Jakarta, (Tagar 20/3/2019) - Elektabilitas Joko Widodo-Ma'ruf Amin kerap unggul dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dari beragam hasil survei sejumlah lembaga terkait Pilpres 2019. Termasuk hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 24 Februari-5 Maret 2019.

Elektabilitas antara kedua paslon ini, sebenarnya tidak terlalu berubah sejak awal kampanye. Hanya saja, dalam catatan hasil survei SMRC tiga bulan terakhir, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf cenderung membaik.

"Kecenderungannya kalau lihat Pak Jokowi itu terus membaik, mendekati posisi awalnya di bulan Desember, mendekati angka 60 persen," terangnya saat ditemui Tagar News di kantor SMRC, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/3).

Sedangkan Prabowo-Sandi sebaliknya, cenderung menurun, meski hanya satu atau dua persen saja tapi tetap dikisaran angka 30 persen.

"Sementara, Pak Prabowo pernah menguat sampai di angka 32 persen, 33 persen, terus sekarang menurun lagi di kisaran 31 persen. Jadi tidak mengalami kemajuan lah dalam periode September sampai saat ini Pak Prabowo," sambungnya.

Faktor elektabilitas Jokowi unggul

Menurut Direktur Program SMRC Sirojudin Abbas, setidaknya ada empat faktor yang membuat Jokowi-Ma'ruf lebih unggul dari Prabwo-Sandi. Pertama, faktor kepuasan publik terhadap kerja calon presiden petahana, Jokowi.

"Faktor pertama kepuasan publik terhadap Jokowi itu, stabil di angka 70 an persen kepuasan terhadap kinerjanya," urainya.

Baca juga: 30 Hari Jelang Pemilihan, Mungkinkah Prabowo Kalahkan Jokowi?

Kedua, kepuasan publik selama Jokowi menjadi Kepala Negara selama hampir lima tahun. "Yang kedua kepuasan terhadap Jokowi memimpin negara ini juga dikisaran 70 an persen, stabil di angka itu," ujarnya.

Ketiga, meski seringkali mendapat kritik dari lawan politiknya, ternyata program-program pembangunan pemerintahan Jokowi selama ini mendapat perhatian publik. Di antaranya, sektor-sektor pembangunan infrastruktur, penyediaan pendidikan dasar, kesehatan dasar, akses pendidikan tinggi, keamanan, dan kondisi politik yang semakin stabil.

"Program-program pembangunan yang dilaksanakan selama ini dirasakan manfaatnya dan dianggap cukup berhasil itu di sebagian besar sektor-sektor layanan publik," terangnya.

"Kecuali beberapa saja, misalnya harga kebutuhan pokok dirasa paling lemah, tapi dalam tiga bulan terakhir ini mengalami perbaikan. Jadi meskipun dirasa berat tapi sudah ada perbaikan yang ditunjukan, upaya pemerintah mengatasi persoalan," tambah dia.

Kemudian, faktor terakhir yang mempengaruhi elektabilitas adalah tidak mempannya berbagai serangan hoaks terhadap Jokowi. Kendati, upaya itu terus saja dilakukan jelang hari pencoblosan pada 17 April mendatang.

"Serangan terhadap Jokowi melalui sejumlah hoaks yang beredar di masyarakat misalnya terkait fitnah yang menyebut Jokowi PKI, Anti Ulama dan seterusnya itu tidak dipercaya oleh masyarakat, tidak mempan," tandasnya.

Baca juga: Jokowi Unggul di Survei Litbang Kompas, TKN: BPN Selalu Menyalahkan Survei