UNTUK INDONESIA
Diblokir AS, Huawei Lirik Pasar Smartphone Eropa
Huawei mempertimbangkan untuk memasarkan smartphone dan produk telekomunikasi lain di Eropa setelah mendapat sanksi dari Amerika Serikat
CEO Huawei Richard Yu, di sela-sela launching Harmony OS. (Foto: Instagram/@farras.live)

Jakarta – Huawei Technologies Company Ltd. mulai melirik pasar Eropa untuk memasarkan produk perangkat smartphone dan produk telekomunikasi lainnya, setelah diblokir di Amerika Serikat (AS). Pemasok perangkat telekomunikasi dan jaringan komunikasi terbesar di dunia yang berkantor di Shenzhen, Guangdong, China ini akan melobi para pengembang aplikasi di Eropa untuk menjalin kerja sama.

Seperti diketahui Amerika Serikat pada Mei lalu mengeluarkan pengumuman bahwa Huawei dan beberapa perusahaan China lain masuk dalam daftar hitam dari pasar AS karena masalah keamanan produknya. Amerika menyatakan keprihatinnya bahwa peralatan telekomunikasi Huawei mengandung celah kelemahan keamanan yang memungkinkan pemerintah China melakukan mata-mata lalu lintas komunikasi global. Perusahaan telah berulang kali membantah tuduhan itu.

Seperti diberitakan dari Channel News Asia, Kamis, 7 November 2019, dalam minggu ini Huawei akan berinvestasi sebesar 40 miliar dolar AS untuk pengembangan jaringan seluler generasi kelima (5G) di Eropa. Setelah tidak jadi membeli perangkat chips dan teknologi buata AS, Huawei memilih untuk mengembangkan teknologinya di Eropa.

Chairman Huawei Guo Ping Senin malam lalu diundang untuk menjadi pembicara kunci dalam Web Summit di Lisbon, Portugal.Ia bercerita seputar teknologi 5G di hadapan 300 pengembang teknologi dalam jamuan makan malam. Ia mengatakan teknologi 5G akan menjadi the new electricity atau gelombang listrik baru bila dikombinasikan dengan teknologi baru lainnya seperti kecerdasan buatan (AI - Advance Intellligence) dan big data.

Menurut Guo, 5G mewakili peluang emas bagi industri teknologi dan khususnya bagi pengembang teknologi.  Ia mengklaim akan menciptakan peluang yang tidak terhitung banyaknya bagi para pengusaha. Penjelasan Guo mendapat sambutan yang hangat dari para peserta yang datang dalam Web Summit di Portugal.

HuaweiDirektur Eksekutif Dewan Strategi dan Pemasaran Teknologi Komunikasi dan Informatika Huawei David Wang menjelaskan program riset dan kerasama perusahaannya dengan sejumlah kampus di China dalam ajang Huawei Connect 2019 di Shanghai, Jumat (20/09/2019). (Foto: Antara/HO/Huawei Technologies)

Acara Web Summit juga dihadiri beberapa eksekutif Huawei. Jervis Su, Wakil Presiden Layanan Seluler Huawei mengatakan perusahaan berharap bisa membagikan pengalaman dan pengurangan harga bagi pengembang yang akan mengadopsi teknologi buatan Huawei. "Kami ingin memastikan tidak ada pengembang yang merasa tersisihkan atau merasa masuk ke program pengembang kami terlalu mahal," katanya.

Huawei saat ini tengah membangun pasar teknologi 5G generasi berikutnya di Eropa dan Asia. Namun perusahaan ini harus kehilangan akses layanan Google akibat sanksi dari AS. Saat ini Huawei tengah mengembangkan operating system (OS) alternatif bernama HarmonyOS.

Huawei sudah berinvestasi 1,5 miliar dolar AS dalam lima tahun terakir untuk program pelatihan di universitas dan perusahaan pemula di seluruh dunia serta satu miliar dolar AS untuk mendorong inovasi. "Teknologi 5G meningkatkan infrastruktur komunikasi kami dan kecerdasan buatan memberi kami mesin komputasi paling kuat," kata Guo.

APP Galery

Huawei telah memiliki galeri aplikasi (APP) sendiri yang diluncurkan di Eropa pada setahun silam dan saat ini sudah berjumlah sekitar 50.000 aplikasi. Adnan Selimovic, arsitek perangkat lunak senior di perusahaan Austria, TeleTrader, mengatakan Huawei telah secara aktif meminta perusahaannya masuk ke dalam App Gallery. “Mereka meminta kami untuk berkolaborasi lebih lanjut dengan mengintegrasikan lebih banyak fungsi seperti pemberitahuan push dan widget interaktif untuk perdagangan seluler,” katanya.

TeleTrader sudah memiliki tim pengembangan terpisah untuk aplikasi Android dan iOS. Dukungan dari pengembang Huawei sendiri berarti tidak perlu menyewa pihak ketiga yang mahal. “Untuk berhasil di Eropa, Huawei mencoba untuk menarik jumlah maksimum pengembang karena tidak punya pilihan lain,” kata pakar telekomunikasi Boston Consulting Group, Francois Candelon.

(Dimas Wijanarko)

Berita terkait
Di Tengah Tekanan AS, Kinerja Huawei Masih Kinclong
Tekanan AS terhadap Huawei tak membuat perusahaan telekomunikasi asal China kesulitan. Huawei ini mampu bertumbuh positif dengan kinerja kinclong
Huawei Mate 30 Series Dipastikan Masuk Pasar Indonesia
Mate 30 Series akan hadir di pasar Indonesia, setelah diluncurkan di Jerman pada September lalu.
Ponsel Huawei Mate 30 Tidak Dipasangi Android
Ponsel terbaru dari Huawei, Mate 30 tidak memiliki akses lagi untuk dipasangi aplikasi Android meski pun secara manual.
0
Ahok Masuk BUMN di Mata Dosen UGM Yogyakarta
Ahok dikabarkan mengisi jabatan tinggi di BUMN. Statusnya mantan napi tidak masalah, yang menjadi masalah statusnya sebagai kader partai politik.