Diabetes Tipe 2 Kini Mengincar Anak Muda

Diabetes tipe 1 dikenal sebagai penyakit autoimun yang berkaitan dengan faktor genetik
Diabetes tipe 2 semakin banyak terjadi pada orang muda berusia di bawah 40 tahun. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari. (Foto: dw.com/id - MiS/IMAGO)

TAGAR.id – Diabetes tipe 2 tak lagi identik dengan usia tua. Kasus pada anak muda terus meningkat secara global, dengan kelompok usia 15–19 tahun mencatat lonjakan terbesar. Apa yang membuat generasi muda semakin rentan? Carla Bleiker* melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW, 12 Agustus 2026).

Benarkah diabetestipe 2 hanya menyerang orang tua? Selama ini, diabetes tipe 1 dan tipe 2 dianggap memiliki perbedaan yang cukup jelas. Secara sederhana, diabetes tipe 1 dikenal sebagai penyakit autoimun yang berkaitan dengan faktor genetik dan umumnya muncul pada usia muda. Sementara itu, diabetes tipe 2 lebih sering dikaitkan dengan usia yang lebih tua, terutama pada mereka yang berusia 50-an atau 60-an, serta dengan gaya hidup yang tidak sehat.

Namun, batas usia tersebut kini mulai kabur.

Semakin banyak orang muda yang didiagnosis menderita diabetes tipe 2. Di Inggris, misalnya, peningkatan kasus baru yang paling signifikan justru terjadi pada perempuan muda.

Temuan tersebut diperoleh setelah tim peneliti dari Imperial College London menganalisis data English National Diabetes Audit untuk periode 2011 hingga 2024. Mereka menemukan bahwa prevalensi diabetes tipe 2 menurun pada kelompok usia 60 hingga 79 tahun, tetapi justru meningkat pada kelompok usia di bawah 40 tahun.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Regional Health – Europe itu menunjukkan bahwa peningkatan paling tajam terjadi pada perempuan kulit putih, Asia, dan kulit hitam berusia 20-an, serta pada perempuan kulit putih berusia 30-an.

“Sebagian besar pembahasan mengenai meningkatnya diabetes tipe 2 pada usia muda berfokus pada kelompok etnis minoritas,” kata Shivani Misra, penulis utama penelitian sekaligus associate professor klinis bidang diabetes di Imperial College London.

“Meskipun kelompok etnis tersebut memang terdampak diabetes tipe 2 secara tidak proporsional dan lebih dini, kini kita juga melihat peningkatan kasus pada populasi kulit putih. Ini menunjukkan bahwa tantangan kesehatan masyarakat tersebut semakin meluas di berbagai kelompok usia.”

Ancaman besar yang mulai menjadi tren dunia

Mengapa diabetes yang selama ini identik dengan orang tua kini semakin banyak menyerang anak muda? Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara-negara Barat. Di tengah pola hidup yang semakin minim aktivitas fisik dan konsumsi makanan serta minuman tinggi gula, diabetes tipe 2 juga menjadi ancaman yang semakin relevan bagi generasi muda.

Di Jerman, misalnya, kasus diabetes tipe 2 pada anak dan remaja terus meningkat. Baptist Gallwitz, ahli endokrinologi sekaligus juru bicara German Diabetes Society (DDG), mengatakan tren tersebut terjadi di banyak negara.

“Diabetes tipe 2 meningkat di banyak negara,” kata Gallwitz kepada DW. “Pada dasarnya, ini adalah sebuah pandemi. Di Jerman, kami juga melihat peningkatan jumlah anak-anak dan remaja yang didiagnosis dengan penyakit ini.”

Antara 2014 dan 2023, kasus diabetes tipe 2 pada kelompok usia 11 hingga 17 tahun di Jerman meningkat rata-rata 5,8% per tahun, menurut laporan kesehatan mengenai diabetes yang diterbitkan DDG pada 2026.

Meskipun faktor genetik dapat berperan dalam perkembangan diabetes tipe 2, gaya hidup menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risikonya.

