UNTUK INDONESIA
Efektivitas Rapid Test Massal Deteksi Covid-19
Pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia terus meluas, 31 Maret 2020 pukul 12.00 WIB kasus positif 1.528 dengan 136 kematian dan 81 sembuh
Warga yang menunjukkan gejala Covid-19 dapat didiagnosis di klinik skrining drive-through. Foto di atas menunjukkan staf medis pada 26 Februari 2020 yang bekerja di salah satu klinik di kota Jochiwon-eup, sebuah kota administrasi khusus Sejong, Korea Selatan. (Foto: korea.net/Yonhap News).

Ketika dunia panik karena wabah pneumonia (radang paru-paru dengan gejala yang umum yang disebabkan bakteri, jamur atau virus) di Wuhan, China, yang dilaporkan ke Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) yang tidak diketahui penyebabnya, Indonesia tidak menanggapinya.

Berbeda dengan China, Jepang, Thailand dan Korea Selatan yang memberikan reaksi ketika WHO mengumumkan bahwa pneumonia di Wuhan merupakan novel virus varian baru yang diberi nama 2019-nCoV (novel corona virus) yang selanjutnya disebut sebagai Coronavirus Diseases 2019 (Covid-19).

China dengan segera melakukan pencarian terkait dengan gejala Covid-19 di semua provinsi. Thailand menjalankan surveilans dengan skrining terhadap penumpang kapal terbang dari Wuhan ke Bandara Suvarnabhumi, Don Mueang, Chiang Mai, Phuket dan Krabi sejak 17 Januari 2020. Thailand melaporkan kasus pertama berupa imported case 13 Januari 2020 sebagai kasus dari Wuhan. Sedangkan Jepang mulai 20 Januari 2020 melakukan contact tracing dan investigasi epidemiologi terkait dengan simptom Covid-19.

1. Mencari Kasus Positif Covid-19 dengan Contact Tracing

Nah, Korea Selatan menjalankan pelacakan kontak (contact tracing) dan penyelidikan epidemiologis dan menaikkan level siaga ke sistem manajemen krisis nasional. Sejak 3 Januari 2020 otoritas kesehatan Korea Selatan memperkuat pengawasan kasus pneumonia di semua fasilitas kesehatan. Selain itu juga skrining terhadap pelancong dari Wuhan.

Pada tingkat yang sama banyak kalangan ahli di luar negeri yang menyangsikan kondisi Indonesia yang belum melaporkan kasus Covid-19 mengingat ada penerbangan langsung dari China ke Indonesia. Tapi, waktu itu pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, menampik kekhawatiran ahli-ahli luar negeri itu.

Padahal, kalau saja Kemenkes meningkatkan manajemen krisis terkait dengan pneumonia dan skrining terhadap orang-orang yang masuk ke Indonesia (WNI dan WNA) tentu akan lain hasilnya. Indonesia baru mengakui kasus Covid-19 ketika dua orang perempuan, ibu dan anak, yang disebut Pasien 01 dan 02 positif tertular Covid-19 tanggal 2 Maret 2020.

Yang dilakukan pemerintah sejak tanggal 2 Maret 2020 hanya contact tracing dengan titik awal Pasien 01 dan 02 yang melebar ke berbagai daerah terkait dengan kontak yang mereka lakukan. Hasil yang didapat dari contact tracing itu hanya sebatas Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yaitu ODP yang ‘naik kelas’ karena ada indikasi infeksi Covid-19.

2. Korea Selatan Memperkuat Pengawasan untuk Kasus Pneumonia

Jauh berbeda dengan Korea Selatan yang langsung menjalankan program riil berupa tes Covid-19 dengan sampel ludah. Berbagai cara dilakukan Negeri Ginseng itu untuk mendapatkan spesimen air liur warga, bahkan dengan cara drive through bagi warga dengan gejala Covid-19 sehingga pengemudi dan penumpang mobil tidak perlu turun ke pos pemantauan. Petugas yang mendatangi mobil.

ilus2 opini 31 Mar 20Langkah Korea Selatan menghadap pandemi Covid-19 dan Indonesia. (Foto: Tagar/Syaiful W. Harahap).

