup mengirimkan foto tanaman miliknya.

“Ini kan bisnis yang sempit. Pasarnya sangat kecil sekali, tapi hasilnya menjanjikan. Dengan kepercayaan yang saya bangun, mereka berdasarkan kepercayaan. Ada yang lewat video, ada yang lewat gambar, ada yang langsung datang sendiri, ada juga yang mewakilkan mata dan telinganya pada saya.” Biasanya mereka memesan bonsai untuk diikutsertakan dalam kontes.

Fajar menambahkan, dari pengalamannya sebagai pehobi bonsai, ada tiga kriteria penggemar bonsai, yakni seniman bonsai, pedagang, dan kolektor. Orietasi dari ketiganya sangat berbeda.

Bonsai yang bagus menurut kacamata seniman adalah bonsai yang paling cepat dikerjakan. Artinya, waktu pembuatan bonsai dari nol hingga jadi sangat diperhitungkan.

Range waktu pengerjaan bonsai dari nol sampai selesai itu kan di kisaran lima sampai enam tahun. Kalau lebih dari itu, kan kita sadar bahwa sebagai manusia umur kita terbatas dan sebagainya. Kalau kita mengerjakan dalam waktu lama, makan waktu dan biaya, jadinya rugi secara ide,” kata dia memaparkan.

Sementara, bonsai yang bagus menurut kacamata pedagang adalah bonsai yang paling cepat dan paling mudah dijual. Sedangkan dari kacamata kolektor, bonsai yang bagus adalah yang mendapatkan banyak penghargaan.

Cerita Bonsai Yogyakarta (3)Empat kotak kayu berisi tanaman bonsai milik Fajar Joyokusumo, 47 tahun, yang siap dikirim pada pembelinya, Senin, 23 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Bagi kolektor, lanjutnya, bonsai menjadi salah satu sarana untuk aktualisasi diri. Kelasnya adalah kelas prestise, pengakuan.

“Bahkan angka kadang nggak realistis. Beli dari saya Rp 5 sampai Rp 10 juta, dia tawarkan lagi sampai Rp 150 juta, ditawar orang nggak dilepas karena dia menjaga image dia,” ucap Humas Paguyuban Penggemar Bonsai Yogyakarta (PPBY) ini.

Perbedaan cara pandang atau orientasi para penggemar bonsai itu berpengaruh pada roda organisasi penggemar bonsai. Tidak jarang perbedaan itu membuat perpecahan dan organisasi tidak bisa berjalan mulus.

Filosofi Bonsai

Bonsai bukan sekadar tanaman yang dikerdilkan, tetapi bonsai memiliki filosofi yang harus diketahui oleh para penggemarnya. Salah satunya adalah keberadaan segitiga asimetris pada tanaman bonsai.

Dalaman tanaman bonsai, harus ada segitiga asimetri yang ketiga sudutnya melambangkan tiga hubungan manusia, yakni hubungan manusia dengan sang pencipta, hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan alam.

“Yang sudut atas itu melambangkan bakti manusia kepada Tuhan, yang satunya lagi itu kepedulian terhadap sesama, dan yang terakhir, paling bawah itu kembali ke bumi,” kata Fajar, sambil menambahkan bahwa Bonsai berasal dari kata Bong yang artinya kotak nampan dan Sai yang artinya kerdil.

Olehnya itu, seharusnya para penggemar bonsai bukan justru merusak alam dengan mencongkel pepohonan di hutan. Biasanya penggemar bonsai yang merusak alam adalah penggemar baru yang belum cukup mengetahui filosofi bonsai. “Tahunya mencari dan dijual.”

Para penggemar bonsai yang paham filosofinya justru kerap kali mengembalikan pada alam. Misalnya, ketika mereka memangkas dahan atau ranting bonsainya, mereka akan menanam dan menyimpan hasil potongan itu untuk kemudian ditanam kembali di alam.

Saat ini, meskipun organisasi penggemar bonsai cukup banyak, tetapi tidak banyak yang mengedukasi anggotanya untuk mengembalikan kea lam. Mereka hanya mengedukasi tentang pembuatan dan perawatan bonsai.

