UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Ada Rini Soemarno di Jiwasraya?
Kenapa Rini Soemarno waktu menjabat Menteri BUMN, menjadikan Hexana Tri Sasongko sebagai Direktur Utama Jiwasraya? Denny Siregar.
Rini Soemarno. (Foto: Instagram/@perikanannusantara)

Kalau mau merunut dari awal, kasus hilangnya uang nasabah sebesar 13 triliun rupiah di Jiwasraya itu tidak terjadi dalam satu hari, tetapi dampak panjang dari masalah lama.

Jiwasraya ternyata sudah lama rugi, tercatat sejak 1998, pada waktu krisis, di mana nilai rupiah kita anjlok ke titik paling bawah. Jiwasraya sempat menerbitkan produk untuk menarik mata uang dollar, tapi dia investasikan dalam bentuk rupiah. Ketika harga dollar meroket yang berarti dia harus bayar ke nasabah juga dalam bentuk dollar, maka ambruklah mereka.

Pada waktu itu, semua utang bank ditalangi oleh pemerintah tetapi asuransi tidak. Jiwasraya harus berdiri sendiri dengan kerugian besar. Sakit, tapi enggak ada yang mau mengobati.

Dan tahun 2008, Jiwasraya sempat minta bantuan obat kepada pemerintah. "Tolong dong, kami sakit nih." Utang Jiwasraya tercatat pada waktu itu sudah sebesar Rp 5,7 triliun. Sudah parah sebenarnya. Sempat, Menteri Keuangan waktu itu yaitu Sri Mulyani, mau menolong Jiwasraya tapi keburu ada kasus Bank Century. Si Century ini ternyata lebih parah, harus ditolong segera karena dampaknya sistemik. Jiwasraya pun tidak ditolong lagi. Kasihan sih, sebenarnya.

Nah, pesan pemerintah waktu itu, Jiwasraya harus bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Bagaimana caranya, ya mikir-lah. Pemerintah lagi susah juga.

Jiwasraya pun mikir, utak-atik semua skema bagaimana caranya supaya tidak gagal bayar ke nasabah. Poinnya sebenarnya di situ, TIDAK GAGAL BAYAR. Selama Jiwasraya masih bisa membayar klaim ke nasabah, kepercayaan nasabah masih terjaga. Karena nasabah tidak penting Jiwasraya sakit, yang penting setiap mereka klaim, Jiwasraya mereka anggap sehat.

Dalam bisnis asuransi pendapatan mereka cuma 2, yaitu premi dan investasi. Mereka menarik premi dari nasabah setiap bulan, dan uang premi itu mereka investasikan. Ada yang ke obligasi, ada yang ke properti, dan ada juga yang ke saham. Semua model perusahaan asuransi begitu, mereka dapat hasil dari keuntungan investasi yang duit investasinya didapatkan dari nasabah yang membayar premi.

Karena sedang sakit akibat rugi Rp 5,7 triliun dan sama sekali tidak dibantu pemerintah, Jiwasraya pun putar otak. Bagaimana ya caranya supaya terus bisa bayar klaim ke nasabah?

Akhirnya pilihan jatuh ke permainan saham. Kenapa harus saham? Karena hasil investasi dari obligasi dan properti, pendapatannya kecil, sedangkan yang mereka harus bayar ke nasabah setiap bulan besar. Jadi, yang memungkinkan untuk mendapatkan pendapatan besar ya main saham. Tetapi main saham pun ada levelnya, ada yang pedas sampai super pedas. Yang pedas biasa, dengan main saham blue chip, pendapatannya sama saja kecil, tidak bisa menutup kerugian.

Nah, yang lebih memungkinkan adalah main saham goreng dadakan. Itu model saham yang high return but high risk, cuannya gede tapi risikonya juga gede.

Oke, sudah dapat solusinya yaitu main saham gorengan. Tapi dari mana duit buat beli saham itu ? Di sinilah kemudian terbit produk baru bernama JS Saving Plan, yaitu produk asuransi tapi khusus untuk investasi. Beda dengan asuransi konvensional, JS Saving Plan khusus untuk mereka yang ingin dapat keuntungan dari investasi.

Jiwasraya harus menarik uang banyak dari masyarakat supaya mereka bisa investasi. Dan mereka juga harus bersaing dengan perusahaan asuransi lain, yang juga menerbitkan model yang sama. Bagaimana caranya supaya produk JS Saving Plan menarik minat orang supaya mau beli ? Ya, Jiwasraya harus menjanjikan return atau pengembalian nilai investasi yang lebih tinggi kepada nasabah. Istilahnya, nasabah harus diiming-imingi supaya mau investasi di Jiwasraya.

Kenapa Rini Soemarno yang waktu itu menjabat Menteri BUMN, malah menjadikan Hexana sebagai Direktur Utama meski dia minim pengalaman investasi di asuransi?

"Iming-iming" Jiwasraya adalah mereka menjanjikan keuntungan dua kali lipat dari pada nasabah investasi obligasi di Bank. Jiwasraya menjanjikan keuntungan sampai 10 persen kepada nasabah, kalau mereka mau beli produk JS Saving Plan.

Taktik mereka berhasil. Mata nasabah pun banyak yang ijo. Wah, asyik nih dapat keuntungan 10 persen, daripada duit gua taro di bank? Apalagi Jiwasraya adalah perusahaan plat merah, masa sih tidak percaya sama pemerintah ? OJK pun setuju. Jadi tidak ada masalah.