“Kita hidup di dunia di mana kita tidak cukup bergerak dan pola makan kita mengandung terlalu banyak gula dan kalori,” ujar Gallwitz. “Hal itu menyebabkan semakin banyak anak muda mengalami obesitas, yang pada akhirnya sangat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.”

Di Indonesia, diabetes tipe 2 juga mulai ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang paling banyak ditemukan pada kelompok usia produktif 18–59 tahun, dengan proporsi mencapai 52,1 persen.

Kementerian Kesehatan juga memperingatkan pada Mei 2026 bahwa diabetes tipe 2 yang sebelumnya identik dengan usia lanjut mulai mengancam generasi muda, termasuk yang ditemukan pada remaja.

Data Global Burden of Disease (GBD) 2021 memperkirakan bahwa 14,6 juta remaja hidup dengan diabetes tipe 2 secara global pada 2021. Angka ini berasal dari analisis yang mencakup populasi remaja dan menunjukkan bahwa diabetes tipe 2 telah menjadi beban kesehatan yang signifikan pada kelompok usia tersebut.

Pada penderita diabetes tipe 2, produksi insulin dapat berkurang atau tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin. Kondisi tersebut menyebabkan kadar glukosa dalam darah meningkat.

Sementara itu, diabetes tipe 1 ditandai dengan kerusakan sel-sel penghasil insulin sehingga tubuh mengalami kekurangan insulin yang berat.

Bisakah lonjakan diabetes tipe 2 pada anak muda dicegah?

Peningkatan kasus tersebut sangat mengkhawatirkan karena pada pasien berusia muda, perkembangan penyakit dapat berlangsung lebih serius dibandingkan dengan pasien yang lebih tua.

“Setiap diagnosis diabetes tipe 2 merupakan hal yang serius, tetapi penyakit ini dapat berkembang lebih agresif pada orang yang lebih muda, sehingga meningkatkan risiko komplikasi yang menghancurkan dan memperpendek usia harapan hidup,” kata Helen Kirrane dari Diabetes UK, organisasi yang mengampanyekan isu diabetes.

Karena itu, intervensi sejak dini menjadi penting. Gallwitz mengatakan DDG menyambut baik penerapan pajak terhadap minuman bersoda yang mengandung gula di Jerman, tetapi menilai kebijakan tersebut belum memadai.

DDG menyerukan penerapan sistem pajak pertambahan nilai (PPN) bertingkat. Buah dan sayuran segar sebaiknya tidak dikenai pajak, sementara PPN dinaikkan seiring dengan semakin tingginya kandungan lemak jenuh dan gula dalam suatu produk.

Organisasi tersebut juga menginginkan makanan yang lebih sehat tersedia di kantin taman kanak-kanak dan sekolah, serta satu jam aktivitas fisik wajib setiap hari dimasukkan ke dalam jadwal pelajaran.

Namun, meminta anak-anak untuk lebih banyak berolahraga di sekolah saja tidak cukup. Kondisi lingkungan secara umum juga perlu diperbaiki untuk menghentikan peningkatan diabetes tipe 2 pada perempuan muda, kata Alexandra Kautzky-Willer, kepala Divisi Endokrinologi dan Metabolisme di Medical University of Vienna.

“Lebih banyak bergerak itu penting, jadi kita perlu memastikan adanya kondisi yang memungkinkan perempuan beraktivitas dengan aman,” kata Kautzky-Willer, yang juga merupakan profesor bidang gender medicine, kepada DW.

Misalnya, perempuan yang takut mendapat catcalling, diejek karena berat badannya, atau bahkan diserang saat berada di luar rumah pada malam hari akan lebih kecil kemungkinannya untuk berlari setelah bekerja atau pergi ke pusat kebugaran.

Diabetes tipe 2 sering tidak terdiagnosis pada perempuan

Jumlah perempuan yang mengalami diabetes tipe 2 mungkin bahkan lebih tinggi daripada yang tercatat dalam data saat ini. Pada 2025, Kautzky-Willer dan seorang rekannya menulis laporan untuk Deutsches Ärzteblatt, jurnal medis Jerman, yang menyatakan bahwa penyakit tersebut kurang terdiagnosis pada perempuan.

