UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Saya Pernah di Posisi Helmy Yahya
Saya pernah di posisi Helmy Yahya, jadi saya sangat paham apa yang sudah dialaminya. Seperti memindahkan gajah bengkak. Tulisan Denny Siregar.
Helmy Yahya. (Foto: Instagram/Helmy Yahya)

Saya pernah dua tahun menjadi konsultan radio di sebuah daerah. Radio itu punya sebuah dinas pemerintahan besar. Ketika diminta untuk membantu mengembangkan radio itu, saya punya mimpi besar. Bayangkan, sebuah badan pemerintahan besar, dengan jaringan dan sumber daya besar, pasti akan lebih mudah untuk berkembang besar.

Tapi apa yang saya temukan di dalam? Seperti mendorong gajah bengkak! Mulai dari sumber manusianya para ASN yang sulit banget bergerak. Baru jalan kalau ada amplopnya, sampai pimpinan yang sibuk dengan proyek memanfaatkan keberadaan radio itu daripada membantu mengembangkannya.

Ampun, sungguh. Saya yang sebenarnya punya jiwa pantang menyerah, harus melambaikan tangan ke arah kamera juga. "Mending mikirin lainnya," gerutu saya waktu itu, menyesali dua tahun yang terbuang sia-sia memikirkan bagaimana memindahkan gajah bengkak yang pantatnya saja susah bergerak.

Jadi saya sangat paham apa yang sudah dialami Helmy Yahya. Sebagai seorang profesional, Helmy Yahya pasti punya harapan besar ketika awal memimpin TVRI. Secara infrastruktur, badan publik itu raksasa. Bayangkan, jaringannya menjangkau seluruh Indonesia.

Sebenarnya bagi Helmy tidak sulit untuk menjadikan TVRI sebagai media yang beberapa tahun lagi akan menjadi media besar.

Tapi yang dia temukan di dalam, Nauzubillah, jeleknya. Mulai dari peralatan yang sudah tua dan banyak yang hilang, sampai tenaga kerja yang sudah berusia, ketinggalan zaman dan sudah tidak produktif lagi. Saya membayangkan betapa ruwetnya PR membenahi TVRI itu. Belum banyak kadrunnya.

Helmy yang profesional harus berhadapan dengan tebalnya tembok birokrasi yang sebenarnya enggak pernah kerja tapi punya kuasa.

Helmy YahyaHelmy Yahya. (Foto: Instagram/@helmyyahya)

Tapi Helmy bisa. Tangan dinginnya berhasil mengembalikan kepercayaan publik yang sebagian besar berada di desa. Acara demi acara dia benahi, termasuk bagaimana mendapatkan hak siar Liga Inggris yang mahal itu dengan biaya yang lebih murah.

Hanya Helmy lupa. Ini bukan TV swasta. Ini media publik milik pemerintah yang sarat dengan kepentingan di dalamnya, mulai politik sampai proyekan.

TVRI harus tetap ada, tapi jangan lebih besar dari TV swasta yang sudah mengeluarkan modal besar dan masih susah payah mengembalikan semua. Sudah bingung dengan munculnya media digital seperti YouTube yang menggerus pendapatan, eh si TVRI malah pengen jadi saingan..

Ya, Helmy yang profesional harus berhadapan dengan tebalnya tembok birokrasi yang "sebenarnya enggak pernah kerja" tapi punya kuasa.

Helmy juga salah berhitung. Dia tidak pernah mengajak "main-main" proyek orang di tasnya. Dia cuman mikir kerja dan kerja, tanpa berpikir "bagi rezeki sama rata". Helmy juga bukan orang partai, tidak punya perlindungan yang tebal.

Akhirnya, jatuh berdebamlah dia. Dipecat dengan alasan, "Menayangkan acara Liga Inggris yang tidak sesuai jati diri bangsa".

What??? Yang benar??

Iya, benar. Harusnya Helmy tahu. Yang dimaksud jati diri bangsa itu adalah "saling mengerti, memahami situasi, dan berbagi rezeki".

Jati diri bangsa kita adalah suap kanan kiri, menjadikan aset negara seperti TVRI hanya menjadi perusahaan pribadi yang bisa membawa manfaat kantung tebal dan bisa dijadikan sapi perahan.

Itu jati diri bangsa, Helmy. Bukan membawa TVRI kembali menjadi media yang kompetitif dan menghasilkan keuntungan buat negara yang signifikan. Kalau itu jati diri bangsa lain, bukan bangsa kita yang dibentuk dari hasil sinetron azab yang mendayu-dayu.

Mending mikir kerjaan lain, Helmy. TVRI memang enggak boleh besar dan tidak akan besar. Yang membonsainya anak negeri sendiri. Biarlah mereka tetap begitu, diperkosa sampai hancur dan ditinggalkan dalam kondisi mati segan hidup tak mau.

Itu baru jati diri bangsa kita yang paling hakiki, Helmy.

Kelak datanglah lagi, kalau peraturannya sudah direvisi ulang, dan Dewan Pengawasnya sudah pada diganti.

TVRI itu bukan lagi gajah bengkak, tapi T-Rex yang kena penyakit beri-beri.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Tulisan ini sebelumnya sudah di-publish di laman Denny Siregar dengan judul Helmy Yahya, Mending Cari Kerja Lain Aja

Baca juga:

Berita terkait
TVRI Pecat Helmy Yahya Berujung Audit Investigasi
Komisi I DPR dan BPK akan melakukan audit investigasi ihwal pemecatan Helmy Yahya dari posisi Direktur Utama oleh Dewan Pengawas TVRI
Pecat Helmy Yahya, Komisi I DPR Panggil Dewas TVRI
Komisi I DPR diagendakan bakal memanggil Dewan Pengawas (Dewas) TVRI pada Selasa 21 Januari 2020, meminta penjelasan soal pemecatan Helmy Yahya.
Gara-gara Liga Inggris, Helmy Yahya Dipecat TVRI
Salah satu dasar pemberhentian Helmy Yahya dari posisi Direktur Utama TVRI oleh Dewan Pengawas adalah mengenai siaran Liga Inggris.
0
Omnibus Law Cipta Kerja, Bima Arya: Rezim Perizinan!
Wali Kota Bogor Bima Arya mengkritisi Omnibus Law Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja soal rezim perizinan Izin Mendirikan Bangunan (IMB).