Dampak yang Dahsyat Bagi Manusia Akibat Perubahan Iklim

Perubahan iklim akan membawa efek yang sangat dahsyat terhadap manusia sebagai penghuni di Bumi
Badai dan Petir Makin Intensif (Foto: dw.com/id)

Jakarta - Perubahan iklim akan membawa efek dahsyat terhadap manusia sebagai penghuni Bumi. Penerbangan, pelayaran dan aktivitas sehari-hari terancam bahaya berbagai fenomena alam ekstrem dan dampaknya.

Badai dan Petir Makin IntensifBadai dan Petir Makin Intensif (Foto: dw.com/id)

Badai dan Petir Makin Intensif - Energi panas beraksi seperti bahan bakar bagi awan badai. Jika temperatur global terus naik, aktivitas badai dan petir akan makin intensif. warga di kawasan badai akan makin menderita. Jumlah kebakaran hutan akibat sambaran petir akan meningkat. Petir ciptakan gas rumah kaca NOx di atmosfir yang secara tak langsung meregulasi gas rumah kaca lainnya, seperti ozon dan methana.

Gunung Es Sumbat SamudraGunung Es Sumbat Samudra (Foto: dw.com/id)

Gunung Es Sumbat Samudra - Gletser di Greenland lumer dan pecah menjadi bongkahan gunung es yang mengapung di samudra Atlantik Utara. Lembaga maritim internasional melaporkan, bulan April 2017 tercatat 400 bongkahan gunung es menghalangi jalur pelayaran. Naiknya temperatur memicu makin banyak gunjung es pecah dan mengapung ke laut terbuka.

Aktivitas Vulkanik MeningkatAktivitas Vulkanik Meningkat (Foto: dw.com/id)

Aktivitas Vulkanik Meningkat - Sepertinya tidak ada korelasi antara perubahan iklim dengan naiknya aktivitas gunung api. Nyatanya Bumi memiliki dinamika yang sulit diprediksi. Contohnya di Islandia, gunung api dan gletser sudah ko-eksis puluhan ribu tahun. Saat lapisan es setebal 2 km mencair, tekanan terhadap kerak Bumi berkurang dan akibatnya aktivitas vulkanisme dan magmatisme meningkat tajam.

Gurun Makin Gersang dan MeluasGurun Makin Gersang dan Meluas (Foto: dw.com/id)

Gurun Makin Gersang dan Meluas - Gurun pasir sebetulnya penuh dengan kehidupan. Baik di tingkat bakteria maupun flora dan fauna khas. Tapi jika suhu terus naik, koloni bakteri akan musnah, dan juga flora dan fauna gurun mati. Akibatnya gurun makin gampang dilanda erosi dan terus meluas.

Turbulensi Udara Makin HebatTurbulensi Udara Makin Hebat (Foto: dw.com/id)

Turbulensi Udara Makin Hebat - Perubahan iklim akibat aktivitas manusia juga memiliki kaitan dengan makin hebatnya turbulensi udara di atmosfir. Penelitian yang dilakukan Universitas Reading, Inggris meenunjukkan, jika kadar karbon dioksida meningkat dua kali lipat, kasus turbulensi udara di jalur penerbangan akan naik sekitar 150 persen. Ini berarti ancaman risiko penerbangan juga meningkat.

Laut Jadi Keruh dan PekatLaut Jadi Keruh dan Pekat (Foto: dw.com/id)

Laut Jadi Keruh dan Pekat - Akibat perubahan iklim, curah hujan meningkat, dan sungai-sungai yang bermuara ke laut makin banyak membawa sedimen lumpur. Laut jadi keruh dan gelap. Fenomena ini sudah diamati terjadi di pesisir Norwegia. Dampaknya banyak flora dan fauna laut tidak lagi mendapat cahaya matahari dan mati.

Manusia Jadi Lebih Mudah StresManusia Jadi Lebih Mudah Stres (Foto: dw.com/id)

Manusia Jadi Lebih Mudah Stres - Situasi perasaan manusia juga amat peka terhadap perubahan iklim. Para hali psikologi sosial sejak lama mengamati fenomena makin hangatnya iklim dengan naiknya perilaku impulsiv dan aksi kekerasan. Terutama di negara kawasan khatulistiwa diamati orang makin mudah stres. Juga pemanasan global bisa memicu konflik global, akibat perebutan sumber daya alam seperti air dan bahan pangan.

Kasus Alergi Makin ParahKasus Alergi Makin Parah (Foto: dw.com/id)

Kasus Alergi Makin Parah - Makin hangat Bumi, di belahan Bumi utara musim semi datang lebih cepat dan musim panas tambah panjang. Dampaknya tanaman pemicu alergi makin panjang masa berbunganya. Penghitungan volume serbuk sari pemicu alergi diramalkan naik 2 kali lipat dalam tiga dekade mendatang. Artinya musim alergi juga tambah panjang dan penderitaan penderitanya makin parah.

Hewan Lakukan Evolusi Jadi KerdilHewan Lakukan Evolusi Jadi Kerdil (Foto: dw.com/id)

Hewan Lakukan Evolusi Jadi Kerdil - Hewan kecil, terutama mamalia, populasinya akan berkembang biak dengan cepat. Inilah respons evolusi yang lazim yang terlihat dalam beberapa periode pemanasan global jutaan tahun silam. Di zaman Paleocen hingga Eocen sekitar 50 juta tahun silam, saat suhu Bumi naik sampai 8 derajat Celsius, hampir semua mamalia "mengkerdilkan" diri untuk beradaptasi.

Penyebaran Benih Tanaman TerhambatPenyebaran Benih Tanaman Terhambat (Foto: dw.com/id)

Penyebaran Benih Tanaman Terhambat - Yang juga sering diremehkan terkait efek pemanasan global, adalah perilaku serangga, misalnya semut. Riset Harvard Forrest di Massachusetts menunjukkan, semut yang berperan dalam penyebaran benih tanaman, memilih tidak beraktivitas jika suhu naik. Juga kegiatan koloni melakukan sirkulasi nutrisi pada tanah berhenti. Semut akan aktiv lagi jika suhu kembali normal [ditor: Ineke Mules (as/ap)]/dw.com/id. []

Berita terkait
Amerika Desak Kerja Sama Global Untuk Perubahan Iklim
John Kerry, Utusan Khusus Presiden AS, untuk urusan iklim mendesak kerja sama antara AS dan China, serta negara-negara lain dalam perubahan iklim
Biden dan Trudeau Bahas Pandemi dan Ancaman Perubahan Iklim
Presiden Biden dan PM Trudeau bertemu secara virtual yang menandai era baru berupa pertemuan bilateral pertama yang dilakuan Biden
0
Mendagri Lantik Bupati dan Wakil Bupati Supiori, Serta Penjabat Bupati Boven Digoel
Mendagri melantik Yan Imbab & Nichodemus Ronsumbre sebagai Bupati dan Wakil Bupati Supiori juga Yimin Weya sebagai Penjabat Bupati Boven Digoel.