UNTUK INDONESIA
Corona, Relawan dan Pebisnis Bersatu Produksi APD
Dokter muda ternyata menangani pasien yang diduga positif virus corona tanpa memakai alat pelindung diri (APD).
Desainer Fashion Bety Tan (tengah) melakukan proses pembuatan Alat Pelindung Diri (APD) medis standar WHO, di Rumah Desain SkyGow, Purwokerto, Banyumas, Jateng, Selasa, 31 Maret 2020. (Foto: Antara/Idhad Zakaria)

JAKARTA - Dua minggu lalu, seorang dokter berusia 34 tahun meninggal terpapar virus corona Covid-19. Berita kematian dokter muda ini mengejutkan Bagus Pandega, seorang seniman instalasi di Bandung.

Dokter muda yang merupakan teman sekolah Bagus ternyata menangani pasien yang diduga positif virus corona tanpa memakai alat pelindung diri (APD). Ia pun tergerak untuk memproduksi APD yang sangat dibutuhkan para pekerja medis untuk menangani pasien.

Baca JugaPelatih Timnas Beri Bantuan APD Lawan Covid-19

Saya sedih dengan kematian teman saya dan petugas medis lainnya.

Seperti diberitakan dari Channel News Asia, Minggu, 5 April 2020, petugas kesehatan di Indonesia, seperti halnya di banyak negara sangat membutuhkan APD. Pengamat menyebutkan, kurangnya peralatan medis seperti APD menjadi salah satu penyebab meningkatnya petugas medis yang meninggal di Indonesia, yang menurut catatan berdasarkan data Jumat lalu mencapai 10 orang.

"Saya sedih dengan kematian teman SMA dan petugas medis lainnya. Jangan sampai banyak jatuh korban lagi," ucap Bagus kepada Channel News Asia.

Bagus yang merupakan alumni Seni Rupa Institut Teknologi Bandung itu memiliki bahan yang dibutuhkan untuk membuat pelindung wajah, lapisan pertama perlindungan wajah. "Saya berinisiatif memproduksi pelindung wajah. Ini lebih cepat ketimbang membeli peralatan karena banyak penjahit, banyak yang bisa dikerjakan di rumah," tuturnya.

Bekasi Cegah CoronaPetugas memeriksa suhu tubuh warga yang melintas di Jalan Bintara Raya, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, 4 April 2020, untuk mencegah penyebaran virus corona Covid-19. (Foto: Antara/Suwandy)

Seminggu lalu Bagus baru memperkerjakan satu orang Kini ia sudah punya tim produksi sekitar 15 orang yang tersebar di Bandung, Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Setiap orang memiliki tugas yang berbeda, dari mengurus pencetakan tiga dimensi (3D) hingga mendistribusikan produk akhir.

Berbekal printer 3D dan bahan-bahan seperti perisai akrilik, polylactide, dan polycarbonate, mereka telah menghasilkan sekitar 60 pelindung wajah untuk rumah sakit di Bandung. Kelompok ini bekerja secara gratis, tetapi menerima sumbangan untuk membeli materi.

"Sekitar 60 rumah sakit memesan alat pelindung wajah buatan kami," ucap Bagus sembari menambahkan waktunya kini difokuskan untuk memproduksi ADP karena dalam kondisi pandemi tidak bisa menggelar pameran seni.

Pada Senin, 30 Maret lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan Indonesia membutuhkan sekitar tiga juta APD hingga akhir Mei. Pada awal April, pemerintah telah mendistribusikan kurang dari 500 APD di seluruh Indonesia nusantara untuk 260 juta orang.

Jokowi menyebutkan, ada sekitar 28 produsen APD di Indonesia. Untuk itu, ia meminta agar produsen bisa memproduksi banyak APD untuk mengatasi kelangkaan peralatan medis itu.

Indonesia memiliki angka kematian Covid-19 tertinggi di Asia Tenggara, dengan setidaknya 191 orang. Indonesia menajdi salah satu negara dengan angka kematian tertinggi di dunia yaitu sekitar 8 persen.

Komunitas Womanpreneur

Karena APD langka, sebuah rumah sakit di kota Solo, Provinsi Jawa Tengah, berinisiatif memproduksi APD berupa jas hazmat. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memuji langkah ini dan mendorong pengusaha kecil dan menengah (UKM) untuk meniru langkah tersebut.

