Denny Siregar: Amerika yang Suka Mencampuri Urusan Negara Lain

Rizieq Shihab pulang ke Indonesia, apa ini bagian strategi Amerika setelah gagal merayu pemerintah Indonesia dan Nahdlatul Ulama? Denny Siregar.
Ilustrasi - Pemandangan Kota New York, Amerika Serikat, dilihat dari atas. (Foto: Tagar/Pikist)

Sejak lama sudah jadi rahasia umum kalau Amerika suka sekali mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Mereka bahkan membentuk badan yang khusus memperhatikan perkembangan politik di negara orang, siapa tokoh-tokohnya, termasuk memetakan kemungkinan konflik di negara itu yang bisa mereka pakai suatu waktu.

Jadi bisa dibilang, di mana ada Amerika, di sanalah potensi konflik akan terus dipelihara. Kita ingat tahun 1965, peran Amerika sangat besar terhadap konflik di Indonesia. Mereka susah sekali masuk ke Indonesia karena Presiden pertama kita Soekarno, menentang keberadaan pasukan-pasukan asing di negeri ini.

Slogan Soekarno yang terkenal, "Inggris kita linggis, Amerika kita seterika" yang dia keluarkan saat sidang PBB pada Januari 1965, sekaligus menarik Indonesia keluar dari PBB. Dan sesudah itu, seperti kita tahu, Oktober 1965 terjadilah peristiwa besar yang diperkirakan memakan nyawa 1 juta orang yang dikenal dengan gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia.

Soekarno kemudian jatuh, dan Soeharto naik menjadi presiden berikutnya. Dua tahun kemudian keluarlah kontrak karya pengelolaan tambang emas oleh perusahaan Amerika yang kita kenal dengan nama Freeport. Itu adalah negosiasi terbaik Soeharto dengan Amerika, karena dia tidak ingin pangkalan militer Amerika ada di Indonesia karena itu akan memicu keributan lain yang lebih besar nantinya.

Tapi tanpa pangkalan militer di Indonesia, Amerika tetap diuntungkan dengan tambang emas itu, yang membuat kekayaan mereka meningkat berlipat-lipat. Kita berpuluh-puluh tahun hanya menikmati kurang dari 10 persen hasil tambang. Itupun kalau dibilang ada keuntungan. Kalau enggak ada, ya manyun saja.

Dan sesudah kemenangan di perang dunia kedua itu, Amerika meluaskan wilayah pangkalan militernya ke seluruh dunia. Gratis? Ow tentu tidak. Semua pasti ada biayanya. Kalau enggak ditukar dengan pengelolaan tambang, ya negara yang ditempati pangkalan militer harus membayar "biaya keamanan" setiap tahunnya.

Pangkalan militer itulah salah satu pendapatan besar Amerika, karena di sanalah mereka mengatur strategi besarnya untuk negara yang mereka tempati. Indonesia adalah sedikit negara yang menolak Amerika menempatkan pangkalan militernya, dan bagi Amerika itu sebenarnya suatu kesalahan. Apalagi di tengah perebutan gelar "negara superpower" dengan beberapa negara besar.

Sebelum Uni Soviet runtuh, merekalah lawan terbesar Amerika untuk berebut pengaruh ke seluruh dunia. Masa itu sebelum Uni Soviet akhirnya runtuh dan menjadi hanya Rusia, kedua negara besar itu terlibat dalam perang yang disebut "perang dingin". Mereka saling menggertak untuk meluncurkan nuklir ke negara masing-masing yang akan memicu perang dunia ketiga. Untunglah tidak terjadi, karena tidak ada satupun di antara mereka yang mau dituduh sebagai pihak pertama yang menyulut perang dunia. Waktupun bergerak, Uni Soviet hancur dan sekarang perangnya sudah bukan lagi perang ideologi, tapi sudah berkembang ke arah perang ekonomi.

Riziek Shihab juga mau pulang ke Indonesia. Apakah ini bagian dari strategi Amerika, setelah gagal merayu pemerintah Indonesia dan Nahdlatul Ulama?