Korea Selatan memulai tes massal sejak tanggal 2 Januari 2020, sedangkan kasus Covid-19 pertama terdeteksi di negara itu dilaporkan tanggal 20 Januari 2020. Ini benar-benar langkah yang aktif untuk membendung penetrasi virus corona.

Otoritas kesehatan Korea Selatan memperkuat pengawasan untuk kasus pneumonia di semua fasilitas kesehatan dengan skala nasional sejak 3 Januari 2020. Korea Selatan juga langsung melakukan tindakan karantina dan skrining untuk pelancong dari Wuhan sejak 3 Januari 2020.

Tes yang dijalankan Korea Selatan adalah dengan mengambil spesimen air liur sejak 2 Januari 2020. Laporan menyebutkan sampai dengan 24 Maret 2002 sudah 348.582 warga yang menjalani tes Covid-19. Pada 24 Maret 2020 laporan WHO menunjukkan kasus Covid-19 di Korea Selatan sebanyak 9.037 dengan 120 kematian. Laporan situs worldometer tanggal 31 Maret pukul 16.28 WIB kasus di Korea Selatan sebanyak 9.786 dengan 162 kematian 5.408 dan sembuh.

3. OTG Tidak Terdeteksi Melalui Pengukur Suhu Badan

Indonesia mencari kasus baru melalui contact tracing dan 25 Maret 2020 ada rapid test melalui tes massal Covid-19 di beberapa daerah. Dikabarkan pemerintah menyiapkan 500.000 tes kit. Tapi, sasaran rapid test ini terbatas yaitu petugas medis, ODP dan PDP, serta kalangan yang banyak bersentuhan dengan masyarakat.

Sedangkan yang dijalankan di Korea Selatan bukan rapid test tapi mengetes spesimen air liur sehingga hasilnya jauh lebih akurat. Soalnya, rapid test harus dilakukan dua kali karena yang dicari bukan virus (Covid-19), tapi antibodi virus corona yang baru terbentuk minimal lima hari setelah tertular.

Maka, amatlah menggelikan langkah yang dilakukan di banyak tempat, seperti pintu masuk daerah yang isolasi wilayah, dengan menembak jidat untuk mengecek suhu tubuh. Padahal, ada OTG (Orang Tanpa Gejala) yaitu orang yang sudah tertular Covid-19 tapi tidak menunjukkan gejala. Penyemprotan disinfektan juga tidak efektif karena virus ada di dalam tubuh.

Mumpung pandemi Covid-19 belum mewabah secara nasional sebaiknya bukan rapid test melalui tes massal dengan sasaran terpilih, tapi mengambil contoh air liur warga (swap) untuk tes Covid-19 sehingga hasilnya akurat dan langkah penanggulangan kian cepat dan efisien.

Warga yang terdeteksi positif Covid-19 ditangani sehingga memutus mata rantai penyebaran virus corona, sedangkan warga yang negatif dikonseling agar tidak tertular (Bahan-bahan: WHO dan sumber-sumber lain). []

Berita terkait
Lima Negara Kejar-kejaran ke Puncak Pandemi Corona
Di awal wabah virus corona (Covid-19) merebak di China sepertinya virus hanya berkecamuk di sana, fakta baru episentrum pindah ke Eropa dan AS
Jumlah Kasus Covid-19 di Italia Tembus Angka 100.000
Peta persebaran pandemi virus corona (Covid-19) kini bergeser ke Eropa dan Amerika, kasus di Italia tembus angka 100.000 ada di peringkat ke-2
Episentrum Covid-19 Pindah ke Amerika Serikat
Prediksi WHO tentang episentrum penyebaran virus corona (Covid-19) dari China ke Eropa yang selanjutnya ke Amerika Serikat (AS) terbukti sudah
0
Pidana Mati Korupsi Dana Covid-19, PPP: Komisi III Oke
Arsul Sani: Pidana hukuman mati itu harus diberikan kepada para pelaku yang mencuri dana penanggulangan Covid-19 dengan nilai yang begitu besar.