Untuk Indonesia

Dapatkah Membangun Karakter Siswa untuk Dunia Kerja Kala Pandemi?

Keberadaan Abad ke-21 ditandai adanya era revolusi industri 4.0, Perubahan ini juga berlaku di bidang pendidikan,
Ilustrasi Society 5.0. Foto:Tagar/Goverment 2018)

Oleh: Dr. Ir. Vina Serevina, dkk, UNJ_2021

21st Century Skills

Keberadaan Abad ke-21 ditandai dengan adanya era revolusi industri 4.0 yang mana pada abad ke-21 menjadikan abad keterbukaan atau abad globalisasi. Perubahan ini berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Tak terkecuali di bidang pendidikan. Pendidikan di Indonesia memiliki nilai mutu yang masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Dengan kata lain diperlukan suatu paradigma baru dalam menghadapi tantangan-tantangan yang baru.

Tuntutan Perkembangan Pembelajaran yang Sejalan Dengan 21st Century dan Revolusi 5.0

Tidak dipungkiri kita sudah memasuki perkembangan zaman yang dimana teknologi sudah memasuki berbagai ranah kehidupan salah satunya dalam bidang pendidikan. Pendidikan abad 21 bertujuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa yaitu masyarakat Indonesia yang sejahtera dan bahagia dengan kedudukan yang terhormat dan setara dengan bangsa lain dalam dunia global.

Hal ini, tercapai melalui pembentukan masyarakat yang terdiri dari sumber daya manusia yang berkualitas yaitu pribadi yang mandiri, berkemauan dan berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita bangsanya. Disisi lain kita juga membutuhkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang mumpuni dan berkualitas dengan adanya SDM yang berkualitas diharapkan negara kita dapat bersaing dengan negara lain dalam dunia global.

Society 5.0Ilustrasi Toward Society 5.0. (Foto:Tagar/republika)

Peningkatan kualitas SDM melalui jalur pendidikan mulai dari pendidikan dasar dan menengah hingga ke perguruan tinggi adalah kunci untuk mampu mengikuti perkembangan Revolusi Industri 5.0. Kemajuan suatu bangsa tergantung dari kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa tersebut. SDM yang berkualitas menjadi salah satu modal utama dalam kemajuan suatu bangsa.

Menurut survey yang dilakukan oleh Boston Advanced Technologica Education Connection (BATEC) tahun 2008 tentang profil kebutuhan keterampilan disebutkan bahwa tuntutan dunia kerja tentang sulitnya mencari pekerja yang memenuhi kualifikasi, maka pebentukan SDM yang berkualitas dapat di mulai dengan pembentukan karakter yang dapat dilakukan di sekolah-sekolah.

Maka dari itu muatan pembelajaran diharapkan mampu memenuhi century skills, yakni 

1. Pengetahuan dan keterampilan yang beraneka ragam, berpikir kritis dan penyelesaian masalah, komunikasi dan kolaborasi, dan kreatifitas dan inovasi.

2. Keterampilan literasi digital meliputi literasi informasi, literasi media, dan literasi ICT.

3. Karir dan kecakapan hidup meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif, interaksi sosial dan budaya, produktivitas dan akuntabilitas, dan kepemimpinan dan tanggung jawab.

Hal ini juga sejalan dengan tren pendidikan 5.0 yaitu belajar dapat dilakukan dimanapun (E-Leraning), pembekajaran secara individual, siswa memiliki pilihan dalam menentukan Bagaimana mereka belajar, Pembelajaran berbasis project.

Tradisional & Flipped ClassroomIlustrasi Tradisional & Flipped Classroom. (Foto:Tagar/University of Washington)

Kemudian melakukan pengamatan dan pembelajaran dilapangan, Intepretasi data, Penilaian yang beragam, Keterlibatan siswa dalam menyusun kurikulum dan melakukan pembelajaran, Mentoring Pendampingan atau pemberian bimbingan kepada peserta didik.

Kemdikbud merumuskan bahwa paradigma pembelajaran abad 21 menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerjasama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah.

Blended Learning

Pandemi COVID-19 mempengaruhi berbagai bidang kehidupan termasuk pendidikan. Situasi ini menuntut pemerintah untuk membuat kebijakan baru, dimana guru memberlakukan pembelajaran kolaborasi antara tatap muka dengan pembelajaran online yang dinamakan dengan blended learning. 

Untuk mencapai keterampilan abad 21, trend pembelajaran dan best practices juga harus disesuaikan salah satunya adalah dengan menggunakan blended learning. Blended learning yaitu metode pembelajaran yang memadukan pertemuan tatap muka (classroom lesson) dengan materi online. Atau blended learning merupakan gabungan dari literasi lama dan literasi baru.

Blended LearningIlustrasi Blended Learning. (Foto: Tagar/UNCTAD)

Blended learning juga menciptakan kemandirian belajar dan tanggung jawab akademis peserta didik, menyiapkan siswa untuk menghadapi dunia yang berpusat pada teknologi, menghemat biaya belajar daring, meningkatkan kemampuan kolaboratif, menarik dan menyenangkan serta memicu keterlibatan secara penuh (fisik dan sosio emosional) peserta didik dalam proses pembelajaran. 

Metode ini juga berpusat pada siswa (student centered) dimana guru bukan lagi merupakan satu satunya sumber pengetahuan utama di dalam kelas Dalam model kelas ini, guru akan bertindak sebagai fasilitator bagi siswa, siswa akan mengumpulkan informasi sendiri, di bawah bimbingan guru.

Tren pendidikan 5.0 salah satunya adalah hadirnya kegiatan belajar pada waktu dan tempat yang berbeda, yang didukung oleh teknologi pembelajaran daring (online). Beberapa cara sederhana berikut dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran campuran (blended learning), antara lain: Flipped Classroom, Mengintegrasikan media sosial ke dalam ruang kelas, Khan Academy, Menggunakan Project Based Learnng, Moodle, Schoology.

Student CenteredIlustrasi Student Centered. (Foto:Tagar/RMIT University)

Pembelajaran yang dilakukan dengan blended learning, student centered dan melakukan diskusi serta tanya jawab siswa mengatakan bahwa mereka dapat dengan mudah membantu mereka untuk menyimpulkan sendiri solusi atau merangkum pemahaman konsep tentang materi yang akan dipelajari.

Sehingga inti dari pembelajaran akan lebih diterima karena telah melakukan brainstorming atau menemukan ide-ide baru serta mengasah kreativitas siswa, namun pembelajaran student centered dengan metode diskusi dan tanya jawab dapat membuat pembelajaran di kelas kurang kondusif karena banyaknya siswa yang berbicara dan melakukan perdebatan mengenai apa yang mereka jawab, maka disini peran guru sebagai fasilitator sangat penting untuk mencegah hal hal tersebut tidak terjadi. []

Berita terkait
Jerome Polin Puji Langkah Nadiem Makarim Sebagai Mendikbud
YouTuber Jerome Polin memuji langkah Nadiem Anwar Makarim sebagai Mendikbud.
Program SMK Pusat Keunggulan Kemendikbud Tuai Dukungan
Kemendikbud meluncurkan program SMK Pusat Keunggulan. Sejumlah dukungan terus mengalir dari pengusaha, Lembaga Pendidikan sampai Kemendagri.
Program Peningkatan D3 ke D4 Kemendikbud
Kemendikbud meningkatkan program D3 menjadi Sarjana Terapan D4 yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri.
0
China Tuduh Amerika Politisasi Asal Muasal Virus Corona
China mengecam langkah Amerika Serikat melacak asal muasal virus corona yang disebut China sebagai “mempolitisasi” pelacakan