Jakarta, (Tagar 10/10/2018) - Tim para-boling Indonesia berhasil menyumbang satu emas di ajang Asian Para Games 2018. Medali itu diberikan oleh Elsa Maris.

Atlet dari Bumi Sriwijaya itu, berhasil mengumpulkan 1.186 poin dari enam game yang dimainkan. Ia sukses mengalahkan Diane Neo Pei Lin (Singapura), Kim Yuna (Korea Selatan) dan Nur Syazwani (Malaysia).

Ada satu hal yang menjadi kunci sukses Elsa dalam mempersembahkan medali emas untuk Indonesia. Salah satunya, peran penting ibunya yaitu Hazada. Elsa adalah atlet disabilitas tunagrahita dan tunarungu. Jadi, Elsa memiliki kekurangan dalam segi intelektual serta pendengaran. Untuk berkomunikasi dengan Elsa agak sulit dilakukan, karena dia hanya mengerti bahasa khusus ibunya.

Hazada menjelaskan, Elsa memang tidak bisa jauh dari ibunya. Dia bahkan harus mendampingi ke mana saja, termasuk menjalani pelatnas yang berlangsung sekitar sembilan bulan di Solo, Jawa Tengah. "Elsa memang lebih mengerti bahasa saya ketimbang orang lain. Makanya, saya selalu mendampingi dia terus," kata Hazada seusai pertandingan seperti dikutip metrotvnews.com.

Sementara itu, Waluyo yang menjadi pelatih tim para-boling Indonesia juga turut bercerita tentang sosok Elsa. Ia tidak memungkiri bahwa Elsa punya kekurangan dan harus ada upaya lebih untuk berkomunikasi. Namun, sisi positif Elsa tetap jauh lebih besar ketimbang kekurangannya.

"Elsa orangnya cuek. Dia tidak pernah menghiraukan temannya selama pelatnas di Solo. Kami ajak bergurau saja, dia tetap diam. Tapi giliran dia duluan yang mengajak bercanda, kami pasti  ditanggapinya," tutur Waluyo yang sudah melatih Elsa dalam setahun belakangan ini. []