UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Setelah Dua WNI Positif Corona
Di mana perbedaannya antara DBD, stroke dan jantung, kecelakaan dan virus corona? Perbedaannya ada di benak kita. Tulisan Denny Siregar.
Warga beraktivitas menggunakan masker di kawasan Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta, Senin, 2 Maret 2020, setelah adanya pengumuman 2 orang di Depok positif corona. (Foto: Antara/Galih Pradipta)

Tahun 2019, selama sebulan ada 13 ribu lebih orang kena penyakit demam berdarah. 133 orang meninggal. Itu hanya bulan Januari saja. Bulan Januari 2020, ada 1.300 lebih kasus demam berdarah di Indonesia. 12 orang meninggal.

Tapi kenapa kita tidak panik, borong belanjaan di supermarket, lalu persiapan beli obat nyamuk berkarton-karton supaya tidak terkena?

Kita belum bicara tentang jumlah kematian karena stroke dan jantung yang disebut sebagai pembunuh nomor satu di dunia. Apalagi bicara tentang kematian karena kecelakaan di jalan raya.

Tapi kenapa kita biasa-biasa saja? Tetap makan soto betawi di pinggir jalan, tetap ugal-ugalan di jalan. Tidak ada kepanikan apa-apa, atau setidaknya mengingatkan, "Hati-hati, teman, jangan olahraga terlalu keras dan makan makanan berlemak."

Beda dengan virus corona. Baru dengar 2 orang positif kena virus saja, langsung panik dan belanja masker dengan harga berlipat, menimbun beras seolah mau kiamat dan mengurung diri di rumah takut ketularan.

Dibutuhkan ketenangan dalam menghadapi masalah, supaya efeknya tidak merambat ke mana-mana.

Di mana perbedaannya antara DBD, stroke dan jantung, kecelakaan dan virus corona?

Perbedaannya ada di benak kita.

Setiap hari kita diasupi berita meninggalnya sekian orang di China, Iran, Italia, dan di mana-mana. Lalu ada berita orang-orang jatuh, lalu mati di pinggir jalan. Semua terbangun menjadi satu dalam otak, dan terbangun kesimpulan, "Virus corona sangat mematikan."

Lalu ketika mampir ke negara kita, kita ikutan panik luar biasa. Padahal angka kematian dari penyakit lain di negara kita lebih gila.

Biasa sajalah. Tetap waspada tapi tidak perlu paranoid berlebihan. Panik biar "seperti orang-orang". Percayakan kepada pemerintah, enggak perlu sibuk menyebarkan isu tanpa keterangan.

Saya pernah ngobrol dengan seorang intelijen.

"Teroris itu hanya membunuh beberapa orang. Tapi efek ketakutannya bisa membunuh jutaan orang, bahkan ratusan juta dalam bentuk merosotnya nilai mata uang, pariwisata lumpuh, dan ekonomi anjlok sehingga banyak karyawan dirumahkan.

Itulah pembunuh terbesar, yaitu persepsi liar.

Dibutuhkan ketenangan dalam menghadapi masalah, supaya efeknya tidak merambat ke mana-mana."

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Tulisan ini sebelumnya telah di-publish di laman Facebook Denny Siregar dengan judul Corona Bukan Penyakit Mematikan

Baca juga:

Berita terkait
Psikolog, Tanggapi Corona Tidak Boleh Cemas Berlebih
Psiokolog Universitas Negeri Makassar, Ahmad Razak mengatakan, menyikapi virus corona tidak boleh terlalu cemas berlebihan. Ini alasannya.
Nama 100 Rumah Sakit Rujukan Pasien Virus Corona
Presiden Jokowi mengatakan pemerintah sangat serius menangani pasien terinfeksi virus corona jenis baru atau COVID-19.
Cara Membuat Masker Sendiri untuk Cegah Corona
tips alternatif lain yang dapat digunakan sebagai pengganti masker untuk menutup wajah menggunakan tisu basah.
0
Es Pisang Ijo, Menu Buka Puasa Khas Makassar
Salahs atu takjil yang paling laris dan paling diburu warga Makassar saat berbuka puasa adalah es pisang ijo