“ Jadi tetap ada yang kembali ke alam dan menjaga kelesatrian, walaupun itu pohon asalnya kita bukan ambil dari alam. Tapi yang pemula itu, ngertine ke alas (tahunya ke hutan) ya mengambil,” kata dia.

Mengenai harga tanaman bonsai yang cenderung mahal, khususnya bonsai pemenang kontes, hal itu merupakan hal yang wajar. Sebab sistem penilaian kontes bonsai yang berjenjang, mulai dari kontes kelas regional, madya, utama, hingga kelas bintang.

Cerita Bonsai Yogyakarta (3)Salah satu koleksi binsai pohon Asam Jawa yang sudah berbuah milik Fajar Joyokusumo, di rumahnya, kawasan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta, Senin, 23 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Untuk dapat mengikuti kontes di kelas madya, tanaman bonsai harus memenangi beberapa kontes di tingkat regional terlebih dahulu. Begitu pun untuk mengikuti kontes di jenjang di atasnya lagi. Bahkan untuk dapat mengikuti kontes di kelas bintang, tidak jarang dibutuhkan waktu hingga 15 tahun sejak awal mengikuti kontes regional.

“Puncaknya itu di kelas bintang. Perjalanan ini yang panjang. Misalnya syaratnya di regional harus lima kali berturut-turut dapat bendera merah, kalau meleset sekali harus mengulang. Ini yang tidak diketahui masyarakat awam. Mereka tahunya bonsai harganya tinggi, proses dari dasar sampai bintang itu high cost.”

Saat ditanya tentang jenis tanaman yang bisa dijadikan bonsai, Fajar mengatakan, semua tanaman yang tercantum dalam daftar PPBI atau organisasi bonsai internasional bisa dijadikan bonsai. Tapi pada dasarnya tanaman yang bisa dibonsai adalah tumbuhan berbatang keras.

“Kalau kelapa itu sebenarnya bukan bonsai, itu kelapa kerdil, adenium bonsai itu juga salah. Bonsai itu pasti kerdil, tapi tanaman kerdil itu belum pasti bonsai.”

Sementara, seorang penggemar bonsai, Ari 37 tahun, mengaku belum mengetahui adanya filosofi segitiga asimetri pada bonsai. Sepengetahuannya bonsai adalah tanaman kerdil yang indah dengan bentuk yang unik.

Pemuda yang sudah lima tahun menggeluti hobinya membuat dan memburu bonsai ini berpendapat, hal tersulit dalam membuat tanaman menjadi kerdil adalah proses awalnya. “Kalau awalnya salah membentuk, ya sudah, nggak akan bisa sempurna dan sesuai dengan keinginan. Makanya saya selalu menanam dari bibit,” kata dia.

Ari mengaku tidak pernah membeli bonsai jadi. Dia juga jarang menjual bonsai-bonsai miliknya, sebab tujuannya menanam bonsai memang hanya untuk kesenangan dan mengisi waktu luang saja.

Tapi, jika ada rekannya yang menyukai bonsai miliknya, dia rela menjual asal harga yang ditawarkan sesuai dengan biaya pemeliharaan. []

Berita terkait
Tempat Belajar Segala tentang Kopi di Yogyakarta
Kopi menjadi salah satu minuman wajib untuk beberapa orang, tapi tidak semua orang paham tentang kopi. Ini cerita tentang pembelajaran kopi.
Tangan Terampil di Desa Perajin Batik Kayu Yogyakarta
Desa Wisata Krebet di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal sebagai sentra produksi kerajinan batik kayu. Begini proses pembuatannya.
Cara Warga Kudus Mengelola Aliran Sungai di Daerahnya
Sejumlah sungai di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dikelola oleh warga setempat dengan manjadikannya sebagai tempat wisata. Ini sungainya.
0
Filosofi Tanaman Bonsai dan Edukasi dari Seniman Pembuatnya
Bonsai bukan sekadar tanaman yang dikerdilkan. Ada filosofi yang terkandung dalam setiap tanaman mini ini, yang perlu diedukasikan pada pehobi.