Nasabah pun ramai-ramai beli produk JS Saving Plan, dan Jiwasraya selamat, bisa membayar klaim nasabah sekaligus berinvestasi di saham gorengan supaya dapat cuan besar untuk menutup kerugian dari kasus lama. Jiwasraya lalu menghubungi Benny Cokro dan kawan-kawannya yang biasa main saham gorengan.

Tapi, yang namanya main saham, kadang naik kadang turun, kadang untung kadang rugi. Kalau Jiwasraya harus bayar 10 persen terus ke nasabah, mereka bisa ambruk lagi.

Akhirnya, Jiwasraya pelan-pelan menurunkan keuntungan yang dibagi ke nasabah. Dari 10 persen, turun 9 persen, sampai 6,5 persen. Yang menarik, bahkan dengan keuntungan 6,5 persen, nasabah masih mau beli produk JS Saving Plan. Kenapa ? Karena kepercayaan. Sekali lagi, unsurnya adalah kepercayaan. Jiwasraya tidak pernah gagal bayar kepada nasabah dan nasabah menganggap Jiwasraya sehat-sehat saja.

Bahkan Dahlan Iskan, yang waktu itu Menteri BUMN, di tahun 2012 sempat memuji Jiwasraya. "Hebat, kalian. Enggak perlu bantuan dana dari pemerintah, kalian bisa sehat sendiri." Semua berjalan lancar. Pemerintah senang, nasabah riang dan Jiwasraya bisa melenggang.

Mendadak tahun 2018, Direktur Utama Jiwasraya diganti. Masuklah Hexana Tri Sasongko sebagai Direktur Utama baru.

Hexana ini sebenarnya tidak punya pengalaman di asuransi. Rekam jejaknya, dia selama ini kerja di bank. Dan sialnya, model bank dan asuransi itu sangat beda. Kalau b tidak boleh bermain saham sedangkan asuransi boleh. Dan pengalaman Hexana di saham sangat minim. Di sini muncul pertanyaan, kenapa Rini Soemarno yang waktu itu menjabat Menteri BUMN, malah menjadikan Hexana sebagai Direktur Utama meski dia minim pengalaman investasi di asuransi? Apakah ada maksud tertentu, supaya Jiwasraya bangkrut? Entahlah, biar waktu yang menjawabnya.

Yang pasti, sesudah Hexana jadi Direktur Utama Jiwasraya, dia langsung mengumumkan bahwa Jiwasraya gagal bayar keuntungan investasi kepada nasabah.

Nasabah pun kaget. Kepercayaan kepada Jiwasraya hancur. Mereka ramai-ramai menarik investasinya di Jiwasraya. Terjadi rush besar-besaran. Jiwasraya yang biasanya hanya menanggung - anggap saja - 1 juta per tahun kepada nasabah, mendadak harus membayar 1 triliun saat itu juga. Jiwasraya yang masih miskin, tambah bangkrut lebih parah.

Saham yang mereka tanam, hasilnya belum maksimal karena krisis di tahun 2018. Masih rugi. Kalau ditarik sekarang, ya sudah pasti rugi besar. Coba ditunggu beberapa saat lagi, bisa jadi untung. Tapi tidak mungkin menunggu, karena terjadi penarikan besar-besaran dari nasabah yang tidak bisa menunggu.

Itulah kenapa Jiwasraya diumumkan rugi Rp 13 triliun. Rugi sebenarnya karena keputusan yang salah mengumumkan gagal bayar sehingga terjadi rush. Seandainya si Direktur Utama diam saja dan dengan tenang menghadap Menteri BUMN untuk menalangi Jiwasraya, tentu tidak akan seperti sekarang.

Tapi mungkin saja, ini hanya politik. Kalau kementerian yang harus menalangi, pasti masyarakat ribut enggak keruan. Akhirnya, diumumkan gagal bayar saja, dan timpakan semua masalah kepada Benny Cokro dan kawan-kawan. Biar mereka yang menanggung semua kerugian.

Benny Cokro yang biasa main gorengan saham, kali ini dia yang digoreng habis-habisan.

Wow, gile. Permainan tingkat tinggi, saudara-saudara. Apalah kita yang cuma remahan rengginang? Kita hanya cukup seruput kopi saja sambil terus memantau.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga:

Berita terkait
Korupsi Jiwasraya, Kejagung Dalami Peran 24 Saksi
Tim Jaksa Penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung kembali melakukan pemeriksaan terhadap 24 orang saksi.
Korupsi Jiwasraya, Eks Dirut BEI Diperiksa Kejagung
Kejagung memeriksa 13 orang saksi kasus dugaan korupsi Jiwaseaya. Salah satunya Eks Dirut BEI 20-2-2009 Erry Firmansyah.
Sengkarut Jiwasraya, Kadin Dukung OJK Dibubarkan
Alih-alih menjadi pengawas kredibel dalam menjaga uang masyarakat di perbankan, OJK malah menjadi duri dalam sekam, kata Waketum Kadin Bamsoet.
0
Denny Siregar: Ada Rini Soemarno di Jiwasraya?
Kenapa Rini Soemarno waktu menjabat Menteri BUMN, menjadikan Hexana Tri Sasongko sebagai Direktur Utama Jiwasraya? Denny Siregar.