“Laki-laki biasanya didiagnosis [menderita diabetes tipe 2] pada usia yang lebih muda,” tulis mereka. “Pada saat diagnosis, lebih banyak perempuan mengalami obesitas, lebih sering memiliki tekanan darah tinggi, dan mengalami kenaikan berat badan yang lebih besar” dibandingkan laki-laki.

Faktor-faktor tersebut juga berkontribusi terhadap peningkatan risiko stroke dan serangan jantung. Lalu, mengapa diabetes tipe 2 sering baru terdiagnosis pada perempuan ketika kondisi mereka sudah lebih buruk?

“Salah satu alasannya adalah pemeriksaan yang sering dilakukan dalam diagnosis awal diabetes adalah gula darah puasa,” kata Kautzky-Willer.

Gula darah puasa adalah kadar gula darah saat seseorang belum makan selama delapan jam. Namun, pemeriksaan tersebut hanya memberikan gambaran pada satu titik waktu dan dapat melewatkan lonjakan kadar gula darah setelah makan.

“Kadar gula darah puasa umumnya lebih rendah pada perempuan dibandingkan laki-laki,” kata Kautzky-Willer. “Akan lebih masuk akal jika dilakukan tes toleransi glukosa, tetapi pemeriksaan tersebut membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih banyak.”

Gula darah normal belum tentu bebas diabetes

Tes toleransi glukosa dilakukan dengan mengambil sampel darah beberapa kali dalam rentang waktu 2 jam. Selama periode tersebut, pasien harus tetap berada di fasilitas kesehatan.

Kautzky-Willer juga mengatakan bahwa pemeriksaan kadar HbA1c sebaiknya dilakukan. Tes HbA1c menunjukkan rata-rata kadar gula darah seseorang selama 2 hingga 3 bulan terakhir.

HbA1c mengacu pada hemoglobin terglikasi, yaitu kondisi ketika glukosa dalam tubuh menempel pada sel darah merah. Kondisi tersebut dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam menggunakan gula secara normal.

Kadar HbA1c yang tinggi menunjukkan bahwa seseorang memiliki terlalu banyak gula dalam darah dan memiliki risiko lebih besar mengalami komplikasi diabetes. Namun, pemeriksaan HbA1c membutuhkan peralatan laboratorium khusus dan lebih mahal dibandingkan pemeriksaan gula darah puasa.

Tes toleransi glukosa dan pemeriksaan HbA1c tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan di Jerman dan Austria. Hanya pemeriksaan gula darah puasa yang ditanggung. Kondisi tersebut mungkin turut memengaruhi jenis pemeriksaan yang tersedia bagi masyarakat di kedua negara tersebut.

Para ahli yang berbicara kepada DW sepakat bahwa untuk menekan angka diabetes tipe 2 pada orang muda, penting untuk mengetahui kapan kadar gula darah seseorang mulai mendekati ambang diabetes. Kondisi tersebut dikenal sebagai “prediabetes”.

Orang yang mengetahui masalah tersebut sejak tahap awal masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kondisinya. Melalui perubahan gaya hidup dan pola makan, perkembangan menuju diabetes dapat dihentikan dalam sejumlah kasus. Dengan demikian, seseorang dapat terhindar dari berbagai masalah kesehatan di kemudian hari yang mungkin memerlukan konsumsi obat secara rutin dan dapat menyebabkan penurunan harapan hidup. (Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris/Diadaptasi oleh Rahka Susanto/Editor: Rizki Nugraha)/dw.com/id. []

*Carla Bleiker Editor, channel manager, dan reporter yang berfokus pada politik AS dan sains@cbleiker

Berita terkait
Jumlah Penderita Diabetes di Indonesia Terus Meningkat
Prevalensi diabetes di Indonesia semakin meningkat, dan negara ini termasuk dalam lima besar dunia dengan jumlah kasus diabetes tertinggi