Ini telah mengilhami Irma Sustika, pendiri Komunitas Womanpreneur, untuk memobilisasi UKM untuk menghasilkan jas hazmat. Sejak 2010, organisasi non-pemerintah telah memberdayakan sekitar 15.000 wanita untuk berwirausaha, antara lain di bidang garmen.

Makanan Tenaga MedisKoki menyusun makanan yang disediakan untuk tenaga medis dan kesehatan di hotel Cempaka, Jakarta, Jumat, 3 April 2020. PT Jakarta Tourisindo menyediakan makanan untuk tenaga medis dan kesehatan yang menangani pandemi virus corona atau Covid-19. (Foto: Antara/Nova Wahyudi)

Di tengah pandemi Covid-19, Irma mendorong para produsen garmen untuk beralih membuat APD. "Ketika kami melihat foto-foto pekerja medis yang bertugas hanya menggunakan jas hujan, ini benar-benar memprihatinkan. Saya berdoa kepada Tuhan, kami harus melakukan sesuatu," tuturnya.

Sekitar 25 UKM terdorong untuk memproduksi jas hazmat. “Ini adalah bencana global. Kita tidak bisa bertindak sendiri. Kita harus bersatu dan bekerja bersama, ” kata Irma.

Para UKM ini menargetkan bisa memproduksi sekitar 10 ribu jas hazmat. Mereka melakukan riset untuk memastikan bahwa jas hazmat itu cocok. “Kami berbicara tentang kebutuhan medis. Kami tidak ingin staf medis berubah dari jas hujan menjadi memakai bahan yang bahkan lebih buruk, "katanya.

Produksi masker hindari PHK

Nur Falak, seorang pengusaha berusia 47 tahun di Solo, juga mengubah lini produksinya dari membuat pakaian menjadi memproduksi masker wajah. Ia mengaku usaha baru tidak direncanakan sama sekali.

“Tidak ada pekerjaan sama sekali. Dengan situasi saat ini, department store dan mal tempat saya biasa mengirim pakaian ditutup dan tidak ada pesanan sama sekali, ” ucap Nur.

Dia mulai membuat masker wajah untuk keluarganya. Nur juga mendapat pesanan dari teman adik perempuannya yang kesulitan mencari masker. Masker wajah yang dibandrol Rp 10 ribu mendadak banyak pesanan.

Simak Pula: RSUP Sardjito Yogyakarta Bikin APD Covid-19 Mandiri 

“Permintaan masker semakin banyak. Saya juga mulai menerima permintaan pembuatan jas hazmat," kata Nur, pemilik Amanda Garment.

Dengan memproduksi APD berupa masker dan jas hazmet, Nur kini bisa menggaji 45 karyawannya yang hampir saja di-PHK. Meskipun pandemi Covid-19 belum bisa diprediksi, ia berharap bisa segera berakhir. "Saya tidak menginginkan karyawan kehilangan pekerjaan karena pandemi Covid-19," tuturnya.[]

(Alvika Septianingrum)

Berita terkait
Penumpang Bus Meninggal di Jatim, Dievakuasi Pakai APD
Seorang penumpang bus di Jawa Timur (Jatim) tiba-tiba saja meninggal dunia. Lalu jenazah korban dievakuasi menggunakan APD.
Alumni SMA RK Budi Mulia Serahkan Bantuan APD ke RSUD Siantar
Alumni SMA RK Budi Mulia Pematangsiantar, Sumatera Utara, menyerahkan alat pelindung diri (APD) ke RSUD dr. Djasamen Saragih, Pematangsiantar.
Jawa Barat Kekurangan Alat-alat Kesehatan dan APD
Pasien positif Covid-19 terus bertambah termasuk ODP dan PDP membuat beberapa RS rujukan kekurangan alat kesehatan dan alat pelindung diri (APD)
0
Pandemi, Kredit Bank Jatim ke UMKM Naik 12,24 Persen
Bank Jatim mencatat pertumbuhan penyaluran kredit untuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebesar 12,24 persen menjadi Rp 6,46 triliun.