Indonesia
Denny Siregar: Kami yang Dulu Silent Majority
'Kami adalah yang dulu mengikrarkan diri sebagai silent majority tetapi kami sekarang menolak diam lagi.' - Denny Siregar
Pekerja menyelesaikan pembangunan panggung jelang Konser Putih Bersatu di Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (12/4/2019). Acara yang digelar dalam rangka Kampanye Akbar Pasangan Capres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin tersebut akan menampilkan lebih dari 500 artis, musisi, budayawan, dan seniman. (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

Jakarta - Pemerhati politik Denny Siregar menyatakan akan hadir dalam kampanye akbar Jokowi-Ma'ruf di Gelora Bung Karno (GBK) pada Sabtu 13 April 2019. Ia menyatakan dirinya bagian dari yang dulu silent majority yang kemudian mendapat energi positif dari kehadiran Jokowi di percaturan politik nasional.

Sehari menjelang kampanye akbar Jokowi di GBK, Denny membuat catatan berjudul 'Pak Jokowi, Bapak Tidak Sendiri' di laman Facebook-nya, Jumat 12 April 2019.

Berikut ini isi catatan Denny Siregar selengkapnya, ditulis dengan gaya bertutur ditujukan pada Jokowi:

"Pak Jokowi, sudahkah dengar berita hari ini? Ribuan orang dengan bangga memposting persiapan mereka untuk ke GBK Sabtu nanti. Mereka berpose dengan ceria, tanpa ada rasa takut untuk mengawal Bapak kembali ke Istana.

Mereka datang dari Riau, Bali, Sulawesi, bahkan ada yang dari Papua. Mereka akan memenuhi jalan tol, pelabuhan dan bandara yang Bapak bangun untuk kita semua.

Bapak tidak sendirian. Kami tidak akan membiarkan Bapak sendirian melawan para mafia, politikus busuk, dan ormas radikal yang berkeliaran. Kami tahu kekuatan mereka besar, tapi kami akan menunjukkan bahwa kami lebih besar dari mereka.

Kami adalah yang dulu mengikrarkan diri sebagai Silent Majority tetapi kami sekarang menolak diam lagi.

Percayalah, Bapak. Bapak bukan lagi sosok yang kami kenal, tetapi Bapak adalah simbol perjuangan.

Bapak adalah anak reformasi yang sudah kami perjuangkan di tahun 98 dengan darah dan nyawa mereka yang hilang. Kami bukan saja mengawal Bapak, kami mengawal negeri ini, supaya pembangunan merata dan saudara kami merasakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kami ada, Bapak. Kami bukan pengecut yang disaat engkau dikeroyok dari segala sisi, kami diam tak berani. Siapa pun yang mencoba menjatuhkanmu, akan berhadapan dengan kami.

Bapakku Jokowi, engkau tidak sendiri.

Kami akan putihkan GBK untuk menunjukkan bahwa kami peduli. Kami adalah yang dulu mengikrarkan diri sebagai Silent Majority tetapi kami sekarang menolak diam lagi. Diam adalah tanda kekalahan disaat musuh negeri ini sedang berusaha memisahkan kami yang terdiri dari ras, suku bangsa dan agama yang berbeda.

Bapak Jokowi,

Percayalah, bahwa militansi mereka akan kami hadang dengan militansi kami. Kami menolak perpecahan, tetapi kalau mereka jual, kami akan beli. Tidak ada satupun kelompok yang boleh mendirikan negara agama, selain NKRI. Pancasila sudah harga mati, ada di darah kami, di jiwa kami dan ideologi kami.

Pimpin kami kembali, Pak Jokowi.

Pimpin kami membangun pondasi negeri ini. Sudah cukup lama kepala kami tidak tegak di luar, baru kali ini kami bangga sebagai anak negeri.

Saya di sampingmu, Bapak. Kami ada di sekelilingmu selama ini. Sekarang kami keluar dari zona nyaman, hanya untuk menunjukkan siapa kami.

Tunggu kami, Bapak. Kita akan ramaikan Gelora Bung Karno besok hari. Kabarnya yang mendaftar sudah 800 ribu. Ugh, bisa dibayangkan kondisi GBK dan sekitarnya saat itu.

Saya sekarang sedang bersiap, supaya sampai besok hari dan semoga mendapat tempat dekat denganmu supaya bisa melihat sosokmu nanti.

Salam dari kami. Salam secangkir kopi." []

Baca juga:

Berita terkait
0
Pembunuh Dosen di Makassar, Salat dengan Suami Korban
Sidang lanjutan kasus pembunuhan dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) yang menewaskan rekan kerjanya.