Dan tanpa Amerika juga dunia sadari, China membangun negaranya diam-diam dengan tangan besi. Dan mereka akhirnya menjadi negara superpower baru dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi karena didukung jumlah penduduknya yang sangat banyak, 1,3 miliar jiwa di sana. China dengan kekayaannya menjadi sangat ekspansif, menyebar ke mana-mana ke negara-negara yang tadinya menjadi pendukung Amerika. Negara-negara berkembang itupun sekarang melirik ke China, karena China ternyata lebih bisa diajak bicara dalam masalah ekonomi daripada Amerika.

Kalau Amerika gayanya preman dengan mengeruk kekayaan mereka terus dan meninggalkan jejak berdarah tempat mereka tinggal, kalau China lebih royal mengeluarkan duitnya untuk pembangunan ekonomi. Beberapa negara Afrika yang dulu terpuruk, seperti Etiopia dan Rwanda, yang dulu hancur karena kelaparan dan kejahatan, sekarang pelan-pelan bisa memakmurkan dirinya. Negara di Timur Tengah seperti Saudi Arabia pun mulai melirik ke China dan berteman dengan mereka. 

Amerika punya musuh baru bernama China. Perkembangan pesat China membuat Amerika panik. Apalagi China sekarang sedang melebarkan sayapnya dengan menyebar mata uang mereka, Yuan, supaya suatu saat akan menjadi mata uang internasional, menggantikan dollar Amerika yang sekarang masih dipakai dunia. Bagaimana cara China menyebarkan mata uangnya? Dengan memberikan bantuan ekonomi ke negara-negara berkembang seperti Indonesia, tapi dengan tidak memakai dollar sebagai transaksinya. Yang dipakai transaksi, ya mata uang China.

Ketika Donald Trump menjadi calon presiden, dia sudah merasakan kegelisahan itu. Dan Trump adalah seorang pebisnis, dia melihat itu sebagai peluang untuk menaikkan namanya. Maka China dipakai sebagai musuh utama untuk membangkitkan nasionalisme warga negara Amerika. Trump kemudian menang, dan dia terus memakai isu melawan China sebagai bagian untuk memelihara suara pendukungnya. Mulai masalah dengan pabrik handphone besar di China, Huawei, sampai masalah corona pun dia pakai terus untuk menyudutkan China.

Baru-baru ini Menteri Luar Negeri Amerika Mike Pompeo datang ke Indonesia. Apa agendanya? Tentu dia menawarkan pangkalan militer Amerika di Indonesia. Dan tentu saja ditolak oleh Indonesia, karena negeri ini menganut politik bebas aktif, tidak terikat kebijakan politik negara manapun, termasuk Amerika dan China.

Indonesia ingin berdiri sendiri dengan mengajak negara mana saja untuk berdagang dan meningkatkan ekonomi bersama-sama. Tapi Amerika jelas tidak puas. Mereka sudah kehilangan banyak negara yang dulu simpati kepada mereka dan sekarang beralih ke China. Amerika harus punya negara pendukung baru, seperti Indonesia supaya mereka tetap bertahan sebagai negara superpower.

Sejak lama sudah jadi rahasia umum kalau Amerika suka sekali mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

Dan Amerika gelisah, ketika Jokowi memimpin untuk kedua kalinya. Jokowi membuka luas hubungan perdagangan dengan China, dan ini alarm buat Amerika. Maka ditiupkanlah isu-isu anti China di Indonesia. Lewat siapa isu itu ditiupkan? Ya, lewat siapa lagi kalau bukan lewat partai oposisi, para pengusaha orde baru yang tersingkir, dan para kadrun yang butuh legitimasi.

Hubungan Amerika dengan para kelompok agamis ini sebenarnya bukan hubungan baru. Mereka memulai hubungan itu waktu perang melawan Uni Soviet di Afganistan. Karena sudah tidak punya biaya untuk mengggerakkan pasukan di sana, Amerika kemudian membiayai para mujahidin dengan dasar "membela negeri"nya.

Uni Soviet kewalahan dan kalah perang. Amerika lalu punya ide baru untuk menguasai sebuah negara dengan modal kecil dan keuntungan yang besar. Caranya? Ya biayai saja kelompok-kelompok radikal agama di negara masing-masing. Libya dan Suriah adalah contoh negara di mana mereka sibuk melayani kelompok intoleran berbaju agama yang ingin kudeta dan mendirikan negara Islam di sana.

