UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Demo Bela Somad
Mereka ingin kembali demo dengan konsep bela ulama, bela Abdul Somad. Demi menjaga tensi panas sebagai simbol perlawanan. Tulisan Denny Siregar.
Ustaz Abdul Somad di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta, Rabu, 21 Agustus 2019. (Foto: Tagar/Gemilang Isromi Nuari)

Oleh: Denny Siregar*

Sejak lama saya mengagumi kejeniusan strategi intelijen kita yang sekarang.

Bermula dari bagaimana cara mereka menelanjangi Bang Thoyib lewat aibnya daripada menangkapnya. Mereka paham, kalau Bang Thoyib ini ditangkap karena penistaan agama apalagi penghinaan kepala negara, dia pasti akan menjadi pahlawan. Dan perlawanan akan membesar sehingga mereka punya alasan untuk melakukan "revolusi".

Tapi kalau boroknya sudah dipegang dan dikuliti habis-habisan, yang ada malu tak tertahan. Maka kaburlah Bang Thoyib sampai sekarang gak pulang-pulang.

Ini strategi yang sangat cerdas daripada main pukul setiap kali ada aksi demonstrasi besar. Mendekat ke musuh, rusak pertahanannya dan hancurkan.

Dan terbukti sekarang. Jauhnya Bang Thoyib dari Indonesia membuat pertahanan kelompok radikal pelan-pelan meregang. Pengikat mereka sudah tidak ada lagi. Dulu konsep "Imam Besar" yang mereka sematkan diharapkan bisa jadi tombak perlawanan. Tapi nyatanya sekarang malah jadi "Imam Kebesaran".

Gamanglah kelompok ini sekarang.

Mereka mulai mencari-cari pegangan dan simbol baru untuk menyatukan barisan. Sempat Rocky Gerung mereka jadikan simbol perlawanan. Dielu-elukan di mana-mana dan dipromosikan lewat mesin propaganda di media sosial. Itulah kenapa setiap RG ngetwit hanya dengan kata "dungu" saja, retwit-nya bisa ribuan.

Mereka ingin kembali demo di jalan dengan konsep bela ulama. Mereka harus berusaha mempertahankan tensi supaya tetap panas dan menaikkan nama orang yang mereka akan jadikan simbol perlawanan.

Tapi RG Kristen. Dia sulit dijadikan pemimpin. Apalagi ngomongnya muter gada juntrungan. Mereka aja pusing, tapi karena biar dibilang pintar ya ngangguk-ngangguk aja kayak onta kelaparan.

Apalagi ketika Prabowo ditarik kelompok nasionalis, makin hancurlah harapan mereka. Supaya barisan tetap rapat, mereka pun menggelar ijtima ulama seri ke-4, mirip sinetron serial. Tapi inipun tidak bisa mengangkat performa mereka. Malah nama mereka semakin merosot karena terus menerus di-bully dan dibuang.

Akhirnya mereka mendapat mainan simbol baru lagi, yaitu Somad.

Untuk menaikkan Somad sebagai pahlawan, harus dibikin drama dulu supaya ada perlawanan. Dinaikkanlah video lama penghinaan dan disebarkan supaya ada reaksi kuat penentangan.

Apa yang mereka harapkan?

Reaksi keras dari umat Kristen di daerah di mana mereka mayoritas. Diharapkan ada persekusi pada umat berbeda agama di sana, dan mereka nanti akan turun ke lapangan dengan konsep "membela agama".

Tapi sayangnya, umat Kristen tidak tertarik dengan provokasi itu. Apalagi Persekutuan Gereja Indonesia PGI sudah mengabarkan tidak akan menuntut Somad. Kuciwalah mereka sekuciwa-kuciwanya.

"Wah, bahaya ini...," pikir kadal gurun sambil memainkan lidah panjangnya. "Video Somad yang kemarin viral dan tensi sudah naik, jangan sampai turun lagi. Nanti kita bisa gada proyek lagi," begitu pikiran mereka.

Itulah kenapa hari ini mereka ingin kembali demo di jalan dengan konsep "bela ulama". Mereka harus berusaha mempertahankan tensi supaya tetap panas dan menaikkan nama orang yang mereka akan jadikan simbol perlawanan.

Apa yang harus kita lakukan?

Sebagai warga yang humoris dan melihat semua masalah dari kacamata kelucuan, mending kita ketawain aja. Biar mereka aksi-aksi sendiri, marah-marah sendiri, bikin strategi sendiri. Kita pura-pura gak tahu aja, biar mereka senang.

Lagian kita menganut falsafah, "Lebih suka tegang di bawah, daripada tegang di wajah."

Seruput kopinya.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Video: Denny Siregar - Indonesia Berada di Ujung Perang Saudara

Berita terkait
Romo Magnis Tak Setuju Ustaz Abdul Somad Dipolisikan
Romo Magniz berpendapat, ceramah Ustaz Abdul Somad tentang salib dan jin kafir tidak perlu dibesar-besarkan.
GP Ansor Tanggapi Kontroversi Ustaz Abdul Somad
Ketua GP Ansor Gus Yaqut menanggapi dakwah kontroversial Ustaz Abdul Somad yang menyebut istilah salib dan jin kafir.
UAS: Apakah Saya Harus Minta Maaf?
Ustaz Abdul Somad akrab disapa UAS, tiba di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), di Jalan Proklamasi, Jakarta.
0
Revisi UU KPK, Jokowi Minta Masyarakat Bersuara ke DPR
Presiden RI Joko Widodo menyampaikan tanggapannya terkait keputusan Revisi Undang-Undang KPK. Ia mengaku, ide awal revisi tersebut dibawa oleh DPR.