Amerika ya pura-pura ikut perang, supaya kelihatan mereka peduli kemanusiaan, tapi di belakang layar merekalah yang menyalurkan senjata dan uangnya ke kelompok agamis itu dengan bahasa "berjuang meruntuhkan tirani". Begitu juga di negara kita, kita harus paham siapa sumber dari isu-isu "China dan antek aseng" dan lain-lain itu.

Dan siapa juga yang menggerakkan demo-demo besar dengan baju agama itu. Polanya mirip sekali dengan apa yang terjadi di Libya dan Suriah. Cuma, sepertinya hasilnya enggak bagus buat Amerika karena rakyat - terutama organisasi muslim terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama - masih ada di belakang pemerintahan yang sah. Itulah benteng yang besar dan kuat di mana Amerika tidak bisa menguasai Indonesia. 

Jadi saya percaya, datangnya Mike Pompeo ke sini dan bertemu dengan Ansor adalah bagian untuk meyakinkan NU supaya mau bekerja sama dengan Amerika. Dan saya sepertinya tidak salah, karena dalam kunjungannya ke Indonesia, Mike Pompeo terus berbicara tentang bahayanya China dan Partai Komunis mereka. Penting buat Amerika menguasai Indonesia, apalagi di sini ditemukan sumber energi baru pengganti minyak bumi, yaitu nikel yang menjadi bahan dasar baterai mobil listrik. Sebagai catatan ya, Indonesia sekarang adalah produsen nikel terbesar di dunia. 

Mike Pompeo, Menlu Amerika pulang dengan tangan kosong. Indonesia ternyata enggak bisa digertak. Pemerintahan Jokowi dan Nahdlatul Ulama masih kompak. Sedangkan kelompok radikal agama itu masih kecil dan tidak punya wibawa karena dikata-katain kadrun terus sama netizen yang budiman. Bukannya seram, mereka malah jadi kelihatan lucu dan imut-imut dengan kebodohan yang luar biasa. Tapi yang pasti, Amerika tidak akan berhenti. Mereka akan terus berusaha sampai keinginan mereka tercapai. Kalau perlu, negara yang melawan mereka harus rusak serusak-rusaknya. 

Saya dengar juga sih Riziek Shihab juga mau pulang ke Indonesia. Apakah ini bagian dari strategi Amerika, karena gagal merayu pemerintah Indonesia dan Nahdlatul Ulama? Bisa jadi. Karena polanya mirip dan tidak berubah dengan apa yang terjadi di beberapa negara di Timur Tengah, seperti Suriah. Kalau enggak bisa diajak berteman, ayo kita hajar saja Indonesia, begitu mungkin yang ada di pikiran mereka.

Situasi makin menarik, dan mungkin akan makin panas, karena China juga bisa jadi tidak tinggal diam ketika Amerika memaksakan kehendaknya di negeri ini. Indonesia bisa jadi medan pertempuran dari kedua negara besar itu. Dan mereka sudah pasti tidak akan menurunkan pasukannya di sini, lebih mudah dan murah membuat perang saudara supaya sesama kita saling menghancurkan dan ketika sudah hancur, mereka akan masuk ke sini sebagai pahlawan. 

Kita harus waspada. Seruput kopinya. 

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Berita terkait
Menunggu Hasil Perhitungan Suara Pilpres Amerika Serikat
Proses Pilpres AS telah lama usai, tetapi persaingan Donald Trump dan Joe Biden menuju Gedung Putih belum juga menunjukkan hasil yang final
Donald Trump Picu Skenario Kiamat di Pilpres Amerika Serikat
Skrenario kiamat yang ditakutkan di Pilpres Amerika Serikat mulai terwujud ketika Trump tertinggal dari Biden dengan memperkeruh penghitungan suara
China Mengaku Bersikap Netral di Pilpres Amerika Serikat
Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa negara itu bersikap netral atau tidak berpihak pada salah satu kandidat dalam Pilpres AS
0
Permintaan Risma Kepada ASN Kemensos di Hari Lahir Pancasila
Mensos minta semua teman-teman di lingkungan Kemensos menegakkan integritas. Bayangkan bila kita salah mengetik angka bisa merugikan negara.